[x] close
Transformasi Jangan Pergi Kala Pandemi
Solopos.com|kolom

Transformasi Jangan Pergi Kala Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 29 Januari 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Solopos.com, SOLO -- Kabar 20.000  warung tegal atau warteg di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi atau Jabodetabek terancam gulung tikar karena omzet anjlok hingga 90% selama pandemi Covid-19 sangat mengejutkan. Benarkah orang tak lagi mau makan di warung demi menjaga diri agar tak tertular virus corona dengan memasak sendiri makanan di rumah?

Bila sekarang puluhan ribu usaha warteg terancam, bagaimana dengan tahun lalu? Berapa jumlah usaha kuliner ini yang telah terlebih dahulu runtuh dan memaksa para pekerjanya kembali ke Tegal dan daerah sekitarnya? Menurut Ketua Komunitas Ketua Komunitas Warteg Nusantara,  Mukroni, mereka kini telah meninggalkan Jakarta dan terpaksa bekerja serabutan di kampung halaman.

Sebagaimana bisnis lainnya, usaha warteg tentu saja sangat dipengaruhi permintaan konsumen untuk bertahan. Pandemi Covid-19 memang telah mengubah kebiasaan orang dalam segala hal, bahkan dalam urusan makan. Saya menyebutnya sebagai megasusut bisnis kuliner, karena memang skalanya mengecil dengan cepat.

Bukankah saat pandemi orang tetap perlu makan? Benar, tetapi cara dan prosesnya sangat berbeda. Takut tertular virus, orang lalu memasak sendiri. Biaya memasak makanan tentu saja lebih hemat dibandingkan dengan membeli. Orang tak lagi suka meriung di warung untuk makan karena saat makan masker dibuka dan ada potensi penularan virus.

Warteg yang dikelola secara perorangan atau sebuah jaringan restoran dengan ribuan  karyawan di bawah payung perusahaan profesional sebenarnya menganut hukum permintaan yang sama. Pizza Hut bahkan menurunkan karyawan berjualan di pinggir jalan dalam rangka menarik pembeli yang enggan datang ke restoran.

Permintaan susut bukan karena tidak ada kebutuhan, tetapi ada perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi makanan. Saat pandemi konsumen dipaksa melakukan  perubahan perilaku dan ini perlu secara jeli diantisipasi  para chief executive officer (CEO) di berbagai bidang usaha.

Dalam skala bisnis berbeda, saya pernah menulis soal Brian Chesky, CEO Airbnb, yang ha­­nya menemukan ke­kecewaan akibat pandemi. Lantar­an pendapatan anjlok, rencana per­usa­haan marketplace penyewaan ka­mar, apartemen, dan rumah yang tersebar di berbagai penjuru dunia menawarkan saham per­dana tahun lalu menguap di udara. ­Perjalanan global yang menyusut akibat pandemi Covid-19 adalah pe­nyebabnya.

”Perlu waktu 12 tahun untuk membangun Airbnb dan kami kehilangan hampir semuanya hanya dalam empat pekan hingga enam pekan,” begitu kata Chesky dalam wawancara dengan CNBC tentang kondisi terakhir usahanya yang sempat melesat dan kemudian jatuh bak meteor.

Saat pandemi begitu banyak bisnis mati. Tak terhitung berapa maskapai penerbangan di dunia tutup, juga berapa puluh juta pekerja pariwisata dipecat karena kunjungan sepi. Cahaya. Kita memerlukan secercah cahaya untuk menjaga harapan.

Hampir satu tahun pandemi Covid-19 di Indonesia dan kurva penularan yang masih tinggi hingga hari ini rasanya penting bagi kita semua untuk memikirkan pilihan transformasi  yang tepat bagi bisnis. Tidak semata-mata untuk bertahan, tetapi juga memastikan keberlanjutan usaha pada masa depan.

Saat bencana ini berlalu, semua tak tak sama, tak pernah sama lagi. Banyak orang memprediksi akan banyak kenormalan baru--tentu saja, memerlukan penyikapan dan cara bisnis yang sama sekali berbeda.

***

Pandemi Covid-19 telah mengubah begitu banyak aspek dalam bisnis, tetapi tidak mengubah keniscayaan perusahaan bertransformasi. Ada krisis atau tidak, sebuah perusahaan mesti berubah, menyesuaikan model bisnis, serta mencari cara agar tetap relevan bagi para konsumen.

Krisis akibat pandemi praktis banyak melumpuhkan sejumlah sektor bisnis seperti bisnis angkutan, perhotelan, pusat perbelanjaan, hingga pariwisata. Perekonomian seperti tiba-tiba dipaksa untuk mengerut, mengecil karena  konsumsi dikurangi.

Tantangan sekarang adalah menemukan sebuah cara jitu dan berjangka panjang agar bisnis pada masa depan berkembang, termasuk sebuah strategi menghadapi krisis berikutnya. Saat semua pesaing sedang berpikir untuk bertahan dalam menghadapi pandemi, melompat dalam satu jangkauan ke depan kenapa tidak?

Mungkin ada orang yang menganggap ini naif. Pendiri Alibaba, Jack Ma, mengatakan dalam situasi krisis sekarang tidak perlulah kita bermimpi dan menyusun rencana. Bisa bertahan hidup sudah sangat bagus. Ketika bisa bertahan, mudah bagi kita untuk meraih keuntungan selanjutnya.

Boston Consulting Group, firma konsultasi manajemen yang berpengalaman dengan lebih dari 750 transformasi perusahaan, telah mendefinisikan lima ciri yang memungkinkan CEO memimpin transformasi yang lebih sukses. Wawasan ini telah diuji di berbagai kondisi ekonomi, termasuk dalam situasi pasar yang sedang tumbuh, resesi, dan periode gejolak.

Pertama, transformasi memerlukan langkah tegas dan cepat. Penelitian menunjukkan 57% transformasi berhasil dilakukan ketika sebuah perusahaan melakukan kurang dari setahun setelah mengalami pernurunan penjualan.

Selama pandemi gampang sekali menemukan perusahaan yang kehilangan 80% pendapatan dalam hitungan bulan. Mudah sekali membaca laporan keuangan emiten pada semester I/2019 masih untung lebih dari Rp1 triliun dan pada semester I/2020 merugi lebih dari Rp1 triliun.

Pandemi mengubah bisnis begitu drastis. Tanpa CEO yang mampu mengambil langkah cepat dan tegas, tentu akan mudah sekali menyorongkan perusahaan ke tubir jurang kebangkrutan. Penurunan ekonomi sekarang bukanlah alasan untuk menunda tranformasi formal.

Kedua, CEO yang lebih memilih melakukan efisiensi modal. Kecenderungan umum saat krisis adalah pendapatan anjlok karena penjualan melempem. Melakukan efisiensi biaya hanyalah parasetamol, pereda nyeri sementara. Dalam krisis, memotong biaya adalah sebuah langkah penting, tetapi tidak bisa berdiri sendiri.

Selebihnya adalah efisiensi modal melalu berbagai cara, termasuk lebih cepat mengadopsi bisnis digital. Ujungnya, perusahaa dapat lebih berhemat karena pandemi telah memaksa orang untuk melakukan segala sesuatu secara virtual, hal yang sebelumnya mustahil dan memakan biaya.

Ketiga, CEO yang memastikan perubahan yang dilakukan memiliki dampak yang lebih besar dan memastikan keberlanjutan bisnis. Memoles rugi laba dari hasil efisiensi biaya rasanya tidak cocok dilakukan secara terus-menerus untuk bisnis yang diharapkan terus berkembang.

Banyak bank di Indonesia sekarang, justru karena menjaga agar bottom line dan kualitas aset terjaga, memilih untuk menghentikan ekspansi bisnis dan tekun menggerakkan karyawan untuk menghimpun dana masyarakat. Akibatnya bisa ditebak, selama pandemi, dana pihak ketika justru tumbuh pada saat ekspansi kredit menyusut.

Keempat, seorang CEO harus selalu berpikir sebagai pemimpin baru. Ini merujuk pada fakata CEO baru bisa bekerja baik dalam transformasi. Ada pula fakta CEO baru bisa meningkatkan peluang keberhasilan transformasi sebanyak 7%.

Ini terjadi karena mereka membawa pandangan dari luar dan tidak biasa karena telah berada dalam sebuah zona nyaman. Tanpa beban sejarah juga memungkinan seorang CEO berbuat apa pun membawa perusahaan ke level yang lebih baik daripada pemimpin sebelumnya.

Kelima, CEO yang punya kans sukses dalam memimpin transformasi adalah mereka yang berkeyakinan bahwa transformasi tidak mengenal akhir. Ia melepaskan diri dari kungkungan rasa puas diri karena sebuah milestone dan selalu berpikir bahwa perusahaan lain selalu menciptakan hal baru yang memicu dirinya untuk selalu kompetitif.

Saya yakin, selama 11 bulan kita hidup dalam pandemi, sebagian besar perusahaan telah meluncurkan berbagai inisiatif dalam bertransformasi. Secara umum inisiatif tersebut pasti menyangkut pengurangan biaya, menguji model bisnis digital, stabilisasi rantai pasokan, hingga mengadopsi teknologi untuk menjangkau lebih banyak pelangan.

Apakah semua itu sudah cukup? Rasanya belum. Perusahaan memerlukan lebih banyak inisiatif dan kepemimpinan yang kuat untuk melalui krisis ini agar tidak sekedar bertahan, tetapi juga memenangi kompetisi dan tumbuh lebih cepat pada masa kenormalan baru nanti.

 


Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler
Berita Terkini
Indeks
Berita Video
View All

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago