Wanita Rasakan Efek Samping Hubungan Intim Ini, Normal Enggak Ya?
Solopos.com|lifestyle

Wanita Rasakan Efek Samping Hubungan Intim Ini, Normal Enggak Ya?

Sejumlah wanita merasakan efek samping hubungan intim.

Solopos.com, JAKARTA--Sejumlah wanita mungkin bakal merasakan efek samping hubungan intim dengan pasangannya. Hubungan intim ini merupakan salah satu cara untuk membangun relasi harmonis bagi pasangan suami istri.

Namun pertanyaannya normalkah efek samping hubungan intim ini? Simak ulasannya di tips kesehatan kali ini.  Jangan khawatir, karena tanda-tanda di bawah ini adalah kondisi yang normal terjadi, meski Anda mungkin pernah bertanya-tanya.

Berikut ini efek samping hubungan intim badan yang dirasakan wanita sebagaimana mengutip klikdokter.com, belum lama ini:

1. Vagina kentut

Mungkin sebagian besar wanita pernah merasakannya, yaitu vagina melepaskan udara seperti kentut saat sedang hubungan intim. Ini disebut sebagai queefing.

Baca Juga:  Operasi 25 Jam, Kembar Siam Naifa dan Nayyara Berhasil Dipisahkan

Menurut dr. Fiona Amelia, MPH, dari KlikDokter, kondisi ini adalah hal yang normal. “Proses ini terjadi ketika banyak udara yang masuk ke dalam vagina, seperti saat berhubungan intim,” terangnya.

Beda dengan kentut melalui anus, udara yang keluar dari vagina tidak berbau karena tidak mengandung sisa metabolisme makanan maupun bakteri usus.

Jika ini dirasa mengganggu, Anda bisa mengubah posisi seks yang mana penis tak perlu masuk dan keluar dari vagina berulang-ulang.

2. Badan langsung lemas

Jika Anda pernah merasakan efek samping hubungan intim berupa badan lemas, Anda tak sendirian. Menurut Erin Basler-Francis dari The Center of Sexual Pleasure and Health, selama gairah seksual berlangsung, otak akan melepaskan kimia yang dapat menurunkan stres, membuat tubuh relaks, dan pada akhirnya mengantuk.

Dua “biang kerok” yang menjadikan badan lemas pasca berhubungan intim adalah vasopressin. “Vasopressin, ketika mencoba mengembalikan tubuh ke dalam keadaan homeostatis (keadaan mempertahankan konsentrasi zat dalam tubuh, khususnya agar darah tetap konstan), adalah hormon yang menimbulkan perasaan senang setelah orgasme dan dipercaya dapat meredakan stres,” kata Erin kepada Shape.

Baca Juga: Kenali Tanda Masker Perlu Diganti

Selain vasopressin, ada pula hormon prolaktin yang menyebabkan periode refraktori (pada seks, ini merupakan periode singkat istirahat sebelum bisa orgasme lagi), serta rasa kantuk.

3. Infeksi saluran kemih

Infeksi saluran kemih adalah efek samping yang paling sering dikeluhkan wanita pasca seks. Kondisi ini diyakini terjadi akibat gesekan selama seks yang membuat bakteri lebih mudah masuk ke kandung kemih lewat uretra.

Ditekankan oleh dr. Fiona, infeksi ini bisa terjadi kapan saja setelah melakukan hubungan intim. Gejala khasnya adalah, “nyeri di akhir berkemih, kencing seperti tidak tuntas yang membuat anyang-anyangan, nyeri perut, bawah, hingga demam. Bahkan, urine bisa keruh berwarna kemerahan hingga kecokelatan seperti teh yang menandakan perdarahan, dan berbau menyengat,” paparnya.

4. Vagina memproduksi banyak cairan

Squirting atau ejakulasi wanita adalah efek samping hubungan intim dan tak perlu dikhawatirkan. Menurut studi dalam jurnal Journal of Sexual Medicine pada 2007, ejakulasi wanita—yang berbeda dengan cairan yang keluar saat terangsang—adalah jumlah kecil cairan berwarna keputihan yang keluar sesaat sebelum klimaks dan punya karakteristik plasma prostat.

Baca Juga: 5 Manfaat Air Kelapa, Salah Satunya Bisa untuk Cegah Batu Ginjal

Bahkan, dalam studi lainnya dalam jurnal yang sama tahun 2015, peneliti mengetes cairan wanita pasca klimaks dan menemukan bahwa cairan tersebut sebagian mengandung urine, tapi mayoritas adalah plasma prostat.

5. Mengalami nyeri

Sejumlah wanita juga merasakan efek samping hubungan intim berupa rasa nyeri. Dalam Journal of Sexual Medicine (2015)  ditemukan bahwa 30 persen wanita mengalami nyeri selama seks vaginal. Mayoritas merasakan ketidaknyamanan ini di vagina atau di area sekitar pintu masuk vagina.

Nyeri bisa diakibatkan oleh beberapa hal, mulai dari vagina yang kurang terlubrikasi, hingga teknik thrusting.

Jika nyeri bukan berasal dari kondisi medis seperti infeksi ragi atau vulvodinia (nyeri kronis di vulva), solusinya mudah. Jika rasanya sangat nyeri, komunikasikan kepada pasangan dan berhenti sementara. Menggunakan lubrikan berbahan dasar air atau mengubah posisi juga bisa membantu.




Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler

Espos Premium
Berita Terkini
Indeks

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago