[x] close
Wajah Pendidikan Kita
Solopos.com|kolom

Wajah Pendidikan Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 3 Mei 2021. Esai ini karya Anicetus Windarto, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Realino Sanata Dharma Yogyakarta.

Solopos.com, SOLO -- Terkait Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2021, menarik untuk mengkaji ulang bagaimana sesungguhnya wajah pendidikan (tinggi) yang selama ini telah membentuk generasi muda Indonesia. Bukan kabar burung belaka bahwa dunia pendidikan selama ini masih terperangkap dalam sebuah model sekolah (dan kampus) yang melelahkan dan seperti sebuah penjara.

Dalam sekolah atau kampus itu siswa (atau mahasiswa) maupun guru (atau dosen) sekadar ditempatkan sebagai mesin aplikasi yang digunakan untuk memenuhi beragam tuntutan akademis. Lebih parahnya lagi, yang kerap dituntut umumnya adalah kuantitas administratif daripada kualitas edukatif. Akibatnya, terjadilah apa yang disebut dengan gejala intoleransi dan agresi yang mengebiri nilai-nilai kemanusiaan, terutama dalam hal imajinasi anak-anak sekolah dan mahasiswa.

Dalam konteks ini, menarik untuk membandingkan dengan sebuah pengalaman yang ditulis Benedict Anderson dalam buku autobigrafinya berjudul Hidup di Luar Tempurung (Marjin Kiri, 2016). Pengalaman itu berkait dengan masalah di sebuah jurusan di sebuah perguruan tinggi yang menolak memberikan jabatan pengajar tetap bagi seorang dosen.

Masalah ini telah berlangsung selama 10 tahun dan tak seorang pun yang mampu mengatasinya, bahkan pejabat sekelas dekan. Usut punya usut, demikian Ben menulis pengalamannya, masalah itu terletak pada ketidaksamaan pandangan di antara staf pengajar di jurusan tersebut, selain karena alasan tidak suka dan tidak mau saling memahami.

Ironisnya, di jurusan yang secara disipliner mempelajari ilmu kejiwaan, justru menjadi indisipliner dalam menghadapi masalah yang hanya memfungsikan jurusan sebagai wadah administrasi dan anggaran. Cukup jelas bahwa dari tiga kelompok yang ada di jurusan itu, masing-masing para psikolog behavioris, psikoanalisis, dan sosial, sama-sama tidak memahami, apalagi mencoba memahami, apa yang dikerjakan dan dihasilkan oleh tiap-tiap kelompok.

Maka tak mengherankan kemudian terbangunlah blok-blok yang saling membatasi di antara ketiganya hingga akibatnya kandidat mana pun yang mau diangkat sebagai profesor, misalnya, akan dengan mudah diveto atau dianggap hina karena memiliki kedekatan dengan salah satu blok.

Pada titik inilah aura akademis dalam pendidikan telah kehilangan kontak secara disipliner. Tak jarang justru berubah menjadi sebuah ideologi baru bernama ”profesionalisme”. Hal itulah yang membuat pendidikan tinggi hanya berpretensi menghasilkan ”tikus teori” atau ”teoretikus” sebagaimana ditulis Ben sebagai kata pengantar dalam buku berjudul Indonesia dalem Api dan Bara karya Tjamboek Berdoeri (Elkasa, 2004).

Pretensi semacam itu distandarkan sedemikian rupa sehingga dalam setiap kuliah para mahasiswa diberi daftar bacaan yang ”secara profesional” sangat menekankan pada ”teori terkini”. Jadi, para mahasiswa yang telah dilatih, bukan dididik, dalam kelas-kelas itu secara ideal siap bersaing dalam apa yang mulai dikenal sebagai ”bursa kerja akademis”.

Katak dalam Tempurung

Gelar akademis mereka, bahkan PhD sekali pun, hanya menjadi sebuah kualifikasi profesi setara dengan dokter, pengacara, atau guru yang wajib lulus ujian profesi untuk bisa diberi izin praktik atau mengajar. Di bawah iklim seperti itu bukan kebetulan jika kultur profesionalisasi dan ekspansi besar-besaran akademis ke bursa kerja menjadi pilihan yang tak tertandingi.

”Nama-nama besar” dari dunia pendidikan tinggi menjadi semacam jimat atau mantra untuk membantu dalam pencarian kerja. Apalagi, jika nama-nama itu berasal dari jurusan atau program studi yang sesuai dengan kepentingan di bursa kerja seperti programming, broadcasting, atau bahasa asing.

Itu artinya hanya disiplin ilmu yang cocok dengan bursa kerja sajalah yang begitu diminati dan dijadikan sebuah keahlian. Hal ini bukan perkara malas atau bahkan egois, melainkan atas dasar pengamatan terhadap para staf pengajar, terutama para profesor, yang sudah terbiasa dengan profesionalisme.

Maka masuk akal jika semakin langka intensi yang kuat dalam kelas-kelas yang menawarkan mata kuliah dari disiplin-disiplin ilmu lain. Selain tak lagi banyak gunanya dalam meningkatkan perebutan peluang di bursa kerja, juga malah bisa membuat segalanya menjadi tampak ”amatiran”.

Hal inilah yang mengakibatkan sterilnya kajian dalam program studi/jurusan yang bersifat lintas ilmu (cross disciplinary), padahal dengan kajian seperti itu dimungkinkan adanya suatu  jaringan kontak/koneksi antardosen dan mahasiswa dari berbagai latar disiplin ilmu yang berbeda-beda. Dengan demikian, baik publikasi ilmiah maupun mata kuliah dapat diproduksi dengan lebih kaya dan beragam.

Yang tak kalah penting adalah meruntuhkan pagar-pagar disipliner agar dunia pendidikan tinggi tidak terkurung dalam tembok-tembok intelektual yang memberi batasan dan definisi terhadap keilmuannya belaka. Penting untuk dicatat bahwa kreativitas akademis hanya akan tumbuh dan berkembang jika paduan antara egoisme kebangsaan dan rabun jauh disiplin ilmu mampu diatasi dengan diskusi dan adu pendapat yang sepenuhnya sadar dan jeli terhadap asal-usul dan perkembangan zig-zag berbagai ilmu.

Dari pengalaman Ben di atas, kata ”disiplin” yang diikuti dengan kata ”ilmu” mempunyai sejarah yang terentang panjang di balik ketaatan para rahib abad pertengahan. Mereka tampak begitu kaku dan beku dalam menghukum diri sendiri dengan maksud menaklukkan raga sebagai musuh jiwa hingga tak memberi sedikit pun celah bagi “kelancangan” dan lanturan-lanturan tak relevan.

Hasilnya, seperti nasib para perempuan Tionghoa dalam tradisi lama, kaki-kaki mereka menjadi semakin mengecil dan sulit untuk digunakan lantaran harus dibebat erat-erat sepanjang hidup. Dunia pendidikan yang masih dibebani dengan berjubel hal-hal “terlarang” niscaya akan mengalami nasib serupa. Maka, hal yang jelas dan mendesak untuk dikerjakan adalah merobohkan tembok-tembok disipliner di kelas-kelas agar mutu dari peserta didik menjadi semakin meningkat sekaligus mengurangi kejemuan dan membuka jalan bagi mereka yang potensial untuk berkarya lebih jauh dan luas.

Dan inilah saat dan tempat yang tepat untuk mewujudkan pesan Ben berikut ini bagi generasi (terdidik) masa kini,”Katak-katak dalam perjuangan mereka untuk emansipasi hanya akan kalah dengan mendekam dalam tempurungnya yang suram. Katak sedunia, bersatulah!”


Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler
Berita Terkini
Indeks

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago