Waduh! 9 Daerah di Jateng Endemis Penyakit Kaki Gajah, 6 di Pantura

Sembilan kota dan kabupaten di Jawa Tengah tercatat menjadi daerah endemis filariasis atau dikenal sebagai penyakit kaki gajah.
Waduh! 9 Daerah di Jateng Endemis Penyakit Kaki Gajah, 6 di Pantura
SOLOPOS.COM - ilustrasi filariasis (Sumber: Freepik.com)

Solopos.com,  SEMARANG – Sembilan kota dan kabupaten di Jawa Tengah tercatat menjadi daerah endemis filariasis atau dikenal sebagai penyakit kaki gajah. Mengacu pada situs Kemenkes.go,id, Rabu (22/9/2021), pada akhir 2017, dari sembilan kota dan kabupaten itu didominasi daerah pantai utara (pantura).

Adapun sembilan kota/kabupaten endemis filariasis di Jawa Tengah itu adalah Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Brebes, Wonosobo, Semarang, Grobogan, Blora, Pati dan Demak.

Sebagai informasi, filariasis atau penyakit kaki gajah adalah salah satu penyakit endemis di Indonesia yang disebabkan oleh larva cacing Filaria (Wuchereria brancrofti,Brugia malayi dan Brugia timori) yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk, baik itu nyamuk culex, aedes, anopheles dan jenis nyamuk lainnya.

Baca juga: Terdampak Tol Solo-Jogja di Klaten, Yoni Ternyata Simbol Seks

Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk dari orang yang mengadung larva cacing (mikrofilaria) dari salah satu cacing filaria di atas kepada orang yang sehat atau bebas dari mikrofilaria. Gejala yang timbul biasanya berupa pembengkakan (edema) di daerah tertentu yang terdapat aliran pembuluh limfe.

Gejala ini dapat berupa pembesaran tungkai/kaki (kaki gajah) atau lengan dan pembesaran skrotum/vagina yang pembengkakakannya bersifat permanen. Filariasis ini bersifat menahun (kronis) dan jarang menimbulkan kematian pada penderitanya. Pada fase awal, penderita bisa juga tidak menunjukan gejala atau asimtomatis.

Baca Juga: Duh, Vaksinasi 4 Daerah di Jateng Ini Masih Lemot

Jika tidak ditangani dengan cepat, penderita akan  mengalami cacat menetap pada bagian yang mengalami pembengkakan, seperti kaki, lengan dan alat kelamin. Oleh karena itu, Kementrian Kesehatan telah melakukan Program Pemberian Obat Pencegagan Masal (POPM) guna memutus penularan penyakit filariasis.

POPM ini diberikan dengan memprioritaskan daerah endemis selama satu kali dalam setahun dan selama 5 tahun berturut-turut. POPM sendiri terdiri dari obat DEC 6 mg/kg BB dikombinasikan dengan abendozol 400 mg.

Baca Juga: Ganjar Pranowo Dijuluki George Clooney Versi Jawa, Begini Profilnya

Pada 2018, Kementrian Kesehatan melalui Riset kesehatan Dasar (Riskesdas)  menilai keberhasilan POPM dengan menanyakan kepada responden secara langsung yang tersebar di 9 daerah endemis filariasis di Jawa Tengah.

Penelitan ini berupa apakah yang bersangkutan atau penderita, baik itu yang bergejala atau tidak, menelan semua obat POPM Filariasis yang diberikan selama periode POPM. Jika semua obat sudah ditelan, maka penderita dianggap dapat menelan obat POPM tersebut.  Untuk menilainya, ada formula yang menjadi pedoman untuk mengetahui nilai tingkat konsumsi obat POPM yang diberikan dan dari perhitungan tersebut, menunjukan bahwa dari sembilan kota dan kabupaten endemis, Semarang menduduki perngkat pertama dengan nilai 79,73 hingga 82,82 dari total penerima obat POPM sebanyak 2569 penerima.

Baca Juga: Sego Megono Khas Pekalongan Versi Sehat Cocok Buat Diet, Yuk Coba

Sedangkan Kabupaten Brebes menduduki posisi terendah dalam konsumsi obat POPM dengan nilai 42,75-49,39 dari 4,431 penerima POPM. Total nilai keseluruhan dari konsumsi POPM Filariasis daerah endemis ada di angka 59,33-61,37 dengan total penerima POPM sebanyak 23.340.

Program Riskesdas  2018 ini juga menilai responden berdasarkan riwayat diagnosis oleh tenaga kesehatan (dokter/perawat/bidan) dengan pertanyaan apakah responden pernah didiangnosis menderita filairasis atau kaki gajah oleh tenga kesehatan? Jika menjawab “ya pada 2017” maka dihitung sebagai kasus filariasis yang diukur.

Baca juga: Kondisi Terakhir Tukul Arwana Sebelum Kena Pendarahan Otak: Sehat & Bahagia Selalu

Dari penilaian itu,  hasilnya yang tercantum di Laporan Riskesdas 2018 menunjukan bahwa kategori usia 5-14 tahun paling sering mendapat diagnosis filariasis dengan nilai 66,72-69,25 dari 4,015 responden.

Sedangkan kalangan lansia yang berusia 75 tahun ke atas menduduki golongan terendah yang pernah didiagnosa filariasis di tahun 2017 dengan nilai 33,77-38,72 dengan jumlah responden sebanyak 656. Sedangkan dari kategori jenis kelamin, wanita lebih sering didiagnosa filariasis daripada pria, dengan nilai 60,77-62,90 dari 11.800 responden. Sedangkan nilai pada pria antara 57,86-60,22 dari 11.540 responden.

Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago