Tembus Rp6.700 Triliun, Negara Mana Pemberi Utang Terbesar ke RI?

Bank Indonesia (BI) mencatat, utang luar negeri (ULN) Indonesia sebesar US$423,1 miliar atau setara Rp6.711 triliun pada September 2021.
SHARE
Tembus Rp6.700 Triliun, Negara Mana Pemberi Utang Terbesar ke RI?
SOLOPOS.COM - Ilustrasi utang negara (indonesia.go.id)

Solopos.com, SOLO — Pemerintah mencatat posisi utang pada Agustus 2021 mencapai Rp6.625,43 triliun dengan rasio utang terhadap PDB sebesar 40,84 persen.

Lantas negara mana yang memberi utang terbesar kepada Indonesia? Posisi utang RI tersebut naik dibandingkan dengan posisi pada Juli 2021 yang tercatat sebesar Rp6.570,17 triliun.

PromosiHari Keluarga Nasional: Kudu Tepat, Ortu Jangan Pelit Gadget ke Anak!

“Posisi utang pemerintah pusat mengalami kenaikan sebesar Rp55,27 triliun apabila dibandingkan posisi utang akhir Juli 2021,” tulis Kemenkeu dalam Laporan APBN Kita September 2021 yang dikutip Bisnis, Minggu (26/9/2021).

Surat untuk Bunda Selvi Gibran

Baca Juga: Wis Numpuk, Harta 10 Orang Terkaya RI Tak Mampu Lunasi Utang Indonesia

Selanjutnya, seperti dikutip dari dataindonesia.id, Bank Indonesia (BI) mencatat, utang luar negeri (ULN) Indonesia sebesar US$423,1 miliar atau setara Rp6.711 triliun pada September 2021.

Posisi utang ini setara dengan 41,38% produk domestik bruto (PDB) dibandingkan dengan posisi September 2020 utang ini meningkat tajam sebesar Rp954,65 Triliun.

Dari jumlah itu, utang paling besar diberikan oleh Singapura, yakni US$64,9 miliar. Amerika Serikat berada di posisi kedua lantaran memberi utang sebesar US$30,69 miliar.

Baca Juga: Peringkat Utang Indonesia Stabil, Sri Mulyani Percaya Diri

Lalu diikuti Jepang dengan besar pinjaman mencapai US$27,96 miliar.  China tercatat memberikan pinjaman sebesar US$20,09 miliar kepada Indonesia. Kemudian, utang yang diberikan Hong Kong kepada Indonesia mencapai US$16,04 miliar.

Korea Selatan, Belanda, dan Jerman juga masuk ke dalam daftar negara pemberi utang terbesar untuk Indonesia. Masing-masing sebesar US$6,36 miliar, US$5,49 miliar, dan US$5,44 miliar.

Baca Juga: Utang Indonesia Numpuk Rp6.000 Triliun, Cuma 2 Pria yang Mampu Lunasi

Meski demikian, Presiden Joko Widodo (Jokowi) optimistis tahun 2022 akan menjadi momentum pemulihan ekonomi Indonesia, didukung peluang transformasi dan pertumbuhan ekonomi.

Jokowi mengatakan pemulihan ekonomi Indonesia akan didorong oleh potensi ekonomi hijau (green economy) dan peran teknologi informasi dan komunikasi (information and communication technologies/ICT).

Tidak hanya itu, keberhasilan Indonesia dalam mengendalikan gelombang Covid-19 varian Delta pada kuartal III/2021 turut dinilai menjadi kunci untuk pemulihan ekonomi yang cepat pada kuartal selanjutnya.

“Kami mengetahui pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV/2021 kita bisa tumbuh 5,02 persen,” kata Jokowi dalam agenda Mandiri Investment Forum (MIF) 2022 secara virtual, Rabu (9/2/2022) seperti dikutip Bisnis.

Baca Juga: Piutang Via Leasing Rp371,6 Triliun, Pembelian Kendaraan Terus Tumbuh

Jokowi menyebutkan beberapa indikator ekonomi saat ini menunjukkan tren yang makin baik. Salah satunya, purchasing manager’s index (PMI) manufaktur per Januari 2022 berada pada level 53,7 atau berada pada zona ekspansi dan lebih tinggi dari PMI Asia di level 52,7.

Menurutnya, hal tersebut mencerminkan kepercayaan internasional terhadap Indonesia yang terus meningkat. Bahkan, realisasi investasi pada 2021 mencapai Rp901 triliun atau tumbuh 9 persen year on year (yoy).

“Realisasi ini menunjukkan kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia meski di tengah pandemi,” ujarnya.

Baca Juga: Tiktokers Usulkan Cara Bayar Utang Indonesia, Begini Caranya…

Kemudian, penanaman modal asing tumbuh 10 persen yoy mencapai Rp454 triliun, ekspor Indonesia yang meningkat sangat tinggi pada 2021 yaitu tumbuh 41,9 persen dengan nilai US$232 miliar, inflasi pada Januari 2022 sebesar 2,18 yoy, dan cadangan devisa Januari 2022 mencapai US$ 141,3 miliar.

Presiden Jokowi mengungkapkan, berbagai perbaikan tercapai karena pemerintah menjadikan reformasi struktural sebagai kunci dalam mengarahkan kebijakan ekonomi untuk meningkatkan nilai tambah, memacu produktivitas, meningkatkan investasi serta membuka lapangan kerja yang seluas-luasnya.

“Momentum pemulihan investasi ini harus dijaga dengan baik. Reformasi struktural akan terus kita lanjutkan, angka untuk menciptakan iklim investasi yang semakin kondusif akan terus kita lanjutkan,” ujar Jokowi.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago