Tetaplah di Rumah demi Kemanusiaan Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 2 Juli 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).
Tetaplah di Rumah demi Kemanusiaan Kita

Saya mengenal M. Nasser secara virtual. Nomor teleponnya saya dapatkan dari Deputi Kedaruratan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Dody Ruswandi. Semua bermula ketika begitu banyak orang mencari tempat perawatan Covid-19 dalam dua pekan terakhir ini.

M. Nasser adalah seorang dokter spesialis. Kendati berusia 68 tahun, suaranya keras menggelegar, penuh semangat. Saya iri, bagaimana orang sesenior dan pada masa mudanya pernah jadi wartawan ini begitu energik dan tak kenal lelah. Dia bercerita telah menerima begitu banyak permintaan dari tenaga kesehatan yang terpapar Covid-19.

Pada Selasa (29/6/2021) ada lima orang dokter di sejumlah kota di Jawa sedang menunggu ruang perawatan ICU. Sehari sebelumnya dua dekan fakultas  kedokteran  dari universitas ternama di Bandung dan Jakarta juga terpapar Covid-19 dengan kondisi kurang baik.

Kepada saya, M. Nasser mengeluhkan soal rumah sakit yang penuh sehingga banyak pasien tidak tertolong. Dia mencatat selama Juni 2021 ada 31 dokter, kebanyakan spesialis, meninggal dunia karena Covid-19, lima kali lipat dari kematian pada 2021 yang Mei sebanyak enam orang dokter.

Kematian dokter dan tenaga kesehatan ini sungguh mencemaskan karena mereka adalah benteng terakhir dalam penanganan Covid-19. Para tenaga kesehatan bekerja harus berjibaku di sisi hilir, ketika dari sisi hulu yakni kepatuhan masyarakat menjalankan protokol kesehatan tidak berjalan baik.

Sejak awal pandemi, M. Nasser bersama sejumlah dokter yang lain, termasuk Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng Faqih bergerak untuk melindungi tenaga kesehatan. Ketua Satuan Tugas Penananganan Covid-19 saat itu, Doni Monardo, menyambut aksi humanis ini dengan membentuk bidang perlindungan tenaga kesehatan pada struktur lembaga yang dia pimpin.

Urusan awal saya dengan M. Nasser adalah soal mencari tempat merawat pasien Covid-19. Situasi memang sangat genting karena begitu banyak kerabat, teman, bahkan orang yang sebelumnya tidak dikenal menghubungi. Semua minta bantuan yang sama, tempat perawatan untuk pasien.

Seperti ketika salah seorang rekan yang bekerja di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengabarkan terpapar virus penyebab Covid-19 bersama suaminya. Sang suami memiliki saturasi oksigen dalam darah yang cukup rendah dan mulai sesak napas, sementara sang  istri khawatir karena memiliki komorbid.

Dari pagi hingga malam tak juga ada kabar baik bagi kedua pasien ini. Sampai kemudian M. Nasser mengabarkan sebuah rumah sakit di Kota Tangerang, Banten, memiliki satu ruang perawatan kosong pada pukul 20.21. Pada saat yang sama, kantor KPK juga menghubungi bila tersedia kamar di sebuah rumah sakit di Jakarta selatan. Lega.

Namun, dalam dua pekan berinteraksi, tidak semua usaha kami berhasil. Beberapa di antaranya bahkan terlambat; tempat perawatan diperoleh saat pasien telah meninggal dunia. M. Nasser selalu antusias setiap saya kirimkan data pasien, bahkan tak jarang lalu menelepon balik.

Kami bersepakat untuk menjadi penghubung antara pasien dan rumah sakit yang mungkin masih menyediakan tempat. Beberapa usaha gagal. Kami tahu, rumah sakit sedang kewalahan menangani pasien.

Sampai kemudian M. Nasser juga tertular Covid-19 untuk kali kedua, Senin (28/6/2021). Saya berdoa untuk kesembuhannya. Saya terus berharap masa kritis dalam pandemi ini segera berlalu, dengan kolaborasi semua pihak, termasuk kesadaran semua individu di negeri ini; berdiam diri di rumah, setidaknya sampai laju penularan bisa dikendalikan.

***

Apa yang dilakukan M. Nasser dalam menembus ketersediaan ruang perawatan rekan sejawatnya yang terpapar virus corona juga dilakukan oleh banyak orang. Negeri kita memang tidak sedang baik-baik saja seiring makin melonjaknya penularan Covid-19.

Kemarin, bertepatan dengan keputusan pemerintah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat pada 3-20 Juli 2021, penambahan kasus berada di level tertinggi yakni 24.836 orang. Angka kematian harian juga berada pada level yang mencemaskan, yakni 504 jiwa dalam sehari.

Saya tahu, bahwa tingkat keterisian rumah sakit terutama di sejumlah provinsi seperti DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Barat telah melampaui masa  kritis. Ini tidak bisa kita biarkan karena berapa pun ruang perawatan ditambah, tak akan mampu menangani pasien tanpa intervensi di sektor hulu, kepatuhan menjalankan protokol kesehatan.

Disiplin menjalankan protokol kesehatan sejauh ini cukup efektif dalam menekan kasus penularan. Dalam lonjakan kasus yang begitu tinggi sekarang, berdiam diri di rumah adalah sedikit dari pilihan yang bisa diambil. Tentu kita tidak ingin kasus melonjak hingga ratusan ribu orang per hari seperti India.

Kita punya cermin yang sangat besar dan jernih dari pengalaman negeri tersebut, termasuk bagaimana mereka bisa menurunkan kasus hingga 700% hanya dalam waktu kurang dari dua bulan. Lonjakan kasus yang terjadi dalam satu bulan terakhir salah satunya dipicu varian delta dari India.

Para epidemolog hingga Ikatan Dokter Indonesia (IDI) juga telah menyarankan sebuah pembatasan lebih keras dan tegas. Pemerintah menjawabnya dengan PPKM Darurat. Target pembatasan sosial kali ini sangat berat, yakni menurunkan kasus hingga kurang dari 10.000 per hari.

Pertaruhan ekonominya juga sangat besar, yakni di 48 kabupaten/kota di Pulau Jawa dan Bali, tempat lonjakan kasus kini terjadi. Di kolom yang sama, saya pernah menulis betapa beratnya situasi yang dihadapi masyarakat saat kasus meninggi. Pandemi ini memang belum usai dan Indonesia biasanya bergerak di belakang kurva.

Dalam PPKM Darurat pusat perbelanjaan ditutup,  tempat ibadah ditutup, bahkan perkantoran diwajibkan mempekerjakan 100% karyawan dari rumah. Berkejaran dengan waktu, vaksinasi dikebut terutama di daerah berzona merah.

Beban ekonomi dari kebijakan baru pasti sangat tinggi, menambah tekanan yang terjadi dalam lima belas bulan terakhir. Namun, ada saatnya kita memilih, dengan risikonya sangat besar. Lalu, bagaimana bisa menjamin bahwa jurus pamungkas ini akan efektif? Apakah masyarakat juga akan patuh pada periode PPKM Darurat bila menilik pengalaman sebelumnya?

Mengenai hal ini, Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Luhut B. Pandjaitan memastikan pemerintah akan menggunakan segala sumber daya untuk memastikan PPKM Darurat ini berjalan efektif.  Ini akan ditempuh dengan mekanisme penegakan hukum di lapangan.

Namun, lepas dari regulasi PPKM Darurat beserta segala sumber daya yang dikerahkan pemerintah, rasanya kita bisa melihat apa yang terjadi di lingkungan sekitar. Ketika makin banyak orang terdekat yang tertular, bahkan meninggal, rasanya penting untuk semua peduli.

Saya menyaksikan bagaimana situasi rumah sakit yang kewalahan, pasien tak mendapatkan tempat, bahkan korban meninggal harus antre menunggu pemakaman. Ini memang kondisi darurat, tak bisa lagi menyangkal ketika data dan angka telah berbicara, demi kemanusiaan kita.

Dengan demikian, tak ada pilihan lagi bagi kita selain mengikuti pertaruhan ini, berupaya sekuat tenaga untuk berkontribusi, dengan tetap berdiam di rumah dalam 17 hari ke depan. Ini memang tak kalah menyakitkan, namun kita tidak punya banyak pilihan selain menahan diri atau mati.

 

 

 


Promo & Events
Berita Terkait
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago