Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Terpidana Kasus Bom Bali Umar Patek Bebas Bersyarat

Terpidana kasus bom Bali tahun 2002, Umar Patek, bebas bersyarat pada hari yang sama dengan bom bunuh diri di Mapolsek Astanaanyar, Kota Bandung meledak, Rabu (7/12/2022).
SHARE
Terpidana Kasus Bom Bali Umar Patek Bebas Bersyarat
SOLOPOS.COM - Umar Patek. (Solopos.com-dok)

Solopos.com, JAKARTA — Terpidana kasus bom Bali tahun 2002, Umar Patek, bebas bersyarat pada hari yang sama dengan bom bunuh diri di Mapolsek Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat meledak, Rabu (7/12/2022).

Umar Patek dibebaskan dari Lapas Kelas I Surabaya melalui program pembebasan bersyarat pada Rabu (7/12/2022).

PromosiMesin Baru di Mitsubishi L300 Euro 4: Lebih Bertenaga, Hemat Bahan Bakar

Banyak pihak menyoroti pembebasan bersyarat Umar Patek. Salah satunya karena pelaku bom bunuh diri di Mapolsek Astanaanyar, Agus Muslim, juga mantan narapidana terorisme.

Kuis Solopos - Seru-seruan Asah Otak

Pengamat terorisme dari The Community Of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya, mengomentari hal tersebut. Dia mengatakan profil Umar Patek berbeda dengan pelaku bom bunuh diri di Mapolsek Astanaanyar, Kota Bandung pada Rabu (7/12/2022), Agus Muslim.

Harits mengatakan ada banyak perbedaan antara Umar Patek dengan Agus Muslim. Salah satunya terkait program deradikalisasi.

Baca Juga : Hukuman Umar Patek Berkurang 5 Bulan, Australia Marah

“Kalau Umar Patek ini termasuk yang ikut program deradikalisasi. Dia ikrar setia kepada NKRI dan macam-macam,” ujar Harits, Kamis (8/12/2022).

Sementara itu, Agus Muslim merupakan mantan narapidana terorisme yang tak mengikuti program deradikalisasi. “Dia [Agus] keluar penjara itu masih punya catatan merah karena tidak ikut program deradikalisasi,” jelasnya.

Selain itu, dia mengatakan Umar Patek dan Agus Muslim berafiliasi dengan kelompok yang berbeda. Umar Patek berasal dari Jemaah Islamiyah (JI) sedangkan Agus Muslim teridentifikasi berafiliasi dengan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Kedua kelompok tersebut, lanjut Harits, mempunyai metode berbeda. JAD yang juga berafiliasi dengan ISIS sering kali melakukan aksi menarik perhatian banyak orang. Di sisi lain, JI lebih berfokus kepada pengaderan.

“Jamaah Islamiyah lebih fokus kepada pengaderan, menemukan badan, istilahnya seperti itu. Pengembangan jaringan,” ungkapnya.

Baca Juga : Pelaku Bawa 2 Bom Bunuh Diri ke Mapolsek Astanaanyar, Hanya 1 yang Meledak

Oleh sebab itu, Harits menyarankan agar masyarakat jangan langsung mememberikan stigma kepada para mantan narapidana terorisme. Dalam kasus ini adalah Umar Patek.

Dia menjelaskan jika para mantan narapidana terorisme langsung ditolak masyarakat ketika keluar dari penjara maka akan meningkatkan peluang mereka kembali melakukan aksi kejahatan.

“Jadi ini kan hukuman sosial tidak seindah yang diharapkan individu. Stigma selalu muncul. Akhirnya ini membuat tekanan psikis dan orang ini akan teralienisasi, terlempar dari pusaran kehidupan sosial normal. Akhirnya tidak akan kembali pada komunitasnya dan semakin mengkristal kemarahannya,” jelas Harits.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul Umar Patek Bebas, Pengamat: Beda dengan Pelaku Bom Polsek Astanaanyar



Info Digital Tekno
Indeks
Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Info Perbankan
Indeks
Interaktif Solopos
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Kuis Solopos - Seru-seruan Asah Otak
      Emagz Solopos
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Interaktif Solopos
      Kuis Solopos - Seru-seruan Asah Otak
      Solopos Stories
      Part of Solopos.com
      ISSN BRIN
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode