;

Walhi Jateng Minta PLTSa Putri Cempo Solo Disetop, DPRD: Tak Realistis!

DPRD Solo menilai permintaan Walhi Jateng agar proyek PLTSa Putri Cempo Solo disetop tidak realistis karena proyek sudah hampir selesai dan segera beroperasi.
SHARE
Walhi Jateng Minta PLTSa Putri Cempo Solo Disetop, DPRD: Tak Realistis!
SOLOPOS.COM - Aktivitas pekerja pada proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di kompleks Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, Mojosongo, Jebres, Solo, Selasa (25/1/2022). (Solopos/Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO — Ketua Komisi III DPRD Solo, YF Sukasno, mengatakan permintaan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atau Walhi Jateng agar proyek PLTSa Putri Cempo Solo disetop tidak realistis dan sulit untuk dipenuhi.

Hal itu karena saat ini proyek PLTSa Putri Cempo sudah hampir selesai dan akan mulai beroperasi pada April 2022. Sukasno mengatakan hal tersebut sesusai menyimak pemaparan hasil riset yang dilakukan Walhi Jateng mengenai proyek PLTSa di Mojosongo itu dalam audiensi di Gedung DPRD Solo, Selasa (22/3/2022) siang.

PromosiUMi Youthpreneur 2022 Bentuk Dukungan PIP Terhadap Wirausahawan Muda

Dalam audiensi itu, Walhi menyampaikan sejumlah hal yang membuat lembaga itu meminta agar PLTSa Putri Cempo dihentikan. Salah satunya mengenai dampak operasional PLTSa itu bagi masyarakat di sekitar TPA Putri Cempo.

Baca Juga: Walhi Jateng Minta Proyek PLTSa Putri Cempo Solo Disetop, Kenapa?

Dampak itu menyangkut nasib warga yang selama ini memulung sampah di TPA, keberlangsungan usaha ternak warga yang selama ini mengandalkan TPA Putri Cempo untuk pakan ternak tersebut. Selain itu juga terkait abu sisa pembakaran dan suara bising.

Sukasno mengatakan saat PLTSa Putri Cempo Solo beroperasi nanti, warga yang selama ini memulung sampah di TPA masih bisa melakukan aktivitas itu. Sampah yang masuk akan diletakkan di tempat khusus sebelum diproses dengan PLTSa.

Teknologi Gasifikasi

Sementara untuk ternak sapi yang selama ini dibiarkan berkeliaran di TPA Putri Cempo menurutnya ada dua opsi yang bisa dilakukan. Dua opsi tersebut yaitu mengandangkan ternak dengan dicarikan makan, atau ternak-ternak itu dibeli.

Baca Juga: PLTSa Putri Cempo Solo Ubah Teknologi, Jadwal Operasional Berubah?

“Untuk soal asap, sebetulnya kalau boleh saya jawab tegas karena itu teknologi gasifikasi, tidak akan ada. Tapi tetap ada sisa pembakaran, yaitu abu. Tapi tidak akan ada suara bising. Kami lihat sendiri di PSEL Benowo Surabaya,” katanya.

Sementara itu, berdasarkan catatan Solopos.com, pembangunan fisik sarana dan prasarana PLTSa di TPA Putri Cempo, Mojosongo, Solo, dimulai pada Oktober 2019. Pembangunan sempat terhenti karena pandemi Covid-19 yang mulai merebak pada Maret 2020.

PT Solo Citra Metro Plasma Power (SCMPP) selaku investor dan Pemkot Solo kemudian menandatangani adendum kontrak sehingga pembangunan PLTSa bisa dimulai kembali pada November 2020. Berdasarkan artikel di laman jatengprov.go.id, perpanjangan kontrak ditandatangani Asisten Perekonomian Pemkot Solo Agus Sutrisno dan Direktur SMCPP Elan Syuherlan, Kamis (19/11/2020) di Balai Kota Solo.

Baca Juga: Menteri ESDM Puji Teknologi Gasifikasi di PLTSa Putri Cempo Solo

Pujian Menteri ESDM

Sejak itu, SMCPP mulai mendatangkan berbagai peralatan dan teknologi yang dibutuhkan untuk mengolah sampah menjadi tenaga listrik. Teknologi yang digunakan pada PLTSa Putri Cempo Solo yakni gasifikasi atau proses konversi kimia yang diklaim tidak menimbulkan asap dan tidak perlu cerobong asap.

Teknologi itu mendapat pujian dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif yang mengunjungi TPA Putri Cempo untuk melihat langsung progres pembangunan PLTSa, Selasa (25/1/2022) lalu.

“Di Indonesia, hanya dua yang perkembangannya terlihat. Di PLTSa Benowo dan di sini. Tapi, teknologi di sini lebih baik ya, menggunakan gasifikasi, kalau di Benowo memakai insinerator,” katanya kepada wartawan di sela kunjungan tersebut.

Baca Juga: PLTSa Putri Cempo Solo, Puluhan Kontainer Material Mulai Berdatangan

PLTSa Putri Cempo Solo ditargetkan beroperasi pada April 2022 dengan kapasitas produk awal 2 Megawatt dan diharapkan bisa naik menjadi 8 Megawatt pada Desember 2022 mendatang.

PLTSa yang dibangun senilai Rp336 miliar tersebut membutuhkan pasokan sampah lama 250 ton per hari dan sampah baru 295 ton per hari. Kebutuhan sampah nantinya akan dipenuhi dari sampah dari Kota Solo dan kabupaten sekitar.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago