Wonogiri Zona Merah Covid-19, Ini Tanggapan Bupati Jekek
Solopos.com|soloraya

Wonogiri Zona Merah Covid-19, Ini Tanggapan Bupati Jekek

Status zona merah pada wilayah Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, ternyata di luar prediksi Bupati Joko Sutopo.

Solopos.com, WONOGIRI — Penetapan zona merah atau risiko penularan Covid-19 level tinggi terhadap Kabupaten Wonogiri, 23 Mei 2021 lalu, di luar prediksi Bupati, Joko Sutopo.

Sebelum Wonogiri ditetapkan masuk zona merah, Bupati mengklaim persebaran Covid-19 landai dan terkendali. Atas kondisi itu dia memutuskan untuk membuka semua tempat wisata.

Saat ditemui Solopos.com di Sekretariat Daerah, Selasa (25/4/2021), Bupati menyampaikan, berdasar laporan yang diterimanya, hingga akhir pekan lalu tidak ditemukan adanya klaster penularan Covid-19 baru. Pada sisi lain penambahan kasus terkonfirmasi positif terpantau tak signifikan.

Dia menyebut kondisi tersebut dicapai berkat kerja keras semua pihak dalam memutus rantai penularan Covid-19 di Wonogiri. Oleh karena itu, dia yang juga Ketua Satuan Tugas atau Satgas Percepatanan Penanganan Covid-19 Wonogiri membolehkan pengelola membuka tempat wisata, mulai 24 Mei 2021 lalu.

Baca juga: Wisata Kuliner Pasar Doplang Slogohimo Batal Buka Lagi Gegara Status Zona Merah Wonogiri

Protokol Kesehatan

Syaratnya, pengelola harus memastikan protokol kesehatan dijalankan secara disiplin baik oleh pengelola maupun pengunjung. Pengelola juga harus mematuhi ketentuan pembatasan yang ditetapkan, seperti membatasi kapasitas/daya tampung pengunjung maksimal 50 persen.

Pelaksana harian atau Plh. Kepala Dinas Kesehatan Wonogiri, Mardiyanto, mengonfirmasi pernyataan Bupati. Menurut dia, persebaran Covid-19 di Wonogiri pekan lalu landai. Klaster baru penularan Covid-19, yakni di Tirtomoyo juga sudah hampir putus.

Pasar Tirtomoyo yang menjadi salah satu lokasi penularan Covid-19 sudah dibuka setelah sebelumnya ditutup selama lima hari. Seiring berjalannya waktu lebih kurang 40 warga Tirtomoyo yang terkonfirmasi positif Covid-19 orang sudah sembuh.

Kebijakan pembukaan tempat wisata itu lahir setelah dua hari Wonogiri ditetapkan masuk zona merah penularan Covid-19. Namun, ketika itu data peta risiko penularan Covid-19 yang dipublikasikan belum diperbarui. Sehari setelahnya data peta risiko penularan Covid-19 terbaru keluar. Bupati cukup kaget karena hal tersebut di luar dugaannya. Terlebih, dia belum menemukan hal apa yang menyebabkan Wonogiri masuk zona merah.

Baca juga: 5 SMA Swasta Terbaik di Kota Solo 

3 Indikator

Informasi yang dihimpun Solopos.com, penetapan peta risiko penularan Covid-19 berdasar tiga indikator, meliputi epidemiologi, surveilans kesehatan masyarakat, dan pelayanan kesehatan. Masing-masing indikator memiliki variabel.

Indikator epidemiologi mempunyai 10 variabel, seperti penurunan jumlah kasus positif dan probable pada pekan terakhir lebih besar sama dengan 50 persen dari puncak. Indikator surveilans kesehatan masyarakat memiliki dua variabel, seperti jumlah pemeriksaan sampel diagnosis meningkat dua pekan terakhir.

Sementara, indikator pelayanan kesehatan memiliki variabel, seperti jumlah tempat tidur di ruang isolasi rumah sakit atau RS rujukan mampu menampung hingga lebih besar 20 persen jumlah pasien positif Covid-19 yang dirawat di RS.

Baca juga: Ini yang Khas dari Nasi Pagar di Kecamatan Godong Grobogan

Wisata Wonogiri

Terlepas dari ditetapkannya zona merah penularan Covid-19 bagi Wonogiri, pengelola tempat wisata dan pedagang berharap Pemkab tetap membuka tempat wisata. Terlebih, saat ini sedang banyak warga menggelar hajatan. Mereka membutuhkan penghasilan lebih agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan jagong.

Pedagang oleh-oleh olahan ikan di Wisata Waduk Gajah Mungkur atau WGM, Tugi, 50, mengatakan selama Wisata WGM tutup sejak Maret 2020 dia dan para pedagang lainnya tak mendapatkan penghasilan. Berjualan di area wisata tersebut merupakan sumber pendapatan utama mereka.

Tugi berharap Wisata WGM tak ditutup lagi agar dia dan rekan-rekannya bisa terus berjualan di area wisata. Dia berjanji bakal disiplin menjalan protokol kesehatan. Dia sudah menyiapkan tempat cuci tangan. Selama berjualan dia selalu memakai masker.

“Mohon diperhatikan orang kecil seperti kami ini,” kata Tugi.

Sebagai informasi, jumlah warga terkonfirmasi positif di Wonogiri secara akumulasi hingga 27 Mei lalu tercatat 4.445 orang. Kasus aktif terdapat 184 kasus. Warga yang sembuh 4.016 orang, sedangkan yang meninggal dunia 245 orang.



Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler
Berita Terkini
Indeks
Berita Video
View All

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago