Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Wrexham

Sepak bola ternyata bisa menjadi opsi investasi yang seksi. Jadi mengapa para pengusaha tidak turun ke lapangan dan membangun klub sepak bola?
SHARE
Wrexham
SOLOPOS.COM - Suwarmin Direktur Bisnis dan Konten Solopos Group

Wrexham hanyalah kota kecil di Wales, tetangga dekat dengan Inggris. Jumlah penduduknya hanya 141.236 jiwa. Sumber lain menyebutkan, penduduknya hanya sekitar 56.000 jiwa. Tapi sejak tahun lalu Wrexham semakin dikenal. Gara-garanya adalah klub sepak bola mereka, Wrexham AFC.

Apa yang terjadi dengan Wrexham AFC? Sama sekali bukan karena prestasinya. Wrexham AFC hanya klub kecil. Wales punya beberapa nama besar di sepak bola, tetapi tidak ada yang bersangkut paut dengan Wrexham. Sebut saja Gareth Bale yang sampai saat ini masih bermain untuk Timnas Wales, atau Ryan Giggs, atau yang lebih senior, Ian Rush. Mereka jelas lebih dikenal daripada Wrexham AFC, klub kecil yang hanya punya stadion kecil dengan kapasitas 10.000-an tempat duduk. Bahkan saat ini mereka berada di level 5 kompetisi liga profesional Inggris. Wrexham berkompetisi di Liga Inggris, bukan di Liga Wales. Level 1 English Premier League (EPL), level 2 Championship, level 3 League 1, level 4 League 2 dan level 5 National League atau Liga Nasional.

PromosiNimo Highland, Wisata Hits di Bandung yang Mirip Santorini Yunani

Nama Wrexham AFC dikenal karena dibeli oleh dua aktor Hollywood Ryan Reynolds dan Rob McElhenney. Menurut The Guardian, dua orang ini mengakuisisi Wrexham AFC pada 21 Februari 2021. Banyak orang tahu Ryan adalah bintang Deadpool dan Deadpool 2, juga beberapa film lainnya. Sedangkan Rob menikmati perannnya sebagai aktor dan produser dalam serial komedi It’s Always Sunny in Philadelphia. Ini seperti Raffi Ahmad atau Gading Marten membeli klub sepak bola. Dan demikianlah yang terjadi.

Bagi aktor kaya semacam Ryan dan Bob, membeli Wrexham seharga 2 juta poundsterling tentu angka kecil. Tapi mengapa mereka memilih Wrexham. Klub ini jauh dari rumah mereka di Amerika. Mereka tak punya ikatan primordial apa pun dengan kota ini. Jika semata-mata demi uang, mereka bisa memilih klub lain yang lebih cepat menghasilkan. Seperti keluarga Glazer yang membeli Manchester United (MU). Belakangan ini sempat tersiar kabar keluarga Glazer memindahkan utang mereka menjadi beban MU. Atau Stan Kroenke yang membeli The Gunners Arsenal, atau Frank McCourt yang membeli Olympique Marseille (klub Prancis) pada 2016 lalu.

Ryan dan Rob seperti sedang iseng dengan membeli klub kecil yang berkandang di Stadion Racecourse Ground yang berkapasitas hanya 10.000 suporter. Bandingkan dengan kapasitas Stadion Manahan yang memuat lebih dari 20.000 penonton. Tapi Ryan dan Ron tidak sedang iseng atau bercanda. Mereka membeli klub ini dari tangan komunitas suporter Wrexham, yakni Wrexham Supporters’ Trust. Sebanyak 98% anggota komunitas suporter setuju untuk menjual klub kepada duet Ryan dan Rob.

Saat ini Wrexham AFC berada di peringkat ke-2 kompetisi National League yang baru memainkan 9 pertandingan. Divisi ini mempunyai 24 tim. Butuh waktu paling cepat 4 tahun untuk bisa menjangkau EPL. Tapi Rob dan Ryan bertekad akan membawa Wrexham berlaga di EPL. Stadion akan diperbaiki, pembinaan akan dilakukan, dan pemain bagus akan dibeli.

Dua Pelajaran

Ada setidaknya dua pelajaran berharga dari Wrexham AFC yang bisa kita petik. Pertama, siapa pun bisa membeli klub sepak bola di mana pun, dengan alasan apa pun, atau bahkan tanpa alasan. Bisa saja taipan Rusia tiba-tiba membeli klub Liga 3 Indonesia. “Berkah” dari perang Russia-Ukraina membuat sejumlah pengusaha menangguk untung gila-gilaan. Bisa saja mereka iseng lalu membeli klub Liga 3 Indonesia. Melihat orang Indonesia yang di luar dugaan lebih banyak bersimpati kepada Russia, bisa saja memantik ide iseng ini. Apalagi animo penonton sepak bola Indonesia luar biasa.

Di sisi lain, sepak bola ternyata bisa menjadi opsi investasi yang seksi. Jadi mengapa para pengusaha tidak turun ke lapangan dan membangun klub sepak bola? Beberapa pengusaha Indonesia justru membeli klub-klub luar negeri. Anak-anak muda yang kreatif bisa juga bergandeng tangan mengelola klub sepak bola. Jangan takutkan kerusuhannya. Di luar kabar kerusuhan yang acap kali terdengar di ranah suporter, sepak bola bisa menjadi alternatif investasi yang menarik.

Saya membayangkan, ada anak-anak muda yang membangun klub sepak bola bernama Wonogiri Power. Atau sebuah nama lain, misalnya Wonogiri Perkasa. Melengkapi klub dengan mengelola akademi sepak bola kelompok umur. Membangun komunitas suporter berbasis trah Wonogiri, dilengkapi dengan beberapa model bisnis kekinian dan selalu berbasis komunitas. Berkolaborasi dengan Pemkab Wonogiri untuk melengkapi stadion yang layak.

Sejumlah akademi sepak bola saat ini sudah mengarah ke sana. Mereka sadar, sepak bola di Indonesia sudah mengarah ke industri olahraga yang menjanjikan. Akan lebih menjanjikan lagi jika badan pengelola kompetisi terus melakukan perbaikan agar terwujud kompetisi yang benar-benar profesional: no politic, no drama, only soccer.

Pelajaran kedua, komunitas suporter bisa menjadi pemilik klub. Seperti Wrexham Supporter’s Trust yang memiliki Wrexham AFC sebelum diambil alih oleh duo Reynold dan Rob. Kelompok suporter seperti Pasoepati di Solo, atau Panser Biru di Semarang, atau kelompok suporter yang lain, bisa saja menggalang kekuatan untuk membangun klub. Dimulai dari bikin akademi sepak bola, lalu membangun tim Liga Nusantara, dan seterusnya.

Tentu sebelum memberanikan diri memulai ide itu, kelompok suporter harus mengorganisasi diri secara rapi dan profesional. Bangun organisasi harus bagus, misalnya berbadan hukum, punya anggota yang jelas dengan iuran anggota yang dikelola transparan dan profesional. Jika anggota suporter solid, saya yakin, mengelola klub sepak bola yang profesional bukan impian kosong.

Yang terpenting jangan lupa, bahwa membangun klub sepak bola yang berprestasi dan mapan, tidak bisa instan. Perlu proses dan banyak tahapan. Jangan seperti suporter anak-anak yang hanya pengin tim idolanya selalu menang.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode