top ear
Halim H.D. (Istimewa/Dokumen pribadi)
  • SOLOPOS.COM
    Halim H.D. (Istimewa/Dokumen pribadi)

Tradisi yang Tumbuh dari Pribadi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 14 November 2020. Esai ini karya Halim H.D., networker kebudayaan.
Diterbitkan Selasa, 17/11/2020 - 21:09 WIB
oleh Solopos.com/Halim H.D.
4 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Kelanggengan kehidupan tradisi di antara zaman yang terus berubah senantiasa memberikan inspirasi bagi kehidupan di dalam masyarakat kita. Melalui tradisi itulah kita bukan hanya mampu tapi sekaligus bisa mengenal dan memahami jejak sejarah sosial kita secara personal dan sosial.

Kita dihadapkan kepada cermin kehidupan melalui tradisi, refleksi tentang apa makna eksistensi diri secara individual dan sosial. Dari sanalah kita mengarungi makna harkat dan martabat tatanan nilai sebagai pegangan dan sekaligus pula sebagai pijakan di dalam kita memahami dan mempraktikkan perubahan: eksperimen dan konservasi dalam meneruskan proses dan jejak kebudayaan yang akan kita tapaki.

Dalam konteks kehidupan tradisi itulah kita diajak mengetahui dan mengenal suatu sosok dalam tatanan nilai yang digenggam dengan teguh dan dengan penuh komitmen sebagai perwujudan integritas menjunjung nilai-nilai luhur. Kita sering melupakan kaitan antara interaksi sosok dengan kehidupan tradisi karena kita menganggap bahwa tradisi sudah ada dan hadir begitu saja.

Kita melupakan suatu proses panjang dari proses belajar dari pribadi ke pribadi yang mempertaruhkan seluruh kehidupan. Pernahkah kita membayangkan suatu  sosok pribadi yang selama lebih dari setengah abad sampai hari akhirnya menggenggam komitmen atas nama tradisi, seluruh kehidupannya dicurahkan kepada tradisi?

Bersyukurlah jika kita memiliki rasa hormat kepada seseorang yang memegang komitmen. Berkaitan dengan itulah rasanya kita bukan hanya patut berterima kasih. Lebih dari itu, rasa syukur itulah yang membuat kita bisa merasakan kontribusi yang tak ternilai atas sumbangsih dari sosok yang telah menuangkan seluruh energinya dan mewujudkannya dalam karya.

Seluruh ungkapan yang saya sampaikan di atas merupakan rasa syukur saya berkenalan dengan Rahayu Supanggah (meninggal pada Selasa, 10 November 2020, pukul 03.00 WIB) yang saya kenal selama hampir setengah abad, sejak pada pertengahan tahun 1970-an sebagai peminat kebudayaan yang mencoba memahami tradisi melalui dialog dan menyaksikan berbagai praktik tradisi yang ada di sekitar Pendapa Sasanamulya.

Sosok yang rasanya secara selintas saya kenal pada waktu itu memberikan makna dan cara pandang bahwa melalui tradisi, khususnya karawitan, kita bisa belajar dan memahami cara pandang yang sangat beragam. Ungkapan bahwa tak ada gamelan yang sama, suatu ungkapan yang sederhana namun mendalam, membawa pemikiran saya tentang kehidupan suatu masyarakat yang demokratis.

Setiap gamelan memiliki keunikan suara dan bunyi sesuai dengan kebutuhan dan kepekaan pencipta dan penggunanya. Melalui ungkapan itulah saya belajar menolak antropologi dan sosiologi kolonial yang menganggap bahwa masyarakat tradisi itu kurang bisa berkembang dan bahkan jumud oleh tatanan nilainya.

Dialog inspiratif itu terus berlangsung di antara sikap kukuh yang jumud pada sebagian pelaku tradisi yang selalu berpegang pada pakem dengan salah kaprah. Namun, zaman memberikan ruang kepada arus pemikiran dan praktik tentang tradisi yang berpegang pada kapasitas individu, pribadi yang menyadari benar bahwa keberlangsungan tatanan nilai tak bisa digenggam dengan cara-cara dogmatis.

Proses perubahan tatanan nilai melalui eksperimentasi dan uji coba yang didasarkan pengalaman pribadi memberikan peluang kepada arus dan gerak perubahan dalam wujud karya-karya baru. Di sinilah sosok pemegang tradisi dengan kesigapan yang penuh energi kepada interaksi yang juga didasarkan pada kesadaran tradisi yang dikuasai dengan baik menjadikan tatanan nilai itu dinamis dan memasuki arus progresivitas ke arah ruang yang membuka pembaruan tatanan nilai yang lebih luas, kebudayaan.

Kenangan tentang Mpu Rahayu Supanggah adalah kenangan tentang sosok yang senantiasa mencari dalam ruang tatanan yang dia yakini memiliki kemungkinan yang tak berhingga. Gamelan dan karawitan itu bisa ditafsirkan dan dipraktikkan dalam dan pada setiap zaman dan bisa bertemu dengan unsur kebudayaan apa saja.

Itulah secuplik obrolan pada tahun 1980-an awal, ketika sang Mpu bersama rekannya, seorang tokoh teater kelas jagat, Peter Brook, yang sedang berproses menggarap Mahabhrata, di warung hik Mbah Kemin di depan Monumen Pers, Solo. Ungkapan itu bukan sekadar pernyataan seorang akademisi.

Sebagai pelaku tradisi yang selalu berbicara melalui pengalaman personal dan mewujudkan ungkapan bahwa ilmu kuwi kelakone kanthi laku, sang Mpu membuktikan kerja tradisinya dalam bentuk kolaborasi dengan berbagai kalangan seniman, seperti Peter Brook, Ong Keng Sen, Robert Wilson, Sardono W. Kusumo, dan Quartet String Kronos, seniman-seniman kelas jagat yang membentang di angkasa seni pertunjukan kelas dunia.

Yang menarik dari sang Mpu ini, di antara saling silang dalam perjalanan proses karyanya dengan berbagai unsur kebudayaan dunia, dia selalu kembali kepada obrolan tentang suara dan bunyi dari wilayah cikal bakalnya. ”Aku iki wong desa, Mas,” kata dia dengan iringan senyum bersahaja. Gamelan itu asalnya dari sana, menurut dia.

Melalui kesadaran kepada sejarah dan wilayah serta ruang penciptaan yang diyakini ini sang Mpu menjelajah dunia. Globalisasi baginya bukanlah suatu isu dan gosip politik kebudayaan yang sering salah kaprah dipahami di negeri ini, namun di tangan sang Mpu menjadi praktik dan wujud tentang kontribusi yang datang dari wilayah perdesaan memasuki berbagai penjuru belahan dunia lain.


Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com


berita terkait

    berita terpopuler

    Iklan Baris

    Properti Solo & Jogja

    berita terkini