top ear
Pekerja mencari mulut luweng di Dusun Joho Kidul, Desa Joho, Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri, Senin (15/2). (Istimewa)
  • SOLOPOS.COM
    Pekerja mencari mulut luweng di Dusun Joho Kidul, Desa Joho, Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri, Senin (15/2). (Istimewa)

Terawangan Sesepuh Jadi Kunci Pencarian Luweng di Wonogiri

Pencarian luweng yang hilang di Wonogiri, Jawa Tengah, selalu mengandalkan keterangan sesepuh desa setempat.
Diterbitkan Selasa, 2/03/2021 - 15:30 WIB
oleh Solopos.com/Aris Munandar
3 menit baca

Solopos.com, WONOGIRI – Luweng menjadi sesuatu yang sangat penting bagi warga Wonogiri, Jawa Tengah, di bagian selatan, tepatnya di kawasan karst saat musim hujan. Oleh sebab itu, pencarian luweng rutin dilakukan sebagai upaya mengantisipasi banjir.

Luweng merupakan sumur bawah tanah di kawasan karst yang berfungsi sebagai saluran air ke perut Bumi. Luweng terbentuk secara alami karena erosi bebatuan karst.

Sayangnya, mulut luweng ini sering kali hilang karena tertutup sampah maupun pengendapan. Itulah sebabnya pihak BPBD Wonogiri rutin menggelar patroli luweng. Bahkan ada sejumlah sukarelawan yang membantu pencarian luweng tersebut, salah satunya Saryono.

Baca juga: Sering Dicari di Wonogiri, Ini Ciri-Ciri Luweng: Tertutup Tanah Hitam & Sampah

Keterangan Sesepuh

Warga Desa Sumberagung, Pracimantoro, itu sudah sering melakukan pencarian luweng. Dia mengatakan sebelum melakukan pencarian, ia bersama sukarelawan lain menemui sesepuh di desa setempat. Hal itu dilakukan untuk mengetahui keberadaan luweng yang dulu ada namun sekarang hilang.

“Keterangan dari para sesepuh desa itu kami kumpulkan. Kesimpulannya dicocokkan ke lokasi yang diyakini dulu ada luwengnya,” kata dia saat dihubungi Solopos.com, (2/3/2021).

Saryono menjelaskan, berdasarkan pencarian yang sudah dilalukan di beberapa lokasi, ia dan tim sudah bisa mengamati lokasi atau titik mana yang di dalamnya ada mulut luweng. Ada dua ciri utama yang di dalam tanah terdapat luweng, yakni adanya tumpukan bebatuan dan tanah hitam bercampur sampah.

“Setelah diberitahu sesepuh, tanah itu dikeruk atau digali menggunakan alat berat. Di kedalama tiga hingga lima meter itu ditemukan tanda-tanda adanya tanah hitam bekas sampah dan adanya tumpukan bebatuan atau tidak. Kalau ada ciri-ciri tersebut, proses pencarian dilakukan di titik itu,” ungkap dia.

Baca juga: Gibran Pengin Berantas Prostitusi Online, Ini Jumlah PSK di Solo

Ciri-Ciri

Ciri-ciri itu, kata dia, sudah terbukti. Saat mencari luweng di Dusun Joho Kidul, Desa Joho dan Dusun Pakem, Desa Sumberagung, dilokasi ada tumpukan batu dan tanah hitam. Pada akhirnya mulut luweng ditemukan.

“Mulut luweng itukan bentuknya lubang atau rongga. Dulu mungkin ditutup pakai batu sehingga ditemukan tumpukan batu. Kalau tanah hitam bekas sampah itu mungkin karena lubang banyak sampah yang masuk ke situ,” ujar dia.

Ia mengatakan, pencarian luweng untuk menanggulangi banjir merupakan kegiatan baru bagi sukarelawan. Sebelumnya belum pernah melakukan penarian luweng. Biasanya, sukarelawan mencari luweng untuk mendapatkan air bersih. Maka dibutuhkan langkah khusus untuk mengenali ciri-ciri keberadaan luweng.

“Saya tanya ke senior sukarelawan dan BPBD, memang belum ada rumus dan tata cara pencarian luweng yang pasti. Maka kami mencari hal-hal baru serta mengandalkan feeling. Dan buktinya ciri-ciri yang kami kenali bisa berhasil mendapat luweng yang hilang,” kata dia.

Baca juga: Carik Serenan Klaten yang Terjun ke Bengawan Solo Belum Lama Menjabat

Pencarian Luweng

Ia mengatakan, ada beberapa hal tersulit dalam pencarian luweng. Pertama, menentukan titik lokasi pencarian luweng. Kedua, jika sudah ditemukan, hal tersulit selanjutnya melakukan pelebaran terhadap mulut luweng.

“Pelebaran itu manual. Kalau alat berat hanya mengeruk hingga ditemumannya rongga luweng. Saat kami melebarkan rongga luweng menggunakan linggis, palu dan alat lainnya. Tentunya juga menggunakan alat safety,” ungkap dia.

Ia menuturkan, jumlah orang yang berada di dalam tim inti pencarian luweng sebanyak 10 orang. Selebihnya, para sukarelawan bergantian dalam mencari luweng.

“Setelah dikeruk alat berat, kami kan memperlebar rongga atau mulut luweng. Itu dilakukan secara manual. Kami bawa alat-alat panjat tebing dan alat untuk safety,” kata dia.

Baca juga: Makan Korban di Sragen, Pengobatan Sangkal Putung Bisa Digugat?

Ia mengatakan, pencarian luweng untuj mengatasi banjir di Pracimantoro itu atas inisiatif beberapa pihak diantaranya anggota DPRD Wonogiri, Irwan Hari Purnomo dan Camat Pracimantoro, Wonogiri, Warsito serta para Kepala Desa yang daerahnya dijadikan lokasi pencarian luweng.

“Peralatan kami, alat berat dan logistik sudah ditanggung beliau-beliau. Kami juga memasak di lokasi sendiri, jadi tidak menyusahkan masyarakat,” kata Saryono.


Editor : Profile Chelin Indra Sushmita
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terpopuler

Iklan Baris

berita terkini


Cek Berita Lainnya