top ear
Foto Ilustrasi. Para pekerja Pertamina Regional Jawa Bagian Tengah (JBT) tengah diambil plasma darah untuk terapi convalescent pasien Covid-19 di Kantor PMI Kota Semarang, Sabtu (16/1/2021).(Istimewa-Pertamina JBT)
  • SOLOPOS.COM
    Foto Ilustrasi. Para pekerja Pertamina Regional Jawa Bagian Tengah (JBT) tengah diambil plasma darah untuk terapi convalescent pasien Covid-19 di Kantor PMI Kota Semarang, Sabtu (16/1/2021).(Istimewa-Pertamina JBT)

Terapi Plasma Konvalesen, Diminati di Indonesia Tapi Tak Berkhasiat di AS dan India

Pemerintah AS tidak menemukan adanya khasiat yang jelas terapi plasma konvalesen pada penyembuhan pasien Covid-19.
Diterbitkan Rabu, 3/03/2021 - 12:00 WIB
oleh Solopos.com/Newswire
1 menit baca

Solopos.com, WASHINGTON -- Penggunaan terapi plasma konvalesen untuk penyembuhan pasien Covid-19 begitu diminati di Indonesia. Sebagian besar pasien Covid-19 dengan tingkat keparahan tertentu sembuh setelah menjalani terapi ini. Namun tidak halnya dengan di Amerika Serikat (AS).

Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat (NIH) pada Selasa (2/3/2021) waktu setempat telah menghentikan uji coba plasma darah konvalesen dalam pengobatan pasien COVID-19 bergejala ringan hingga sedang. Ini lantaran sepertinya terapi tersebut tidak memberikan khasiat pada kelompok ini.

NIH menyebutkan bahwa keputusan itu berdasarkan pada temuan dewan pemantau data independen.

Baca juga: RS Kota Solo Keluhkan Minimnya Penyintas Covid-19 Yang Mau Jadi Pendonor Plasma Konvalesen

Langkah NIH dilakukan kurang dari dua bulan setelah uji coba internasional plasma konvalesen dihentikan lantaran tidak adanya khasiat yang ditemukan. Riset lainnya yang dilakukan di India dan Argentina juga tidak mendapati manfaat yang jelas bagi pasien Covid-19 parah.

Uji coba di AS mendaftarkan 511 dari 900 partisipan, baik yang diberikan plasma darah dari pasien sembuh Covid-19 atau maupun plasebo.

Analisis baru-baru ini mengindikasikan bahwa tidak ada perbedaan signifikan dalam proporsi pasien yang membutuhkan pengobatan darurat, harus dirawat di rumah sakit atau meninggal dalam waktu 15 hari usai memasuki uji coba, kata NIH.

 


Editor : Profile Kaled Hasby Ashshidiqy
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terpopuler

Iklan Baris

berita terkini


Cek Berita Lainnya