top ear
Petugas dari Disparbudpora Klaten mengecek kondisi salah satu cagar budaya yang tersimpan di salah satu rumah warga wilayah Desa Jambakan, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. (Solopos.com-Taufiq Sidik Prakoso)
  • SOLOPOS.COM
    Petugas dari Disparbudpora Klaten mengecek kondisi salah satu cagar budaya yang tersimpan di salah satu rumah warga wilayah Desa Jambakan, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. (Solopos.com-Taufiq Sidik Prakoso)

Wacana Museum Cagar Budaya di Klaten Terganjal

Diterbitkan Minggu, 18/10/2020 - 04:32 WIB
oleh Solopos.com/Taufiq Sidik Prakoso
3 menit baca

Solopos.com, KLATEN Wacana pendirian museum cagar budaya di Klaten, Jawa Tengah hingga kini masih sebatas wacana. Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Klaten mengungkapkan kendala lokasi untuk dijadikan museum serta ketersediaan dana pembangunannya.

Pendirian museum dimaksudkan untuk menyimpang aneka temuan benda cagar budaya yang ada di Kabupaten Bersinar terutama temuan lepas dan tak terawat. Hal itu dimaksudkan agar benda-benda cagar budaya yang menyebar di berbagai lokasi dan kurang perawatan tak lekas rusak hingga hilang.

Di Klaten yang dikenal kaya peninggalan purbakala, temuan benda cagar budaya itu menyebar ke berbagai wilayah. Hampir di setiap kecamatan ada benda cagar budaya. Ada yang masih terawat ada pula yang terbengkalai.

Mantan Pacar Goo Ha-ra Divonis 1 Tahun Penjara, Netizen Korea Marah

Kabid Kebudayaan Disparbudpora Klaten, Yuli Budi Susilowati, mengatakan sudah ada upaya untuk mencari lokasi museum cagar budaya. Salah satunya di eks gedung SMPN 2 Klaten di tepi Jl Pemuda, Kecamatan Klaten Tengah. Sebagian bangunan gedung sekolah itu merupakan peninggalan masa kolonial dan disebut-sebut pernah menjadi gedung sekolah Belanda.

“Awalnya memang rencana di bekas gedung SMPN 2 Klaten. Tetapi untuk menjadikan itu perlu biaya banyak,” kata Susi, Rabu (14/10/2020).

Selain lokasi, Susi juga menjelaskan wacana untuk mendirikan museum itu juga terkendala anggaran. Pasalnya, anggaran yang ada di APBD masih difokuskan untuk penanganan Covid-19.

Pidato RM BTS Jadi Kontroversi, Warganet China Tuntut Permintaan Maaf

Meski masih wacana, Susi mengatakan rencana untuk membikin museum cagar budaya di Klaten jalan terus. Disparbudpora Klaten juga berencana mengumpulkan aneka temuan benda cagar budaya yang tak terawat.

“Niat kami baru bisa dilaksanakan di awal 2021. Kami berencana mengumpulkan batu-battu yang penting dulu di satu tempat. Karena memang beberapa warga sudah ingin batu-batu itu dibawa oleh dinas,” kata Susi.

Dititipkan Monumen Juang

Susi menjelaskan batu penting yang dia maksud seperti yoni. Di Klaten, temuan objek cagar budaya kebanyakan berupa yoni dengan beragam ornamen dan ukuran.  Soal lokasi penyimpanan, Susi menuturkan untuk sementara ditempatkan di Monumen Juang 45 Klaten. “Nanti sementara kami titipkan di Monumen Juang dulu. Kami akan buatkan tempat khusus untuk menyimpan,” urai dia.

Produser Musik Teddy Park Bongkar Rahasia Blackpink di Light Up The Sky

Terkait warga atau pemerintah desa yang tetap ingin merawat cagar budaya yang berada di wilayah mereka, Susi mengatakan hal itu tak jadi soal. “Boleh saja kalau ada masyarakat yang ingin merawat cagar budaya yang ada di tempat mereka. nanti akan dibuatkan berita acara berisi kesanggupan untuk merawat dan melestarikan. Tetapi jangan sampai benda tersebut berpindah tangan bahkan hilang,” kata dia.

Cagar budaya yang dirawat warga itu seperti di Desa Tambakan, Kecamatan Jogonalan. Salah satu warga bernama Ny Prawiro, 75, hingga kini merawat yoni berukuran besar meskipun sudah ada penambahan bangunan baru pada permukaan yoni dan dicat. Yoni itu berukuran 100 cm x 100 cm pada bagian permukaan dengan salah satu sisi ada ornamen berbentuk kepala singa.

Yoni itu merupakan peninggalan dari orang tuanya dan sudah ada di rumahnya secara turun-temurun. “Pada masa kolonial pernah didatangi orang-orang Belanda untuk diminta tetapi tidak diberikan. Sudah dipesani sama orang tua, jangan dijual berapapun penawarannya,” kata Prawiro saat ditemui Solopos.com  beberapa waktu lalu.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos


Editor : Profile Rahmat Wibisono
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com


berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini