Tidak Ada Riwayat Sakit Seperti Tukul Arwana, Berapa Besar Risiko Terkena Pendarahan Otak?

Meski tidak ada riwayat sakit sebelum terkena pendarahan otak, namun sebenarnya Tukul Arwana sudah menunjukkan sejumlah gejala.
Tidak Ada Riwayat Sakit Seperti Tukul Arwana, Berapa Besar Risiko Terkena Pendarahan Otak?
SOLOPOS.COM - Tukul Arwana. (Instagram/@tukul.arwanaofficial)

Solopos.com, SOLO-Dua rekan artis Tukul Arwana, Maria Vania dan Ucie Sucita, mengingat sebelum mengalami pendarahan otak, sang presenter itu tak memiliki riwayat sakit. Bahkan mereka mengenang pria yang kondang lewat kalimat “Kembali ke laptop” itu selalu tampil sehat dan bahagia di lokasi syuting.

Meski tidak ada riwayat sakit sebelum terkena pendarahan otak, namun sebenarnya Tukul Arwana sudah menunjukkan sejumlah gejala. Hal ini seperti diungkapkan Maria Vania yang mengaku melihat sang pembawa acara itu minta obat sakit kepala dan sering tiduran di sela-sela syuting. Namun dia menganggap hal itu lantaran pemain film Otomatis Romantis itu sedang kelelahan atau kurang tidur.

Bisa jadi di luar sana juga banyak orang mengalami pendarahan otak meski tidak ada riwayat sakit seperti dialami Tukul Arwana. Lalu seberapa besar risiko mengalami serangan tersebut?

Baca Juga: Kebiasaan Tukul Arwana Saat Syuting Diungkap Maria Vania dan Ucie Sucita

Menurut dokter spesialis saraf dari RS Pondok Indah, dr Rubiana Nurhayati, SpS, yang dialami oleh Tukul disebut dengan stroke perdarahan atau biasa disebut pendarahan otak, ini terjadi karena pecahnya pembuluh darah.

“Bisa saja beliau tidak tahu kalau ada hipertensi atau kelainan pembuluh darah otak seperti aneurisma atau AVM,” paparnya seperti mengutip laman Detik.com, Jumat (24/9/2021).

Dijelaskan dr Ruby, pencegahannya adalah harus rutin kontrol untuk faktor-faktor risiko stroke seperti hipertensi, kolesterol kekentalan darah, diabetes melitus. Sebab, stroke pendaharan ini timbulnya selalu mendadak tanpa adanya gejala yang menyertai.

“Aneurisma atau AVM bisa pecah sewaktu2 dengan atau tanpa faktor pemicu,” pungkasnya.

Sementara menurut Ketua Indonesian Stroke Society (ISS), dr. Adin Nulkhasanah, SpS, MARS. pendarahan otak meski tidak ada riwayat sakit ini dapat dicegah dengan mengetahui dan melakukan kontrol faktor risiko sejak dini.

Baca Juga: Alas Bedak Mengandung SPF, Efektifkah Lindungi Kulit dari Sinar Matahari?

Meski tidak ada riwayat sakit namun sebaiknya Anda mengecek kondisi kesehatan orang tua. Salah satu faktor risiko pendarahan otak adalah orang-orang yang memiliki orang tua dengan riwayat hipertensi.

“Ketahui dan kontrol faktor risiko sejak dini. Apabila mempunyai orang tua dengan riwayat hipertensi (misalnya), kita mesti rutin memeriksakan diri,” kata Adin seperti dikutip dari Liputan6.com, Jumat (24/9/2021).

Ia menambahkan, selain faktor keturunan, beberapa faktor risiko utama terjadinya stroke perdarahan adalah hipertensi, diabetes, merokok, dan minimnya aktivitas fisik.

“Namun, ada juga stroke perdarahan yang disebabkan kelainan pembuluh darah [aneurisma, AVM].”

Baca Juga: Kabar Baik! Risiko Anak Mengalami Long Covid-19 Rendah

Adin juga menjelaskan tentang gejala yang dapat timbul akibat pendarahan otak. Umumnya, pasien pendarahan otak mendadak mengalami nyeri kepala hebat disertai muntah saat sedang beraktivitas.

“Gejala dapat disertai munculnya kelemahan separuh tubuh atau bicara cadel dan bisa juga berupa penurunan kesadaran.”

Terkait gejala tersebut, tatalaksana yang dapat dilakukan untuk pasien pendarahan otak adalah segera membawanya ke rumah sakit.

“Setiap pasien dengan stroke perdarahan, sejak di IGD akan dinilai derajat keparahan berdasar pemeriksaan klinis dan hasil CT Scan. Tujuan penanganan stroke perdarahan ini adalah agar tidak terjadi perdarahan ulang pada jam-jam awal kejadian [terapi suportif].”

 

Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago