top ear
Infografis Positif Covid-19 (Solopos/Whisnupaksa)
  • SOLOPOS.COM
    Infografis Positif Covid-19 (Solopos/Whisnupaksa)

Trauma Covid-19 Bisa Picu PTSD, Bagaimana Mengatasinya?

Fenomena menyalahkan diri sendiri seperti dialami sukarelawan sekaligus penyintas Covid-19 merupakan peristiwa traumatis, bagaimana mengatasinya?
Diterbitkan Jumat, 26/02/2021 - 01:30 WIB
oleh Solopos.com/Cahyadi Kurniawan
2 menit baca

Solopos.com, SOLO — Fenomena menyalahkan diri sendiri seperti yang dialami sukarelawan sekaligus penyintas Covid-19, Raafi Seiff, merupakan peristiwa traumatis. Trauma Covid-19 yang bisa memicu post-traumatic stress disorder atau PTSD itu bagaimana mengatasinya?

Hal ini membutuhkan manajemen stres dan panduan bagian pasien Covid-19 selama di rumah sakit melalui pendampingan psikolog. PTSD jamak terjadi di kalangan penyintas Covid-19. Di Tiongkok, sebuah asesmen online terhadap 730 pasien Covid-19 di tempat isolasi yang disediakan pemerintah menemukan 96,2% mengalami PTSD. Sedangkan, di Korea Selatan, 12-13 orang dari 64 penyintas mengalami PTSD dari hasil wawancara per telepon.

Riset lain menemukan dari 570 responden berusia 14-35 tahun di Tiongkok mengalami PTSD sebesar 12,8%. Hal ini terjadi karena ada coping style yang tidak baik. Coping merupakan cara seseorang menghadapi masalah.

Baca Juga: Dikenalkan dengan Indonesia, Dayana Diundang ke KBRI Nur-Sultan

Sekretaris Jenderal Asian Federation of Psychiatric Associations, Nova Riyanti Yusuf, berpendapat gejala PSTD bisa ditekan dengan memperkuat support system kepada pasien selama menjalani isolasi. Misalnya, rumah sakit menyediakan fasilitas pojok sahabat yang memungkinkan keluarga bisa berkomunikasi dengan pasien meski secara virtual.

Di Wisma Atlet, support system dibangun dengan mengirimkan pesan suara berisi afirmasi positif kepada seluruh pasien. “Apabila psychological distress tidak ditangani khawatirnya terjadi perilaku kesehatan buruk yang bisa menghambat. Misalnya tidak jadi kooperatif saat penanganan pemulihan akibat Covid,” kata Nova.

Psikososial & Kesehatan Jiwa

Dalam memberikan dukungan psikososial dan kesehatan jiwa, lanjut Nova, dimulai dengan mengembalikan lagi pelayanan-pelayanan dasar untuk populasi terdampak. Kemudian, memperkuat keluarga dan jejaring komunitas.

Setelah itu, memberikan individu yang mengalami distres dukungan psikososial sesuai kebutuhan masing-masing. “Stressor-nya [pemicu stres] Covid-19, ada faktor psikologi dan sosial. Lalu memberikan intervensi kesehatan jiwa dari ahli untuk memberikan dukungan kepada mereka yang mengalami gejala berat,” ujar Nova.

Baca Juga: Terungkap, Kekasih Jang Hansol Sedih Selalu di Balik Layar Korea Reomit

Tak hanya itu, perlu pembekalan psychological first aid dengan empat cara yakni mengurangi tekanan awal stressor yang muncul. Lalu, melayani kebutuhan dasar dan mempromosikan coping yang adaptif. Lalu, mempromosikan coping yang promotif dan mendorong keterlibatan dukungan sosial yang ada.

PTSD, lanjut Nova, bisa terjadi kepada mereka yang mengalami, menderita gejala, dan menjalani pengobatan yang traumatis. PTSD juga terjadi kepada mereka yang menyaksikan perjuangan pasien dan yang memberikan pertolongan seperti keluarga, tenaga kesehatan, dan lainnya.

“Intinya adalah setiap orang diimbau self care. Merawat diri secara psikologis dan kesehatan. Problemnya semua tips-tips ini tidak bisa diterima bulat-bulat. Setiap individu harus mengkurasi diri self care seperti apa. Silahkan lakukan ini. Perusahaan juga melakukan penatalaksanaan kalau ada pegawai yang burnout,” ujar Nova.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos


Editor : Profile Rahmat Wibisono
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terpopuler

Iklan Baris

berita terkini


Cek Berita Lainnya