Tradisi Apitan, Peninggalan Wali Sanga yang Masih Digelar Turun Temurun di Demak

Tradisi Apitan diyakini mulai diperkenalkan pada masa penyebaran agama Islam di tanah Jawa oleh para Wali Sanga sekitar 5 abad yang lalu.
Tradisi Apitan, Peninggalan Wali Sanga yang Masih Digelar Turun Temurun di Demak
SOLOPOS.COM - Tradisi Apitan di Kabupaten Deman, wujud syukur atas hasil bumi yang melimpah (Sumber: Demakkab.go.id)

Solopos.com,  DEMAK — Tradisi Apitan atau lebih dikenal dengan istilah sedekah bumi adalah tradisi yang lumrah dilakukan oleh masyarakat Jawa, khususnya di Demak. Tradisi tersebut rutin digelar setiap tahun, tepatnya diadakan bulan Apit dalam kalender aboge atau bertepatan dengan bulan dzulqo’dah dalam penanggalan hijriyah.

Mengutip situs Demakkab.go.id, Selasa (20/7/2021), tradisi ini diyakini mulai diperkenalkan pada masa penyebaran agama Islam di tanah Jawa oleh para Wali Songo sekitar 5 abad yang lalu. Seperti yang sudah diketahui, Wali Sanga menggunakan strategi modifikasi budaya untuk melakukan syi’ar Agama Islam.

Tradisi Apitan sendiri merupakan hasil modifikasi dengan budaya Agama Hindu yang sebelumnya merupakan agama mayoritas masyarakat Jawa saat itu. Karena strategi modifikasi inilah akhirnya banyak masyarakat yang tertarik untuk masuk Islam dengan mendeklarasikan kalimat syahadat.

Baca Juga: Warga Jateng Malas Buka Jendela Rumah? Padahal Bisa Cegah Penyebaran Corona

Tradisi Apitan sendiri memiliki makna yang sangat dalam, yakni wujud ungkapan syukur warga terhadap nikmat yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Esa, seperti tradisi sedekah bumi pada umumnya.

Secara filosofis, manusia tercipta dari bagian unsur bumi, kemudian hidup juga di atas bumi, makan dan minum dari terumbuhan dan mahkluk yang mengkonsumsi unsur tanah dan kelak saat manusia meninggal juga akan kembali ke bumi.

Penyelenggaraan Tradisi Apitan di salah satu desa di Kabupaten Demak dilakukan dengan Khataman Al Quran. Selain itu umumnya diisi juga dengan pagelaran wayang kulit, kethoprak dan kesenian yang lainnya. Tidak ada yang keliru dari penyelenggaraan ini karena sebagai bentuk pelestarian budaya yang diinisiasi oleh Sunan Kalijaga, salah satu Wali Sanga yang berdakwah dengan media wayang kulit.

Baca Juga:Tegakkan Aturan PPKM Darurat, Satpol PP Kota Semarang Janji Lebih Humanis

Tidak saja di Kabupaten Demak, penyelenggaraan Tradisi Apit juga rutin digelar di Kabupaten Grobogan, salah satunya di Desa Sumber Jatipohon  yang menggelar arak-arakan 12 gunungan dengan tinggi masing-masing sekitar 2,5 meter menuju obyek wisata alam Jatipohon.

Warga yang mengarak berjalan kaki sejauh berkilo-kilometer dari dusun hingga melintas jalan utama Pati-Grobogan. Sesampainya di lokasi, 12 gunungan yang berisi hasil bumi, baik sayur-sayuran dan buah-buahhan itu kemudian diletakkan berdampingan dan dilanjutkan doa oleh para tokoh dan diamini oleh warga yang memadati lokasi.

Setekah doa selesai, 12 gunungan itupun langsung diserbu ratusan warga yang terdiri dari kaum bapak, kaum ibu dan juga anak-anak. Dipilihnya wisata alam Jatipohon ini juga bertujuan untuk mengangkat keunggulan wisata alam yang ada di Desa Sumber Jatiphon.

Selain digelar sebagai tradisi masyarakat Jawa berdasarkan penggalannya, Tradisi Apitan ini juga kerap diadakan untuk merayakan Hari Raya Idul Adha dengan mengarak hewan ternak sebelum dikorbankan dan dagingnya dibagikan ke warga

Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago