The Chinese Way
Solopos.com|kolom

The Chinese Way

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 19 Februari 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Solopos.com, SOLO -- Saya ingat persis, beberapa tahun lalu, tak lebih dari dua dekade, kita seperti alergi bila mendengar produk China. Persepsi orang kebanyakan dan jamak dipersepsikan kualitasnya jelek. Namun, hari ini, semuanya berbalik. Dunia seolah-olah memiliki ketergantungan yang besar terhadap China.

Presiden Amerika Serikat sampai melancarkan perang dagang secara terbuka untuk mencoba mengikis kedigdayaan rantai pasok China yang semakin ”mendominasi” ekonomi Amerika Serikat. Alih-alih memenangi perang dagang, Donald Trump, sang presiden itu, gagal terpilih lagi untuk memimpin kembali Amerika Serikat dalam periode kepresidenan kedua.

Ia dikalahkan politikus  veteran Joe Biden, Wakil Presiden saat Barrack Obama menjabat Presiden Amerika Serikat. China semakin melenggang dengan kemajuannya, bahkan dalam mengelola Covid-19, pandemi paling menakutkan dan ”mematikan” pada dekade ini.

China nyaris unggul segalanya. Sedikit kasus dengan fatalitas yang rendah. Dan, bisa ”jualan” vaksin lebih cepat daripada negara-negara lain.

Di luar itu, ekonomi China tetap melaju tumbuh positif. Tahun lalu, ekonomi China tumbuh 2,3%, pada saat hampir semua negara (kecuali Vietnam yang tumbuh 2,5%) di seluruh dunia terpuruk.

Negara-negara adidaya ekonomi dunia, seperti Amerika Serikat terkapar. Negara-negara di Eropa terpuruk. Begitu pula Jepang. Juga Indonesia, yang mengalami resesi dengan pertumbuhan ekonomi minus 2,07%. Namun, China tidak. Berkat penanganan pandemi yang cepat, setelah pengalaman mengelola wabah SARS pada awal dekade 2003, ekonomi China selamat.

Bukan itu saja. Tak banyak yang tahu, China hari ini sedang ngebut dengan proyek baru, untuk membuat ikon baru di mata dunia. Kereta cepat. Ya, China tak diragukan lagi bakal menjadi raja kereta cepat dunia.

Ceritanya tak sengaja, saat sedang di rumah awal pekan ini, saya melihat di kanal Discovery Channel yang tengah melaporkan peradaban baru China itu. Laporan tersebut membuat saya nggak beranjak ke urusan lain. Menyimak, ingin tahu.

Saat ini, China tengah ngebut menuntaskan jalur kereta cepat yang akan jadi ikon baru itu: jalur spektakuler Beijing-Zhangjiakou. Zhangjiakou adalah kota di sebelah utara di kaki pegunungan Tembok Besar China di Provinsi Hebei, yang akan menjadi tandem Beijing sebagai tuan rumah Olimpiade musim dingin tahun 2022. Setahun lagi. Karenanya proyek kereta cepat itu harus dikebut.

Olimpiade Musim Dingin Beijing-2022 itu akan digelar pada bulan Maret, bertepatan dengan tahun baru Imlek. Zhangjiakou akan menjadi kota yang memesona karena banyak pertandingan luar ruang digelar di kota itu dengan latar belakang Tembok Besar China.

Maka, konektivitas Zhangjiakou-Beijing menjadi prioritas utama. Apabila jalur kereta cepat itu rampung dan beroperasi, jarak Beijing-Zhangjiakou yang sekitar 200 km akan ditempuh maksimal hanya 50 menit saja.  Saat ini, dua kota itu ditempuh dalam waktu kira-kira tiga jam.

Proyek yang dimulai tahun 2016 tersebut bukan pekerjaan gampang. Harus menembus zona pegunungan yang di atasnya terdapat warisan sejarah yang menjadi keajaiban dunia: Tembok Besar China alias the Great Wall.

China memang harus ngebut biar perpindahan atlet yang akan bertarung di Olimpiade musim dingin itu menjadi lebih mudah dan cepat. Juga nyaman. Mimpi otoritas China jelas. Jalur Beijing-Zhangjiakou itu akan menjadi sebuah kebanggaan China.

Selain ada terowongan menembus pegunungan di bawah the Great Wall, juga ada banyak jembatan dan jalur layang sepanjang 15 km. Pengerjaannya tentu tak mudah karena konstruksi jalur itu harus sekaligus melestarikan warisan sejarah yang merupakan satu dari tujuh keajaiban dunia.

Maka, tak mengherankan proyek yang dicanangkan pada tahun 2016 itu baru akan kelar tahun ini. Tentu amat berbeda dengan proyek kereta cepat Beijing-Shanghai sepanjang 1.300 km lebih (kira-kira sejauh Jakarta-Bali), yang selesai hanya dalam dua tahun, karena nyaris tak banyak kendala topografi dan geologis.

Dengan proyek Beijing-Zhangjiakou itu, di seluruh China yang dihuni 1,4 miliar warga, akan memiliki jalur kereta cepat sepanjang 35.000 km. Lihat angka itu, saya kok jadi ingat proyek listrik 35.000 MW yang dicanangkan pemerintah Indonesia. Saya nggak tahu bagaimana kabarnya.

Bandingkan pula dengan jalur kereta cepat pertama milik Indonesia yang kini hampir selesai, yakni Jakarta-Bandung, sepanjang 142 km. Ini adalah jalur kereta cepat yang direncanakan mulai beroperasi tahun depan atau paling lambat awal 2023. Itu pun dibangun setelah terlalu banyak tarik ulur dan pro-kontra.

***

China tentu bangga bukan semata-mata lantaran memiliki jalur kereta cepat terpanjang di dunia yang dibangun dalam waktu relatif singkat. Keraguan dunia bahwa keahlian kereta cepat hanyalah milik Eropa (terutama Prancis dan Jerman) serta Jepang, kini terpatahkan.

China membuktikan negeri itu mampu mengembangkan craftmanship sendiri dalam belantara kereta cepat. Bukan sekadar infrastrukturnya, tetapi juga teknologi sekaligus sumber daya manusianya. Ini berkat riset yang kuat, komitmen, sekaligus pelatihan yang masif.

Itu semua disiapkan dalam waktu relatif singkat selama dua dekade terakhir. Mimpinya adalah China akan menguasai ”balapan” kereta cepat yang tercepat di dunia. Dari sisi infrastruktur, tak diragukan kemampuan China membangun 35.000 km jalur kereta cepat dalam tempo relatif singkat.

Selain menembus pegunungan, juga banyak jembatan dan jalur layang. Sedikitnya 60% jalur kereta cepat China dibangun melewati jembatan atau elevated. Dari sisi keretanya, bahkan kini China telah siap meluncurkan versi terbaru kereta cepat yang dinamakan Fuxinghao.

Jepang, yang lebih ”senior” dalam urusan kereta cepat, terlebih dahulu memiliki "kereta peluru" yang dinamai Shinkansen. Fuxinghao diklaim mampu menghemat energi hingga 17% per 100 km jarak tempuh. Kereta sepanjang 209 meter itu telah melewati serangkaian proses uji coba dan siap pakai.

Otoritas China tampaknya tidak main-main dalam balapan kereta cepat dunia. Bukan sekadar menetapkan standar yang semakin tinggi untuk kecepatan, tetapi juga kenyamanan, dan tentu saja keselamatan, melalui serangkaian uji laboratorum.

Untuk kenyamanan, China mengembangkan rel dengan sedikit pengelasan. Panjang ruas rel adalah 500 meter sehingga penumpang akan merasa nyaman duduk di kereta yang melaju hingga lebih dari 300 km per jam.

Untuk menjaga standar keselamatan, jalur kereta cepat China diawasi dan diperiksa secara reguler. Pemeliharaan jalur yang mencakup rel serta jaringan kelistrikan dilakukan tiap hari antara pukul 00.30 hingga 04.30 dini hari mengingat kereta harus jalan dari pagi hingga malam hari.

Banyak sekali tim atau regu ditugaskan bersamaandengan bantuan teknologi untuk memelihara jalur sepanjang 35.000 km itu. Tentu semua itu didukung ketersediaan sumber daya manusia terlatih yang digembleng di  Pusat Pelatihan Kereta Cepat Wuhan serta riset sejumlah universitas di China.

Dan dari pengalaman saya, beberapa kali bersama keluarga naik kereta cepat China dalam perjalanan Beijing-Shanghai bolak-balik maupun Shanghai-HangZhou serta Beijing-Tianjin, semua jalur itu nyaman dan tepat waktu. Tidak ada kebisingan dalam kabin dan relatif tidak terasa goyangan sepanjang perjalanan.

Tak mengherankan, trust terhadap kereta cepat China semakin meningkat. Sejumlah negara bahkan bekerja sama dengan China dalam membangun kereta cepat, termasuk Indonesia. Dan, di China sendiri, kereta cepat sudah mengangkut 1,7 miliar penumpang setiap tahun.

***

Jangan salah kira. Tentu saya tidak bermaksud mengikis rasa nasionalisme kita ketika memuji kemajuan bangsa lain yang dianggap negara sosialis itu. Itu semata-mata untuk bahan pelajaran dan perenungan. Mumpung masih dalam suasana tahun baru Imlek, tahun baru China.

Buat saya, kendati ideologi China adalah sosialis dengan sistem pemerintahan otoritarian, China menjalankan ekonomi dengan jalan kapitalis sejati. Banyak ahli menyebut semua itu sebagai Cara China alias The Chinese Way.

Sudah terbukti, bahkan Presiden Donald Trump sampai tak mampu menahan diri untuk memerangi China dalam urusan ekonomi, yang membuat seluruh dunia gonjang-ganjing. Dan, China tak tergoyahkan.

Maka saya heran saja kalau masih banyak orang di sekitar kita sering berteriak China komunis, seolah-olah negara itu melulu berkutat urusan ideologis. Jangan salah sangka dan kemudian terlena. Kemajuan kereta cepat hanyalah satu contoh nyata dari banyak pencapaian ekonomi China.

Dan, dengan caranya, China akan mengambil alih kepemimpinan dan penguasaan ekonomi dunia dalam waktu yang tak terlalu lama. Berkat sistem kenegaraan dan kepemimpinan yang firm, strategi ekonomi yang pragmatis dan street smart, serta stabilitas politik yang nyaris tak tergoyahkan. Jangan lupa, orang-orangnya pintar pula! Nah, bagaimana menurut Anda?

 




Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler

Espos Premium
Berita Terkini
Indeks

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago