Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Timsus Kapolri Sempat Stagnan, Terbantu Berkat Pengakuan Bharada E

Ferdy Sambo berpotensi sampai ke puncak karier sebagai orang nomor satu di Polri seperti halnya Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
SHARE
Timsus Kapolri Sempat Stagnan, Terbantu Berkat Pengakuan Bharada E
SOLOPOS.COM - Bhayangkara Dua Richar Eliezer (Bharada E) (Istimewa)

Solopos.com, JAKARTA — Tim khusus bentukan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam kasus tewasnya Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat (Brigadir J) sempat tak bisa bergerak pada satu pekan pertama bertugas.

Penyebabnya, karena barang bukti yang terkait dengan kasus Brigadir J, termasuk kamera CCTV, hilang atau dihilangkan.

PromosiNimo Highland, Wisata Hits di Bandung yang Mirip Santorini Yunani

Pengusutan kasus yang awalnya ditangani Polda Metro Jaya pun diambil alih Bareskrim Polri. Belakangan terungkap, sedikitnya 31 polisi mulai dari jenderal hingga tamtama terlibat dalam skenario kematian Brigadir J tersebut.

“Pada awal mengusut harus kami akui memang kami jalan di tempat. Sepekan itu sulit untuk melakukan pengusutan karena barang buktinya banyak yang hilang,” ujar Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Agung Budi Maryoto saat mendampingi Kapolri dalam jumpa pers, Selasa (9/8/2022) malam lalu.

Baca Juga: Jejak Berdarah Duren Tiga Akhiri Karier Moncer Ferdy Sambo

Namun semuanya mulai menemui titik terang berkat pengakuan Bhayangkara Dua Richard Eliezer (Bharada E), yang sejak awal menjadi kambing hitam penembakan Brigadir J.

Bharada E yang merasa bersalah berani buka suara namun meminta perlindungan kepada pimpinan Polri.

Satu persatu skenario yang dibikin Ferdy Sambo dan kawan-kawan mulai terbongkar. Penetapan Bharada E sebagai tersangka membuka tabir semuanya.

Baca Juga: Kasus Ferdy Sambo Disorot Media Malaysia, Singapura dan Australia

Bharada E yang semula bungkam akhirnya berani bicara setelah sebelumnya ia bertemu orang tuanya.

“Bharada E menulis sendiri pengakuannya tanpa ditanya dan itu dituangkan dalam tulisan dengan cap jempol dan materai,” ujar Irwasum.

Mulai bersuaranya Bharada E itu setelah ia bertemu orang tuanya.

Baca Juga: Pengacara Sebut Asmara Polwan dan Ferdy Sambo, Benarkah Rita Yuliana?

Kemungkinan besar Bharada E mendapat petuah dari orangtuanya untuk jujur yang sekaligus akan meringankan hukumannya kelak.

Bharada E mengungkapkan dirinya hanya diperintah untuk menembak oleh Ferdy Sambo. Laiknya bawahan mematuhi perintah atasan.

“Jadi Saudara FS (Ferdy Sambo) inilah yang tembak dinding berkali-kali agar seolah-olah terjadi baku tembak,” tutur Kapolri dalam jumpa pers.

Baca Juga: Bharada E: Jika Tidak Menembak, Saya yang Ditembak

Kapolri juga menjelaskan fakta hukum baru terungkap setelah pihak tersangka Bharada E mengajukan diri sebagai justice collaborator dan mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di kediaman dinas tersangka Irjen Pol Ferdy Sambo.

Penasihat hukum Bharada E, M. Boerhanuddin menyatakan kliennya siap membuka semuanya secara jujur peristiwa kematian Brigadir J.

“Semuanya sudah kami tuangkan di pemeriksaan. Jadi saya tidak bisa bicara banyak,” ujar Boerhanuddin yang terlihat sangat berhati-hati saat berbicara kasus yang membuat 11 perwira Polri dicopot dari jabatan mereka itu.

Baca Juga: Pembunuhan Brigadir J karena Kisah Asmara Ferdy Sambo Terbongkar?

Ferdy Sambo dan tiga anak buahnya, yakni Bharada E, Bripka RR dan warga sipil berinisial KM dikenakan Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana dengan ancaman hukuman maksimal mati.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode