Viral Kisah Haru Rumini Tak Tega Tinggalkan Ibu saat Erupsi Semeru

Kisah haru menyelimuti proses evakuasi Rumini dan ibunya, Salamah, korban erupsi Semeru di Desa Curah Kobokan, Candipuro, Lumajang yang ditemukan meninggal sambil berpelukan.
Viral Kisah Haru Rumini Tak Tega Tinggalkan Ibu saat Erupsi Semeru
SOLOPOS.COM - Unggahan tentang Rumini yang trending di sosial media, Selasa (07/12/2021). (Suara.com)

Solopos.com, JAKARTA — Kisah haru menyelimuti proses evakuasi korban erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang. Gunung Semeru mengeluarkan awan panas pada Sabtu (2/12/2021) sore.

Plt. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari, menyampaikan data korban meninggal akibat letusan Gunung Semeru di Lumajang hingga Senin (6/12/2021), 22 orang.

Selain itu, jumlah korban luka-luka, seperti luka bakar maupun cedera hingga Senin pukul 20.15 WIB sebanyak 56 orang. Sebanyak 22 warga lain dilaporkan hilang. Jumlah populasi terdampak 5.205 jiwa dan warga yang mengungsi 2.004 orang.

Baca Juga : Dibangun di Sragen, Jembatan Terpanjang di Jateng Telan Rp75 Miliar

“Rincian korban meninggal dunia teridentifikasi 14 orang di Kecamatan Pronojiwo sedangkan 8 orang di Kecamatan Candipuro,” katanya seperti dilansir Suara.com, Selasa (7/12/2021).

Kisah haru muncul kala mengevakuasi korban di salah rumah terdampak erupsi Gunung Semeru, tepatnya di Desa Curah Kobokan, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur.

Tim gabungan menemukan dua korban perempuan meninggal dalam kondisi berpelukan. Mereka, Rumini, 28, dan Salamah, 70. Mereka anak dan ibu yang meninggal karena erupsi Gunung Semeru.

Baca Juga : Sejarah 2 Desa di Sragen yang Landasi Proyek Jembatan Terpanjang Jateng

Rumini dan Salamah ditemukan meninggal di dapur rumah dalam posisi berpelukan. Beredar informasi bahwa Rumini memilih tinggal di rumah menemani ibunya yang telah lanjut usia (lansia) saat Gunung Semeru memuntahkan awan panas.

Kondisi Salamah yang tua renta tidak memungkinkan untuk berlari sehingga Rumini enggan berlari seorang diri untuk menyelamatkan diri. Rumini seolah tak tega meninggalkan Salamah sendirian di tengah erupsi Gunung Semeru.

Diduga tak bisa membawa sang ibu, Rumini memilih menemani sang ibu hingga ajal menjemput. Mereka ditemukan tertimbun reruntuhan bangunan rumah.

Baca Juga : Round Up: Ini Sebaran Lokasi Vaksinasi Berhadiah Sepeda Motor di Klaten

Di sisi lain, Paman Rumini, Legiman, mengatakan suami Rumini dan seorang anaknya selamat. Selain itu, suami dan anak Salamah yang lain selamat. Namun, mereka mengalami cedera akibat tertimpa reruntuhan bangunan rumah.

kondisi pascaerupsi semeru
Kondisi daerah terdampak erupsi Gunung Semeru, di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. (Suara.com/Sekolah Relawan)

Viral di Media Sosial

Kisah Rumini, viral dalam jejaring sosial Twitter dengan tagar #rumini pascaerupsi Semeru. Beragam unggahan mengagumi sosok Rumini.

Akun @sorabihaneut9 mengunggah tulisan kekaguman untuk sosok Rumini. Kurang lebih seperti ini isinya.

“Mungkin kami harus belajar darimu tentang mencintai, terutama ibu,” tulis @sorabihaneut9 mengawali unggahan.

Baca Juga : Peserta Uji Kompetensi Calon PPPK Sragen Wajib Tes Antigen dan Vaksin

“Pilihan berat bagi Rumini, antara lari menyelamatkan diri atau meninggalkan sang ibu yang tak sanggup berjalan. Rupanya Rumini memilih untuk mendekap sang ibu berjuang hadapi terjangan erupsi Semeru. Jasad keduanya pun ditemukan di dapur rumah mereka,” lanjutnya.

“Namamu melangit, malaikat menyambut ruh yang mewangi, meski tubuh terbakar material panas, nafas terakhirmu saat memeluk ibumu, insya Allah seluruh penduduk langit kini tengah memelukmu.”

Unggahan lain dari pemilik akun @CaloTerminl. Dia mengunggah gambar ilustrasi perempuan tua renta tergeletak di tempat tidur. Perempuan tua renta itu digambarkan tersenyum membelai rambut sang anak yang merengkuh tubuhnya.

Baca Juga : PPKM Level 3 saat Natal dan Tahun Baru Batal Diterapkan, Ini Gantinya

Ilustrasi itu juga menggambarkan suasana erupsi Gunung Semeru pada Sabtu sore itu. Gumpalan menyerupai awan panas digambarkan dari balik jendela dekat ibu-anak itu.

Potret itu dibubuhi tulisan Semeru dan nama Rumini. “Dia yang dirindukan Syurga.” Pemilik akun juga mengunggah ilustrasi percakapan mengharukan ibu dan anak.

“Ibu: mlayuo nduk…aku wis tua, wis aku tak nang kene wae (pergilah nduk [sebutan untuk anak perempuan]…aku sudah tua, biarkan aku di sini saja).”

“Rumini: mboten Bu, sikil iki saget mlayu, tapi ati iki mboten saget ninggalno ibu dewekan.. (tidak Bu, kaki ini bisa berlari tapi hati ini tidak bisa meninggalkan ibu sendirian).”

Baca Juga : Bos Baru PLN Enggan Komentari Akuisisi Perusahaan Kendaraan Listrik

Unggahan tentang kisah Rumini ini telah di re-tweet lebih dari 1.000 kali. Tulisan dan unggahan ini pun dibanjiri komentar warga internet. Mereka mendoakan kepergian Rumini dan ibunya.

“Ya Allah sedihnya sampai sini, Al-Fatihah khususon mba Rumini, ibuk mba Rumini, serta korban Semeru yang lain,” tulis akun @pikach***.

erupsi semeru
Gunung Semeru meletus (Okezone.com/BNPB)

Korban Lain

Dilansir dari Okezone.com, Selasa (7/12/2021), kisah haru lain terungkap saat petugas gabungan melakukan evakuasi korban di Dusun Curah Kobokan, Desa Supiturang, Kabupaten Lumajang, Minggu (5/12/2021). Saat itu, Relawan Baret Rescue Gerakan Pemuda Nasdem Jember menemukan jenazah seorang ibu sedang menggendong bayinya tertimbun.

Kisah lain diunggah akun TikTok @klomank_ml. Pemilik akun memperlihatkan unggahan seorang ibu mengenakan jas hujan sembari membawa anaknya. Mereka menerjang debu erupsi untuk menyelamatkan diri.

Baca Juga : Ada Pemeliharaan Jaringan, Listrik di Solo Baru Padam 5 Jam Lebih

Ibu itu menghampiri sebuah rumah untuk meminta air guna membasuh wajahnya yang penuh debu vulkanik. Si ibu menyembunyikan anaknya di balik jas hujan.

Banyak warganet merasa iba dan terharu dengan perjuangan ibu itu menyelamatkan anaknya. “Debu vulkanik itu perih banget loh di mata. Dulu pernah ngerasain pas letusan Gunung Kelud. Beneran perih di mata (emoji sedih),” tulis salah satu warga internet.

Kisah haru lain datang dari Sinten, 60, dan Dewi Novitasari yang berupaya menyelamatkan diri dari dampak erupsi Gunung Semeru. Mereka berdua selamat setelah berlari hingga 13 kilometer.

Baca Juga : Produk Jamu Langsung Minum Laris, D’Jamoe Madiun Kembangkan Jamu Bubuk

Sinten dan Dewi berlari dari rumah ke rumah. Mereka berlari ke rumah tetangga berjarak 1 kilometer kemudian lanjut berlari ke masjid berjarak 5 kilometer dan mengarah ke Dusun Gunung Sawur.

Saat tiba di Dusun Gunung Sawur keduanya diamankan ke Desa Sumbermujur menggunakan mobil bak terbuka. Mereka berdua selamat, tetapi harus kehilangan salah satu keluarganya, Samsul.

Saat kejadian, Samsul diduga sedang bekerja menjaga portal tambang dekat Gunung Semeru. Saat ditemui di RSUD Dr. Haryoto Lumajang, Sabtu, Sinten mengatakan Gunung Semeru meletus dan erupsi datang seperti kiamat sedang menjemput.


Berita Terkait
    Promo & Events
    Honda Motor Jateng
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago