Wow, Atlet Judo Wonogiri Tak Pernah Gagal Tembus PON Sejak 1989

Sejak 1989, Wonogiri belum pernah absen mengirim atlet judo ke ajang Pekan Olahraga Nasional atau PON, termasuk tahun ini di Papua.
Wow, Atlet Judo Wonogiri Tak Pernah Gagal Tembus PON Sejak 1989
SOLOPOS.COM - Atlet berlatih di Dojo Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) Gajah Mungkur Wonogiri, Lingkungan Cubluk RT 001/RW 004, Kelurahan Giritirto, Kecamatan/Kabupaten Wonogiri, belum lama ini. (Istimewa/Sutarto)

Solopos.com, WONOGIRI — Kabupaten Wonogiri tidak pernah absen mengirim atlet judo ke kontingen Jawa Tengah pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) sejak 1989 silam. Bahkan tak sedikit dari mereka yang memperoleh medali.

Sejumlah atlet juga mencapai prestasi di kancah SEA Games, pesta olahraga Asia Tenggara. Pelatih judo Kontingen Jawa Tengah yang akan berlaga di PON XX Papua 2021, 2-15 Oktober mendatang, Sutarto, 54, kepada Solopos.com, Jumat (17/9/2021), mengatakan tradisi tersebut terjadi sejak dirinya mampu menembus PON pada 1989.

Setelah itu warga Lingkungan Cubluk RT 001/RW 004, Kelurahan Giritirto, Kecamatan/Kabupaten Wonogiri, itu bekiprah di tiga kali PON, yakni 1993 dengan meraih medali perak, 1996 dan 2000 masing-masing menyabet medali perunggu.

Baca Juga: Wonogiri Kembali Masuk Zona Kuning Covid-19, Bupati Jekek: Ini Luar Biasa

Setelah Sutarto tampil di empat kali PON, pada PON berikutnya selalu ada atlet judo dari Wonogiri yang meneruskan tradisi tersebut sampai sekarang. Pada PON Papua 2021 ini atlet dari Wonogiri ada satu orang, yakni Damar Rizqi Wibowo yang akan bertanding di kelas 100 kg.

“Rumahnya tak jauh dari rumah saya. Dia anak didik saya sejak masih SD. Sekarang menjadi atlet senior,” ulas Sutarto melalui telepon.

Pada PON 2016 di Bandung, Jawa Barat, lalu ada empat atlet judo asal Wonogiri yang memperkuat kontingen Jawa Tengah, yakni Eko Muliyanto, Dewa Made, Sintia Kusuma, dan Desi Yudianti.

Baca Juga: Bupati Pastikan Pelajar SMP Wonogiri Mulai Divaksin Covid-19 Pekan Depan

Karate

Eko dan Dewa turun di nomor kata beregu. Sintia bertanding di kelas 78 kg lebih. Eko-Dewa dan Sintia sama-sama berhasil menyabet medali perunggu. Sementara langkah Desi terhenti karena kalah.

Selain berlaga di PON, terdapat dua atlet dari Wonogiri juga mampu menembus SEA Games. Bahkan, mereka mampu meraih medali. Mereka meliputi Daniel Krisna pada SEA Games 1995 di Thailand meraih medali perunggu.

Kemudian Desi Yudianti pada SEA Games 2014 di Jakarta-Palembang dan 2016 di Myanmar masing-masing agenda meraih medali perunggu.

Baca Juga: Vaksinasi Buruh Wonogiri Capai 85%, Sejumlah Perusahaan Masih Antre Vaksin

“Selain judo ada atlet dan pelatih cabor [cabang olahraga] lain dari Wonogiri yang mampu ke PON. Dulu ada pelatih voli. Pada PON Papua mendatang selain Damar [atlet judo] ada dua atlet karate yang juga akan berlaga,” ujar Sutarto.

Sutarto sudah tiga kali menjadi pelatih judo di kontingen Jawa Tengah untuk PON yakni PON 2012 di Pekan Baru, Riau; PON 2016 di Bandung, Jawa Barat; dan PON 2021 di Papua. “Ini kebanggan tersendiri bagi saya, para atlet, dan daerah. Bagaimana pun kami membawa nama Wonogiri. Semoga kami bisa memberi yang terbaik,” ujarnya.

Pembinaan Atlet

Informasi yang dihimpun Solopos.com, dua atlet karate dari Wonogiri yang akan berlaga di PON Papua, yakni Laila Nurul Humairoh, warga Dusun Krapyak RT 003/RW 007, Kecamatan Sidoharjo, dan Aliffa Milanisty, warga Dusun Simpar Wetan RT 001/RW 008, Desa Gemawang, Kecamatan Girimarto.

Baca Juga: Top Markotop! 3 Atlet Asal Wonogiri Bakal Berlaga di PON Papua 2021

Keduanya akan turun di nomor kata beregu. Sutarto menargetkan atlet judo Wonogiri yang dilatihnya dapat meraih dua medali emas pada PON Papua. Target itu dipasang dengan melihat potensi para atletnya.

Ia optimistis target tercapai. Pada dua agenda PON sebelumnya targetnya juga dua medali emas. Saat PON 2016 di Bandung target dua medali emas tercapai. Bahkan, saat itu selain meraih dua medali emas atlet juga meraih medali perak dan perunggu di beberapa kelas. Sementara, pada PON 2012 di Pekanbaru, Riau, atlet meraih satu medali emas.

“Menembus PON tidak mudah. Atlet harus disiplin latihan. Pembinaan atlet juga sangat penting. Saya membina atlet sejak mereka SD hingga taruna atau senior. Dengan begitu akan terlihat potensi yang dimiliki atlet. Seperti Damar itu potensinya jadi fighter. Setelah tahu potensi, atlet diarahkan agar fokus mengembangkan potensi,” kata Sutarto.

Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago