top ear
Ajie Najmuddin (Istimewa/Dokumen pribadi)
  • SOLOPOS.COM
    Ajie Najmuddin (Istimewa/Dokumen pribadi)

Teguh Mengkritik ala Mahbub Djunaidi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 28 Juli 2020. Esai ini karya Ajie Najmuddin, Ketua Lembaga Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah ajienajmuddin87@gmail.com.
Diterbitkan Rabu, 5/08/2020 - 21:30 WIB
oleh Solopos.com/Ajie Najmuddin
5 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Jurnalis. Kolumnis. Organisatoris. Politikus. Intelektual. Sastrawan. Dia adalah Mahbub Djunaidi. Tanggal 27 Juli 2020 lalu adalah ulang tahun ke-87 Mahbub Djunaidi. Ia lahir pada 27 Juli 1933 di Tanah Abang, Jakarta. Mahbuh Djunaidi pada usia 13 tahun pindah ke Kota Solo dan kemudian beberapa lama tinggal dan bersekolah di kota ini.

Ia kemudian dikenal sebagai pendiri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau PMII. Mahbub Djunaidi wafat pada 1 Oktober 1995. Walakin, dia tetap dikenang hingga kini. Semasa hidup, Mahbub Djunaidi dikenal sebagai kolumnis, aktivis, dan segudang predikat lain yang melekat paad dirinya. Tentu yang paling dikenal khalayak umum adalah predikat sebagai seorang penulis.

Ia menulis beberapa buku yang cukup populer seperti Dari Hari ke Hari yang memenangi sayembara mengarang roman yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta pada 1974. Ia juga menerjemahkan beberapa buku ke dalam bahasa Indonesia, antara lain Seratus Tokoh yang Berpengaruh dalam Sejarah (karangan Michael Hart), Cakar-cakar Irving (Art Buchwald), Binatangisme (George Orwell).

Sejumlah tulisan di Majalah Tempo dan Harian Kompas dibukukan dengan judul Asal Usul dan Kolom demi Kolom. Yang terbaru, seorang kawan saya di Kota Solo menerbitkan lagi buku Mahbub Djunaidi berjudul Pergolakan Umat Islam di Filipina Selatan. Ini adalah sebuah memoar perjalanan Mahbub Djunaidi ketika melakukan tugas dan perjalanan ke Filipina.

Bakat menulis Mahbub Djunaidi itu ia dapatkan sedari kecil, terutama ketika ia pindah ke Kota Solo. Situasi perang setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia dan beraneka macam pergolakan politik yang mengiringi mengakibatkan Mahbub Djunaidi ikut bersama keluarganya keluar dari Jakarta dan pindah ke Kota Solo.

Di Kota Solo, Mahbub Djunaidi yang kala itu berusia sekitar 13 tahun, dimasukkan ke sekolah partikelir Muhammadiyah. Belum genap sebulan ia pindah ke SDN No. 27 Kauman yang berlokasi di sebelah utara Masjid Agung dan tak jauh dari rumah keluarga Mahbub Djunaidi saat tinggal di Kota Solo.

Selain bersekolah di SDN No. 27 Kauman, pada siang hingga menjelang Magrib, Mahbub Djunaidi menimba ilmu di salah satu sekolah agama yang termasyhur di Kota Solo, yaitu Madrasah Mamba’ul Ulum. Di sekolah inilah ia kemudian berjumpa dengan beberapa guru yang dia sebut dalam novel yang ia tulis berjudul Dari Hari ke Hari.

Salah seorang guru di Madrasah Mamba’ul Ulum yang berkesan bagi Mahbub Djunaidi adalah Kiai Amir Chamzah. Dari Kiai Amir Chamzah inilah, Mahbub Djunaidi dapat berkesempatan membaca banyak buku baru, antara lain Si Samin, Si Dul Anak Betawi, Tom Sawyer (karya Mark Twain), dan sejumlah karya Karl May.

Di rumah tempat tinggalnya, di Reksoniten, Kiai Amir Chamzah membuka persewaan buku atau perpustakaan pinjaman. Selain menjadi tempat peminjaman buku, di lokasi tersebut Kiai Amir Chamzah juga membuka sebuah toko kitab yang diberi nama Al-Wathonijah. Untuk pergi ke rumah Kiai Amir Chamzah di daerah Reksoniten, Mahbub Djunaidi yang tinggal di Kauman berjalan kaki dengan jarak kurang lebih satu kilometer.

Dalam sebuah dialog di novel Dari Hari ke Hari, Kiai Amir Chamzah menerangkan lokasi rumahnya kepada Mahbub. ”Kamu tahu gerbang barat benteng keraton? Di depannya ada jalan, masuk dan tanya saja di situ, semua orang sudah tahu. Hari Jumat sore (perpustakaan buka), hari lainnya pagi,” kata Kiai Amir Chamzah.

Meski hanya sekitar dua tahun sampai tiga tahun Mahbub Djunaidi tinggal di Kota Solo dan bersua Kiai Amir Chamzah, buku-buku yang dikenalkan Kiai Amir Chamzah menjadi hal yang berpengaruh kepada gaya kepenulisan Mahbub Djunaidi.

Kelak, gaya penulisan Mahbub Djunaidi dikenal sebagai tulisan yang  singkat, padat, ringan, dan enak dibaca. Yang paling khas, tentu cara dia menyisipkan sindiran, bahkan sarkasme, secara jenaka.

Dengan lincah, halus, dan tentu seara jenaka ia membahas persoalan demokrasi, hak asasi manusia, korupsi, kelakuaan para pembesar, kebejatan moral, kehidupan rakyat kecil, dan berbagai persoalan masyarakat lainnya yang cukup kompleks.

Ia pernah mengkritik pemerintah demokrasi ala rezim Orde Baru sebagai demokrasi itu bisa dibunuh di dalam lembaga demokrasi, oleh para demokrat, dengan cara-cara yang demokratis. Beberapa artikel dan buku yang ia tulis yang bernada sindiran kepada penguasajustru ia tulis pada masa Orde Baru tengah kuat-kuatnya berkuasa.

Artinya, ia mengkritik penguasa dengan humor, dengan sarkasme yeng jenaka, ketika kebebasan menyatakan pendapat sedang dicekik dan teror mental sedang merajalela dalam segala bentuknya. Pandangannya yang kritis tentu membuat gerah para penguasa yang otoriter dan antikritik.

Sederhana

Ia pernah dipenjara, tanpa alasan dan tuduhan yang jelas. Pada sebuah momen Lebaran, dari bali jeruji sel penjara, ia menulis surat untuk keluarganya. Ia menuliskan alangkah bahagianya berlebaran bersama keluarga walaupun tidur berdesakan di lantai.

”Ketahuilah, kebahagiaan itu terletak di dalam hati, bukan pada benda-benda mewah, pada rumah mentereng dan gemerlapan. Benda sama sekali tak menjamin kebahagiaan hati. Cintaku kepadamu semuanya yang membikin hatiku bahagia. Hati tidak bisa digantikan oleh apa pun juga. Papa orang yang sudah banyak makan garam hidup. Hanya kejujuran, kepolosan, apa adanya yang bias memikat hatiku. Bukan hal-hal yang berlebih-lebihan,”

Karakter Mahbub Djunaidi yang berani dan penuh kesederhanaan ini rupanya juga menurun dari sang ayah, Kiai Djunaidi, seorang pejabat tinggi Kementerian Agama pada masa awal negeri ini berdiri. Teladan dari sang ayah misalnya ketika mereka pindah ke Kota Solo.

Tentu, sebagai seorang pejabat tinggi, mestinya Kiai Djunaidi bisa memilih tempat yang lebih baik untuk ditinggali. Alih-alih mencari rumah yang bagus dan lengkap dengan perabotan, ia justru tinggal di sebuah pendapa di daerah Kauman.

”Berhubung pemerintah sendiri masih repot, urusan rumah bukan menjadi perhatiannya,” kata Kiai Djunaidi memberi pengertian kepada keluarganya. Menengok kembali sosok Mahbub Djunaidi dan kehidupannya, tentu kita dapat merefleksikannya pada masa sekarang.

Masihkah para penulis kritis seperti Mahbub Djunaidi ini pada masa yang konon setelah rezim Orde Baru jatuh dan terbukanya ruang demokrasi ini, tidak lagi anti terhadap kritik? Ataukah masih sama dengan masa lalu, dengan mudah menangkap dan memenjarakan para pengkritik?

Memperbincangkan Mahbub Djunaidi berarti juga kita akan mendapatkan sosok dengan karakter yang teguh akan prinsip dan penuh kesederhanaan. Kini kita butuh orang-orang seperti Mahbub Djunaidi yang konsisten mengkritik kelalaian penguasa demi kepentingan publik dan sama sekali tak silap dengan kekuasaan. Mengkritik bukan untuk mencari perhatian penguasa, apalagi mencari kekuasaan.


Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com



berita terkait

    berita terpopuler

    Iklan Baris

    Properti Solo & Jogja

    berita terkini