Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Tradisi Itu Bernama Nasionalisme

SHARE
Tradisi Itu Bernama Nasionalisme
SOLOPOS.COM - Ahmad Fauzi menunjukkan tulisan karya siswa MA Al Muttaqien, Karanganom, Klaten, Kamis (9/8/2012) lalu. (FOTO:Adib Muttaqin Asfar/JIBI/SOLOPOS)

Ahmad Fauzi menunjukkan tulisan karya siswa MA Al Muttaqien, Karanganom, Klaten, Kamis (9/8/2012) lalu. (FOTO:Adib Muttaqin Asfar/JIBI/SOLOPOS)

“NKRI harga mati.” Di Solo, kalimat seperti ini lazim ditemui pada spanduk-spanduk di jalan raya menjelang Agustusan. Namun, kalimat ini juga tertulis jelas pada sebuah tembok di belakang gedung Madrasah Aliyah Al Muttaqien, Troso, Karanganom, Klaten, sejak Juni 2012. “Kami siap siaga sebagai benteng negara dengan berbekal taqwallah.”

PromosiNimo Highland, Wisata Hits di Bandung yang Mirip Santorini Yunani

Yang berbeda, tulisan itu bukan dibuat oleh satgas partai atau kantor pemerintah, melainkan inisiatif para siswa setempat saat class meeting belum lama ini. Sekolah yang berdiri di kompleks Pondok Pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti ini memang beda. Sehari-hari, mereka tidak hanya melahap kitab-kitab klasik tapi juga ajaran tentang nasionalisme.

Dalam benak siswa dan santri di pondok ini, kata “nasionalisme” sudah lama ditanamkan oleh sang pendiri pondok, KH Muslim Rifai Imampuro yang akrab disapa Mbah Lim. Semasa hidupnya, Mbah Lim yang dikenal sebagai kiai nasionalis itu menanamkan cinta negara kepada para santri melalui kebiasaan sehari-hari. Kebiasaan itu kini masih dipelihara meski Mbah Lim sudah tiada. Disiplin tidak hanya di sekolah, juga keseharian di pondok.

“Dalam setiap acara, lagu Indonesia Raya tidak pernah ketinggalan,” kata Ahmad Fauzi, santri yang sudah sembilan tahun tinggal di pondok tersebut, Kamis (9/8) lalu.

Fauzi memang punya pengalaman yang masih diingatnya hingga kini. Saat masih duduk di MA Al Muttaqien, beberapa waktu lalu, pemuda asal Banyumas ini pernah ditugasi jadi pengibar bendera menjelang peringatan 17 Agustus. Secara tidak sengaja, Fauzi menjatuhkan bendera tersebut dari pengangannya. Kebetulan Mbah Lim melihatnya langsung dan menegurnya. “Mbah Lim memang tidak marah tapi saya ditegur dan diingatkan beliau.”

Di lingkungan pondok, para santri memang terinspirasi pendidikan nasionalisme ala Mbah Lim. Dulu, kiai yang dikenal nyentrik ini memang sering mengajarkan cinta negara melalui berbagai hal, mulai dari kesederhanaan, menerima pluralitas dan kedisiplinan. “Kami diajari untuk bisa menerima siapa pun, bukan cuma orang Islam karena kami mendukung pluralisme,” ujar Fauzi.

Bersama para santri senior lainnya, Fauzi berusaha mencontoh pola pendidikan yang diterapkan Mbah Lim. Sehari-hari, para santri di pondok digembleng untuk disiplin, mulai dari mengaji sampai hal yang kecil-kecil. Setiap hari, Fauzi dan rekan-rekannya membangunkan para santri pada pukul 04.00 WIB dan semuanya harus bersiap menjelang Subuh. “Memang semua dimulai dari hal-hal kecil tapi artinya sangat besar.”

 

Sudah Tradisi

Tradisi sebagai pondok nasionalis yang diterapkan oleh Mbah Lim dan keluarganya terlihat jelas dalam berbagai hal, mulai dari asrama, sekolah hingga masjid. Secara fisik, masjid itu sama dengan masjid-masjid kampung lainnya. Yang membedakan adalah begitu ikamah selesai dikumandangkan.

“Setiap kali sebelum salat, ada doa yang mewakili kondisi negara saat itu. Karena saat ini sedang marak korupsi maka doanya semoga para koruptor itu sadar,” kata Ketua Yayasan Al Muttaqien Pancasila Sakti, Ahmad Choiri Saifudin Zuhri Alhadi, Kamis lalu.

Doa tersebut untuk kebaikan negeri ini. “Ini memang unik, jangankan orang Muhammadiyah atau MTA, orang NU saja pada kaget dengan doa ini,” tuturnya.

Di akhir doa, ada kalimat yang berbunyi “NKRI Pancasila aman, para pengacau agama dan koruptor sadar”. Dulu kalimat itu ditulis sendiri oleh Mbah Lim dan dituliskan pada sebuah kertas yang ditempel di dinding masjid. Ternyata bukan kali ini saja doa tersebut diucapkan menjelang salat. “Bahkan sejak zaman Pak Adam Malik, Soedharmono dan seterusnya, pasti doanya mewakili situasi pada zaman tersebut,” ungkap Zuhri.

Sampai sekarang, doa tersebut selalu dibaca oleh siapa pun yang dapat tugas azan di masjid. Para pengasuh pondok tetap melanjutkan upaya Mbah Lim tersebut. Tradisi mendoakan bangsa dan negara adalah salah satu yang dipelihara, termasuk memperbarui doa jika nanti situasi negara sudah berbeda.

Tradisi lain yang lama ditanamkan kepada para santri dan siswa adalah menghormati bendera dan lagu kebangsaan. Mulai dari acara resmi sampai wayangan, semuanya memakai lagu Indonesia Raya. “Kalau ada yang cengengesan, biasanya dulu ditegur Mbah secara langsung. Siapa lagi yang menghormati simbol negara kita kalau bukan kita sendiri.”

Di sekolah, ajaran nasionalisme lebih terasa. Meskipun MA dan MTs Al Muttaqin adalah sekolah milik pondok, para guru menerapkan kedisiplinan layaknya sekolah-sekolah unggulan. Para siswa yang umumnya juga nyantri di pondok, wajib memakai seragam lengkap dengan topi dan dasi saat di sekolah. Untuk menggembleng kedisiplinan, pihak sekolah bekerja sama dengan Koramil Karanganom untuk mengajarkan beberapa materi.

“Mereka diajarkan kedisiplinan mulai dari protokoler upacara, bela bangsa dan kewarganegaraan. Budaya upacara itu penting untuk menanamkan nasionalisme. Dulu Mbah Lim bercita-cita ingin menanamkan disiplin seperti di SMA Taruna Nusantara,” kata Kepala MA Al Muttaqin, Yayuk Madayani.

Yang jelas mereka membuktikan bahwa nasionalisme itu bisa ditumbuhkan di mana-mana, termasuk di pesantren yang jauh dari perkotaan.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode