Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Waduh, Air Hujan di Jogja Mengandung Mikroplastik, Terparah di Tugu

Hasil penelitian dari Prodi Biologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogja menunjukkan air hujan di Kota Jogja mengandung mikroplastik.
SHARE
Waduh, Air Hujan di Jogja Mengandung Mikroplastik, Terparah di Tugu
SOLOPOS.COM - Cuaca cerah di Jogja saat libur panjang Imlek, Sabtu (17/2/2018). (Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja)

Solopos.com, JOGJA — Air hujan di Kota Jogja terdeteksi mengandung mikroplastik. Pencemaran paling parah terjadi di kawasan Tugu Pal Putih, Kota Jogja. Diduga pencemaran ini dipicu dari banyaknya kendaraan bermotor yang melintas di wilayah itu.

Temuan itu merupakan hasil penelitian mahasiswa dan dosen dari Prodi Biologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogja.

PromosiDaihatsu Rocky, Mobil Harga Rp200 Jutaan Jadi Cuma Rp99.000

Peneliti Biologi UAD, Safa Aulia Zahra, menjelaskan mikroplastik telah terdeteksi pada jalan raya di sepanjang garis imajiner atau Sumbu Filosofi yang membentang dari Bantul, Kota Jogja, hingga Sleman. Hasil penelitiannya menemukan kandungan mikroplastik tertinggi ditemukan pada sampel air hujan yang jatuh di kawasan Monumen Tugu Jogja dengan angka sebesar 393 partikel/L.

“Kemudian sampel yang kami amati pada jalan raya di depan Pasar Bantul yaitu 350 partikel/L, dan di Jalan Kaliurang kilometer 14 sekitar 322 partikel/L,” katanya melalui keterangan tertulis, Sabtu (13/8/2022).

Baca Juga: Angin Kencang Terjang Sleman,1 Rumah Roboh & 1 Anak Tertimpa Reruntuhan

Dosen Biologi UAD, Inggita Utami, menambahkan kandungan mikroplastik yang cukup mencengangkan itu salah satunya disebabkan padatnya kendaraan bermotor yang melintasi jalan raya di pusat kota dan kabupaten di DIY. Di sisi lain, penelitian University of Hamburg, Jerman, menghasilkan sumber utama mikroplastik di atmosfer salah satunya berasal dari abrasi ban kendaraan bermotor.

Temuan itu sesuai dengan fakta karakteristik mikroplastik yang ditemukan pada sampel air hujan di Kota Jogja yang berbentuk fiber atau serat, berwarna hitam, dengan ukuran 101 hingga 500 mikrometer. Adapun jenis polimer polipropilena yang menjadi polimer sintetis untuk pembuatan ban kendaraan.

“Sumber mikroplastik fiber di atmosfer dapat berasal dari limbah tekstil yang terhempas melalui udara. Industri tekstil yang kini banyak menggunakan serat sintetis, dapat melepas partikel mikrofiber ke atmosfer bahkan terbang menuju ke kawasan dengan jarak puluhan hingga ratusan kilometer,” kata alumnus Magister Sustainability Sains di Tokyo University ini.

Baca Juga: Piknik di Pantai Parangtritis, 2 Pelajar Semarang Terseret Ombak

Ia menjelaskan polimer sintetis fiber tersebut bisa tercampur air hujan memenuhi sumber air tawar di area DIY. Hasil riset tim peneliti Laboratorium Ekologi dan Sistematika UAD ini sudah membuktikan dominasi mikroplastik berbentuk fiber pada Sungai Progo yang melintasi Sleman dan Bantul.

Warga masyarakat khususnya yang menampung air hujan untuk kebutuhan sehari-hari diminta lebih waspada. Sebab, partikel mikroplastik berukuran 1 hingga 5.000 mikrometer harus tersaring dengan filter mikroskopis.

“Pemerintah daerah khususnya dinas terkait yang menangani masalah pencemaran lingkungan sudah seharusnya merumuskan kebijakan dari hasil temuan mikroplastik di DIY ini. Hingga saat ini, mikroplastik belum menjadi parameter yang perlu diukur dalam baku mutu lingkungan. Padahal, mikroplastik yang terakumulasi di tubuh makhluk hidup menyebabkan iritasi saluran pencernaan hingga bersifat karsinogenik,” katanya.

Berita ini telah tayang di Harianjogja.com dengan judul Penelitian: Air Hujan di Kota Jogja Tercemar Mikroplastik, Paling Parah di Tugu



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode