Terjebak di Kubangan Digital

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 17 Juni 2021. Esai ini karya Aris Setiawan, esais yang tinggal di Kota Solo, Jawa Tengah.
Terjebak di Kubangan Digital

Solopos.com, SOLO — Seorang teman saya marah-marah di laman akun media sosialnya gara-gara Ikatan Cinta, sinetron berseri yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi nasional. Sinetron itu ia anggap semakin tidak jelas jalan ceritanya.

Cerita yang disajikan semata-mata mengejar rating tapi tidak memperhatikan psikologis penonton yang mulai lelah. Saya merasa penasaran. Saya klik halaman lini masa media sosialnya. Yang membikin saya lumayan kaget, hampir semua unggahannya adalah tentang sinetron itu.

Uniknya, ia seolah-olah memiliki komunitas yang “seselera”, saling berbagi berita dan cuitan. Setiap hari mengakses informasi tentang sinetron itu. Informasi itu memang bisa ia dapatkan dengan mudah. Demikian pula anggota komunitasnya.

Tanpa harus mencari, algoritme media sosial menyediakan semuanya. Pada konteks inilah, algoritme mengklasifikasi publik menjadi ruang-ruang eksklusif, hanya dihuni oleh manusia-manusia yang memiliki kesamaan dan kesepahaman pemikiran tentang sesuatu.

Eksklusif

Gejala perilaku warganet di media sosial mengandung satu karakter yang sama, yakni bergerombol atau berkoloni. Hal itu terjadi lantaran mereka disatukan dalam ruang kebutuhan yang sama. Berteman dengan orang-orang yang memiliki kesamaan hobi, kesamaan perilaku, dan bahkan kesamaan dalam membenci sesuatu.

Hidup manusia telah terkaveling-kaveling berdasarkan atas apa yang mereka klik dan dukai dalam jagat digital atau virtual. Segala berita tentang Ikatan Cinta, misalnya, wajib dikonsumsi, sudah masuk dalam kadar ketagihan, harus mereka lahap setiap hari, bahkan menit.

Indikasinya, penggemar rela memburu akun media sosial istri Arya Saloka (pemeran Aldebaran) hanya untuk menghujat dan mencaci habis-habisan, dia dianggap tak sesempurna sosok Andin (diperankan Amanda Manopo). Gejala demikian sebenarnya adalah potret jamak dari kehidupan bermasyarakat kita.

Ruang gerak manusia telah direduksi menjadi yang disebut algoritme digital. Media sosial, sebutlah Facebook misalnya, setiap hari merekomendasikan apa pun yang kita inginkan, seperti produk atau barang dagangan, berita, dan unggahan video.

Dari ribuan teman, status yang hadir teratas di beranda (kala kita buka kali pertama pada pagi hari setelah bangun tidur) adalah yang itu-itu saja. Facebook telah menyaring siapa yang sering berinteraksi dengan kita dan dengan demikian status dari mereka akan kita jumpai pertama dibandingkan dengan yang jarang berinteraksi.

Hal itu juga menyangkut pandangan dan pemikiran. Jamak kita menjumpai seseorang yang tersesat di ranah digital karena algoritme menuntun mereka dalam dunia yang hanya ingin mereka “huni”. Sebagaimana misalnya beberapa waktu lalu kita disuguhi aksi terorisme yang pelakunya masih berusia muda, bahkan tergolong anak-anak.

Besar kemungkinan mereka tersedot dalam “lubang hitam” (black hole) bernama dunia maya tak bertepi. Algoritme digital memungkinkan mereka mendapatkan informasi atau sumber berita dari yang hanya dikehendaki. Tak ada pembanding.

Akibatnya mereka semakin tersesat, semakin masuk lebih dalam, terjebak fanatisme berlebihan, kemudian menganggap bahwa apa-apa yang tak sepaham dengan pemikirannya adalah salah dan oleh karena itu harus dilawan, bila perlu dibunuh.

Puncaknya adalah keterisolasian digital. Berakibat seseorang menjadi lebih eksklusif. Tak mampu menerima pendapat berbeda. Mati-matian membela keyakinan tanpa pernah mau menengok keyakinan pihak lain. Algoritme digital seolah-olah menempatkan mereka sebagai pribadi-pribadi unik termanjakan.

Semua hal yang yang mereka inginkan terpenuhi secara terus-menerus, kendati dalam konteks pemahaman yang salah, keliru, dan bahkan berbahaya. Pada konteks inilah hakikat kebenaran menjadi semakin sumir. Setiap individu memercayai kebenaran versi masing-masing dengan dukungan ilusif dari jagat digital.

Sekali lagi, algoritme merekam segala aktivitas dari jejak klik yang kita lakukan. Oleh karena itulah, siapa kita sebenarnya sudah terbaca dengan sangat jelas dalam angka-angka itu, kemudian akan diketahui tentang apa yang kita butuhkan, apa yang harus kita lakukan, termasuk bagaimana cara melakukan itu.

Contohnya, dengan mudah kita jumpai anak muda mampu merakit bom, merakit senjata api, dan termasuk cara menggunakannya. Informasi yang mereka dapatkan itu (meminjam istilah Jean Baudrillard) semacam ekstase, kebutuhan yang tak tergantikan.

Filter Bubble

Ada kutipan yang menarik dari Marshall McLuhan yang berbunyi “we shape our tools, and thereafter our tools shape us”, kami membentuk alat kami, dan setelah itu alat kami membentuk kami. Lewat media sosial, manusia menciptakan algortime digital, setelah itu algorite digital membentuk manusia.

Pengelompokan manusia di ranah digital sebenarnya dilakukan untuk memudahkan klasifikasi dan kategori. Tentu saja hubungannya dengan iklan atau kepentingan kapitalis-komersial. Dengan mengetahui karakter dan jenis manusia, iklan menjadi lebih terarah atau tepat sasaran.

Hal itu justru membuat manusia mengalami satu situasi yang tak mampu menikmati kekayaan melimpah ilmu pengetahuan, menghargai perbedaan, dan indahnya keberagaman. Fenomena ini oleh Eli Pariser (2011) disebut sebagai filter bubble atau gelembung saringan.

Filter bubble hanya menerima individu-individu sejenis, sepaham, dan sealiran. Hal itu berpotensi keliru dalam memandang dunia kerena berdasar sudut pandang kacamata kuda. Mereka berlarut-larut terjebak dalam kubangan yang sama, tak mampu keluar, dan pada akhirnya rasionalitas akan lenyap.

Algoritme memungkinkan manusia mengenali tentang siapa dirinya, bahkan pada masa depan, siapa jodoh yang tepat bagi tiap individu, di kota mana harus tinggal, makanan apa yang harus dimakan, siapa yang harus dibenci dan dicintai, di mana Tuhan, serta kapan kemungkinan akan meninggal. Semua terjawab dengan mudah.

Perkara benar dan salah jawaban itu adalah lain soal. Filter bubble membentuk kaum-kaum fanatik puritan, melahirkan kelompok eksklusif, memandang yang lain adalah aneh karena tidak sama dengan mereka, dan puncaknya adalah intelektualitas akan mati karena tak memungkinkan lagi untuk belajar tentang apa pun selain yang hanya diyakini atau dipercayai.

Ini sebagaimana mereka yang meyakini sosok Aldebaran di sinetron Ikatan Cinta itu sebagai lelaki paling tampan di dunia ini, padahal saya yang menulis esai ini juga laki-laki. Urusan ketampanan, tentulah berani diadu.

Promo & Events
Berita Terkait
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago