Kategori: Sragen

Untuk Memandikan Jenazah, Warga Tlogotirto Sragen Harus Sedot Air Sungai Sejauh 2 Km


Solopos.com/Muh Khodiq Duhri,

Solopos.com, SRAGEN -- Suara motor trail meraung-raung di jalan berlapis beton yang retak di sana-sini pada Senin (26/10/2020). Sesekali rombongan motor trail itu melintasi jalan berlapis kerakal dan tanah berumput.

Jalan selebar tiga meter itu jalan menuju Dukuh Dawung, Desa Tlogotirto, Kecamatan Sumberlawang, Sragen. Dari jalan raya Solo-Purwodadi, dukuh ini bisa dicapai dalam waktu sekitar 15 menit dengan melintasi medan jalan yang terjal dan relatif sempit.

Rombongan motor trail itu dari Komunitas Trabas Kita. Mereka datang dengan membawa dua truk tangki berisi bersih. Mereka juga membawa aneka sayuran seperti cabai, terong, kangkung dan lain-lain. Perjalanan rombongan sempat terhenti ketika sebuah minibus yang mengangkut rombongan pengantin terparkir di jalan sempit hingga menutup jalan. Setelah minibus dipindah, rombongan kembali bisa melanjutkan perjalanan.

Begini Aksi Lurah dan Nakes Pasar Bunder Sragen Ingatkan Pedagang/Pembeli Pakai Masker

Begitu romobongan Komunitas Trabas Kita tiba di Dukuh Dawung, warga langsung berhamburan keluar rumah. Mereka membawa ember, bekas wadah cat, klenting, dan perkakas lain yang bisa dipakai untuk menyimpan air. Bantuan air bersih yang sangat mereka harapkan akhirnya tiba.

Selain bisa membawa pulang air bersih, warga juga mengambil aneka sayuran yang dibagi gratis. Ini adalah kali kedua Komunitas Trabas Kita dari Desa Doyong, Kecamatan Miri, Sragen, menggelar bakti sosial. “Hari ini ada dua tangki air yang disalurkan kepada warga terdampak kekeringan. Ke depan, kami berencana membuat sumur artesis supaya bisa dimanfaatkan warga saat kekeringan melanda. Dalam situasi seperti ini, kami tergerak untuk membantu warga. Setelah bakti sosial, kami melanjutkan perjalanan untuk trabas di hutan di sekitar Waduk Kedung Ombo,” papar Agung Purnomo, Ketua Komunitas Trabas Kita, kepada Solopos.com di lokasi.

Bu Mirah, Gerakan Kakak Asuh UMKM Sragen di Masa Pandemi

Sumur Disewakan

Musim kemarau yang berlangsung sejak Mei 2020 lalu membuat sumur-sumur warga Dukuh Dawung mengering. Karena sulitnya air, warga menggali lebih dalam sumur mereka hingga kedalaman 60 meter. Memang keluar air, namun kapasitasnya hanya 4.000 liter/hari.

“Sumur itu disewakan seharga Rp20.000/jam. Tapi, biasanya air dalam sumur itu sudah habis kurang dari tiga jam. Debitnya makin lama makin menurun setelah disedot satu jam,” papar Ketua RT 10, Dukuh Dawung, Supatman, kepada Solopos.com di lokasi.

Bila warga membutuhkan air secara mendadak, misal untuk memandikan jenazah, warga mengandalkan sisa-sisa air di sungai yang berjarak sekitar 2 km dari permukiman warga. Jauhnya jarak membuat warga harus menggunakan tiga mesin diesel untuk mengalirkan air secara estafet.

Masjid Al Falah Sragen Buka Warung Makan Gratis, 100 Porsi Ludes Per 2 Jam

“Mau bagaimana lagi, adanya air ya cuma di sungai, jadi kami membawa air itu ke permukiman meski harus mengandalkan tiga mesin diesel supaya airnya bisa dipakai untuk memandikan jenazah,” ujar Supatman.

Share
Dipublikasikan oleh
Kaled Hasby Ashshidiqy