Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Untuk CFD yang Lebih Baik

CFD merupakan alternatif intensifikasi kecukupan ruang terbuka olahraga khususnya bagi masyarakat perkotaan.
SHARE
Untuk CFD yang Lebih Baik
SOLOPOS.COM - Agus Kristiyanto (Solopos/Istimewa)

Solopos.com, SOLO — Pemerintah Kota Solo telah mulai memberlakukan uji coba car free day (CFD) pada 15 Mei 2022 lalu. Uji coba tersebut merupakan bentuk eksekusi kebijakan publik yang konkret untuk membuka kembali CFD yang “dibekukan” sepanjang pandemi Covid-19.

Terbukanya kembali aktivitas CFD terkait dengan kondisi penyebaran Covid-19 yang relatif sudah mulai terkendali. Bagi masyarakat Kota Solo dan sekitarnya, dibukanya kembali CFD setiap Minggu pagi di sepanjang Jl. Slamet Riyadi, mulai Purwosari hingga Gladak, tentu merupakan kabar baru yang menggembirakan.

PromosiDaihatsu Rocky, Mobil Harga Rp200 Jutaan Jadi Cuma Rp99.000

Hal yang menarik adalah terdapat berbagai “koreksi” mendasar yang diterapkan dalam pembukaan kembali CFD. Pertama, CFD hanya untuk kegiatan olahraga berdasarkan zonasi. Kedua, pedagang makanan-minuman tidak boleh berjualan di city walk dan hanya boleh di tempat tertentu yang zonasinya akan diatur oleh Dinas Perdagangan Kota Solo. Ketiga, pedagang makanan-minuman dilarang berjualan dengan menggunakan sepeda motor, apa lagi menggunakan mobil.

Berbagai pihak tentu sangat setuju jika CFD ke depan akan memberikan porsi yang lebih besar lagi sebagai ruang publik untuk kegiatan olahraga. Pasalnya, hasil riset tentang peta pemanfaatan CFD secara faktual belum menunjukkan hasil yang semestinya. Hasil riset yang dilakukan penulis dan tim pada 2015 itu dapat dideskripsikan sebagai berikut. Untuk aneka aktivitas olahraga masyarakat (34,7%), kegiatan lainnya (15,2%), pengunjung pasif (25,2%), dan pedagang musiman (24,9%). Artinya, saat ini baru sepertiga CFD yang difungsikan untuk kegiatan olahraga, walaupun tidak mungkin mendesain 100% zona CFD untuk aktivitas olahraga saja.

Kebijakan menutup jalan protokol setiap Minggu pagi merupakan sebuah strategi yang memiliki fungsi sangat mulia. Kendati “hari bebas kendaraan bermotor” tersebut memiliki aneka fungsi utama yang bernilai positif, kebijakan tersebut bersinggungan dengan persoalan lain yang konsekuensinya tidak 100% orang setuju. Setidaknya ada tiga sudut pandang yang wajib dikedepankan untuk lebih memahamkan publik agar penerimaan mereka semakin menguat.

Pertama, CFD merupakan kebijakan relaksasi perkotaan. Artinya, CFD memiliki sisi pengendalian yang dibutuhkan oleh lingkungan perkotaan di mana pada hari-hari biasa didera polusi udara maupun suara. Polutan yang merusak kualitas udara berbanding lurus dengan jumlah kendaraan bermotor yang beroperasi di jalan raya. Menghentikannya, walau hanya dalam empat-lima jam setiap Minggu, sudah sangat bermanfaat untuk menekan tingkat keparahan polusi udara dan suara.

Kedua, CFD merupakan alternatif intensifikasi kecukupan ruang terbuka olahraga khususnya bagi masyarakat perkotaan. Persoalan yang dialami masyarakat perkotaan pada umumnya adalah kepadatan penduduk yang berdampak semakin “miskinnya” ruang terbuka untuk olahraga. Ruang terbuka yang dimaksudkan adalah ruang yang secara terbuka dapat diakses oleh publik untuk aktivitas olahraga.

Di area perkotaan, alih-alih memiliki ruang terbuka olahraga yang cukup, yang sering terjadi adalah kecenderungan penyusutan ruang terbuka untuk fungsi-fungsi lain. Dinamika pertumbuhan masyarakat perkotaan serta kebutuhan ruang terbuka untuk berolahraga dapat diatasi dengan intensifikasi. Salah satu yang sangat memungkinkan adalah CFD.

CFD merupakan formula khas untuk meningkatkan indeks ruang terbuka olahraga. Menambah luas ruang terbuka olahraga di area perkotaan adalah konsekuensi pertambahan jumlah penduduk. Berdasarkan laporan Sport Development Index (SDI) 2022, kebutuhan ruang terbuka olahraga secara ideal adalah 3,5 meter persegi per penduduk berusia tujuh tahun ke atas. Secara nasional, luas ruang terbuka olahraga dibagi jumlah penduduk hanya mencapai 1,78 meter persegi. Artinya, kondisi faktualnya masih berkisar 50,8% kondisi ideal.

Ketiga, CFD mengintegrasikan arah pengembangan paradigma development of sport dan development through sport. CFD merupakan ruang literasi dinamis untuk membangun olahraga sekaligus bagaimana membangun melalui olahraga. Kepemilikan ruang terbuka untuk kegiatan olahraga menjadi syarat utama membangun olahraga, baik dalam konteks olahraga prestasi, olahraga pendidikan, maupun olahraga masyarakat/rekreasi. Sedangkan dampak ikutan (nurturant effect) akan mengikat secara personal, sosial, ekonomi, bisnis, industri, serta aneka jalinan interaksi yang timbul di CFD sebagai etalase yang memiliki arti luas.

Keberlanjutan CFD

Terdapat banyak pelajaran penting penyelenggaraan CFD di kota-kota lain di Indonesia, bahkan beberapa kota yang berada di negara lain. Intinya bahwa sukses CFD bukan hanya bagaimana memulainya, tetapi terkait dengan bagaimana aspek keberlanjutannya (sustainability). Terdapat prinsip keberlanjutan yang terus diupayakan agar CFD tidak menjadi kebijakan “obor blarak”. Untuk memastikan keberlanjutan tersebut, CFD harus terus “dirawat dan dipelihara” sebagai sebuah event mingguan yang bernilai, menarik, dan memberikan manfaat luas.

Pertama, good will Pemerintah Kota (Pemkot) Solo perlu didukung oleh seluruh lapisan masyarakat, komunitas terkait, dan berbagai stakeholder. Masyarakat lah yang diharapkan ke depan semakin proaktif untuk memanfaatkan CFD sebagai kawasan pengembangan budaya olahraga yang menyehatkan, mendamaikan, dan memakmurkan.

Kawasan CFD bahkan harus ditempatkan sebagai ruang untuk literasi membangun budaya masyarakat aktif berolahraga sepanjang hayat. CFD bernilai karena masyarakat mendapatkan pesan moral tentang kualitas hidup sehat. Itu didapatkan dengan berdisiplin mensterilkan kawasan dari asap knalpot kendaraan, asap rokok, serta kesadaran mengenyahkan perilaku yang tidak pantas di tempat umum.

Kedua, CFD akan terus menarik tatkala sanggup menyadarkan masyarakat tentang berkah akan ruang terbuka publik. Tidak banyak masyarakat yang tahu bahwa CFD memberikan “tambahan” ruang publik sepanjang 3,8 kilometer. Secara relatif dapat diasumsikan terjadi penambahan ruang publik seluas rata-rata 15 meter x 3.800 meter = 57.000 meter persegi. Ruang terbuka tersebut setara 14 lapangan sepak bola berukuran 90 m x 40 m. Lahan seluas 14 lapangan sepakbola tersebut sebagai “aula terbuka yang sangat besar” berlimpah yang diperuntukkan bagi fungsi kreativitas publik dalam aneka kegiatan olahraga dan kegiatan pengiring lainnya. Lahan itu untuk menyemai dan menumbuhkan development of sport dan development through sport.

Ketiga, ruang CFD akan bernilai bila diprioritaskan untuk kegiatan olahraga masyarakat yang lebih menekankan pada misi promotif, edukatif, dan rekreatif yang berbeda dengan fungsi space-space olahraga di tempat yang lain. CFD merupakan ruang ekspresi lengkap secara fisik, mental, dan sosial yang menantang publik untuk berkreasi dengan sesuatu yang unik dan baru.

Aneka kolaborasi potensial aktivitas olahraga dengan hal-hal yang lain akan memunculkan berbagai kegiatan “start-up” yang membesarkan nilai olahraga, sekaligus membesarkan nilai lain melalui olahraga. Sebut saja sport-tourism, sport industry, sport-information, ekonomi kreatif olahraga, display olahraga tradisional, serta berbagai pernik layanan konsultasi olahraga masyarakat modern. Ini menjadi tantangan menarik tersendiri di habitat baru CFD ke depan.

Intinya, penguatan fungsi CFD memperhatikan berbagai dimensi yang tidak sekadar menutup jalan raya untuk disterilkan dari suara bising dan asap kendaraan bermotor. Terdapat dimensi penting yang menjadi landasan berpijak agar fungsinya semakin menguat secara komprehensif. Artinya, penguatan itu bertumpu pada aspek keberterimaan (aksesibilitas) publik dan pengembangan aspek keberlanjutannya.

CFD ke depan adalah ruang relaksasi publik perkotaan melalui aksi membangun semangat berprestasi, pengembangan gaya hidup sehat aktif sepanjang hayat, penguatan relasi sosial melalui aktivitas olahraga yang menyehatkan, mendamaikan, dan memakmurkan. Semoga.

Esai ini ditulis oleh Agus Kristiyanto, Profesor Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga dari FKOR Universitas Sebelas Maret.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode