Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Walah, 75 SMP di Gunungkidul Kekurangan Murid Baru dalam PPDB 2022

Puluhan SMP di Kabupaten Gunungkidul kekurangan murid baru pada saat PPDB 2022.
SHARE
Walah, 75 SMP di Gunungkidul Kekurangan Murid Baru dalam PPDB 2022
SOLOPOS.COM - Upacara perdana siswa baru SMP Negeri 24 Solo, Kamis (9/7/2015). (Dok/JIBI/Solopos)

Solopos.com, GUNUNGKIDUL — Puluhan sekolah tingkat SMP di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta, mengalami kekurangan murid baru pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2022-2023. Bahkan, hanya ada 32 sekolah yang memenuhi kuota penerimaan murid baru.

Hadil PPDB tahun ajaran 2022-2023 telah diumumkan pada Jumat (24/6/2022), data dari Dinas Pendidikan Gunungkidul, SMP baik swasta maupun negeri yang mengikuti PPDB online ada 107 sekolah. Hasil PPDB menyebut sekolah yang memenuhi kuota penerimaan murid baru hanya 32 sekolah.

PromosiBorong Penghargaan, Tokopedia Jadi Marketplace Favorit UMKM

Sedangkan 75 sekolah lainnya mengalami kekurangan murid baru. Kekurangannya pun bervariasi, ada yang kekurangan satu murid hingga ada yang mengalami kekurangan murid puluhan orang. Secara rinci, sekolah yang mengalami kekurangan murid, 36 sekolah negeri dan 39 sekolah swasta.

Untuk sekolah negeri, kekurangan murid terbanyak ada di MTs Negeri 2 Gunungkidul. Dalam PPDB 2022, sekolah ini membuka sebanyak 128 kursi, namun pada saat pengumuman hanya mendapatkan 41 anak. Sehingga kekurangannya sebanyak 87 anak.

Baca Juga: Siap-Siap! Tilang Mobile Segera Diberlakukan di Gunungkidul

Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Gunungkidul, Tijan, mengatakan ada 75 SMP di Gunungkidul yang kekurangan murid. Hal ini terlihat dari jumlah murid baru yang diterima dibandingkan daya tampung yang tersedia. Adapun sekolah yang dapat memenuhi daya tampung sebanyak 32 SMP.

“Memang banyak, tetapi untuk kekurangan paling banyak di sekolah swasta. Untuk negeri juga ada, terutama yang berada di pinggiran,” katanya, Minggu (26/6/2022).

Menurut dia, penerimaan murid baru masih didominasi zonasi sebesar 50%. Sedangkan jalur perpindahan orang tua 5%, prestasi 30% dan afirmasi 25%. Selain itu, dinas pendidikan juga membuka  kelas khusus olaharga (KKO).

Meski demikian, Tijan mengakui, tidak semua sekolah membuka kelas ini karena pelaksanaan hanya di SMP Negeri 1 Saptosari, SMP Negeri 1 Playen, SMP Negeri 1 Ngawen, dan SMP Negeri 1 Rongkop.

Baca Juga: Pakai Sandal Jepit, Ratusan Pengendara Motor di Gunungkidul Ditegur

“Antusias siswa masuk lewat jalur ini terhitung tinggi. Untuk data pasti bisa dilihat di masing-masing sekolah,” katanya.

Sekretaris Dinas Pendidikan, Gunungkidul, Winarno, mengatakan kekurangan murid baru di jenjang SMP sebenarnya sudah diprediksi sejak persiapan PPDB. Menurutnya, daya tampung yang dimiliki lebih banyak dibandingkan calon murid dari lulusan SD.

Dia mencontohkan untuk tingkat SMP daya tampung yang dimiliki (gabungan sekolah negeri dan swasta) sebanyak 10.676 anak. Namun, jumlah murid yang diterima sesuai dengan hasil dari PPDB online hanya 7.106 anak.

“Kondisi kekurangan murid juga terjadi pada sekolah di tingkat SD,” katanya.

Berita ini telah tayang di Harianjogja.com dengan judul Miris, Mayoritas SMP di Gunungkidul Kekurangan Murid



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode