[x] close
Tradisi Kupatan di Solo Setelah Lebaran: Dari Ngaku Lepat hingga Laku Papat
Solopos.com|soloraya

Tradisi Kupatan di Solo Setelah Lebaran: Dari Ngaku Lepat hingga Laku Papat

Asal-usul kupat memang sudah sejak para zaman para Walisongo dan ada dua periodisasi yakni asal ketupat dan pelaksanaan penggunaan ketupat dalam tradisi.

Solopos.com, SOLO — Tradisi Bakda Kupat di Solo dilaksanakan sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri, berbeda dengan kota-kota lain di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Ternyata, budaya itu berangkat dari Kota Solo yang erat dengan kerajaan.

Ketua Solo Societiet, pemerhati sejarah, Dani Saptoni, kepada Solopos.com, Sabtu (15/5/2021) mengatakan belum ada kajian khusus yang membahas tentang kupat  (ketupat) atau bakda kupat. Kupatan di Solo jatuh sepekan atau sepasaran dalam penanggalan Jawa.

Tradisi di Solo, ungkap dia, Grebeg Syawal bertepatan dengan para bupati di Kasunanan Surakarta seba atau menghadap tanda kesetiaan pada kerajaan. Dia menambahkan dalam setahun ada dua grebeg yakni grebeg besar saat sekaten dan grebeg syawal.

Baca juga: Istri PB XII Tutup Usia, Saatnya Regenerasi Pengelolaan Keraton Solo?

“Di situ diadakan makan-makan dengan simbol kupat. Di Solo ada dua macam kupat, kupat isi dan kupat luar. Kupat itu ada maknanya lagi, Grebeg Syawal juga bermakna simbolisasi dengan alam. Kalau orang dulu, hewan ternak dikalungi kupat luar. Juga jika ada yang pernah keguguran memasang kupat luar itu di pintu,” papar dia.

Modifikasi Pesta Rakyat

Dani menambahkan perayaan Syawalan selalu lebih ramai dibandingkan saat Idul Fitri kala itu. Menurutnya, Grebeg Syawal di Solo telah dimodifikasi dengan pesta rakyat sepeti di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ). Sebelumnya, perayaan Grebeg Syawal untuk lingkungan keraton dan para kawula.

Ia menambahkan asal-usul kupat memang sudah sejak para zaman para Walisongo. Menurutnya, ada dua periodisasi yakni asal ketupat dan pelaksanaan penggunaan ketupat dalam tradisi.

Baca juga: Mantap! TSTJ Solo Zoo Siapkan Wahana Makan Durian di Tepi Danau

Kupat sering dianggap akronim dari ngaku lepat hingga laku papat. Hal itu berangkat dari masyarakat Jawa yang memiliki jarwo dosok dan kebudayaan simbol pemaknaan masyarakat Jawa.



Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler
Berita Terkini
Indeks

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago