Taruna Tani Dibentuk di Sukoharjo, Ternyata Ini Tujuannya
Solopos.com|soloraya

Taruna Tani Dibentuk di Sukoharjo, Ternyata Ini Tujuannya

Pembentukan kelompok taruna tani yang beranggotakan para pemuda yang memiliki minat dalam mengembangkan pertanian.

Solopos.com, SUKOHARJO — Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo membentuk kelompok taruna tani di setiap kecamatan, sebagai upaya membangkitkan minat kamun muda terhadap pertanian.

Diharapkan dengan pembentukan kelompok tersebut, bisa menjawab persoalan regenerasi petani di Kabupaten Sukoharjo.

Pernyataan mengenai taruna tani ini disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo, Bagas Windaryatno. Yakni seusai acara panen raya padi di Desa Tangkisan, Kecamatan Tawangsari, Jumat (11/6/2021).

Baca juga: Driver Ojol Korban Begal di Sukoharjo akan Gunakan Uang Donasi untuk Rehab Rumah

Pemerintah juga bakal memfasilitasi pembentukan kelompok taruna tani yang beranggotakan para pemuda yang memiliki minat dalam mengembangkan pertanian.

“Di era modern, butuh teknologi dalam pemasaran produk-produk pertanian. Para anggota kelompok bisa merintis memasarkan produk pertanian dengan memanfaatkan teknologi informasi,” kata dia, Jumat.

Saat ini, pengembangan pertanian modern membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni dan memahami teknologi informasi. Untuk itu anggota kelompok taruna tani bakal dikenalkan proses bercocok tanam. Mulai dari mengolah sawah hingga memasarkan hasil panen. Mereka juga bisa belajar mengenai pengembangan agrowisata dengan mengkombinasikan pertanian dan wisata.

Baca juga: Siap-Siap, 19 Bangunan Liar di Tepi Jalan Solo-Purwodadi Bakal Ditertibkan

Ketahanan Pangan

Bagas menyebut peningkatan SDM di sektor pertanian membutuhkan waktu cukup panjang. “Seperti pelajar yang menimba ilmu di bangku sekolah. Tidak bisa instan mendapatkan ilmu. Butuh proses panjang dan lama,” ujar dia.

Lebih jauh, Bagas menambahkan para anggota taruna tani bisa mengekplorasi minatnya dengan kegiatan budidaya tanaman atau perikanan. Mereka mendapatkan penghasilan saat masa panen.

Hal ini bisa ditularkan kepada para pemuda lainnya sehingga mereka juga berminat terjun ke sektor pertanian. “Ada stigma pertanian itu kotor, capek dan tidak menguntungkan. Ini yang harus dihilangkan agar para pemuda bisa ikut serta menjadi garda dalam menjaga ketahanan pangan nasional.”

Baca juga: Embung di Boyolali Ini Jadi Andalan Penuhi Kebutuhan Air Saat Kemarau, Mana saja?

Seorang petani asal Desa Pojok, Kecamatan Tawangsari, Maryanto, mengatakan rata-rata usia para petani di atas 40 tahun. Mereka harus digantikan para petani muda agar produksi padi di setiap daerah bisa terjaga.

Namun demikian, kalangan muda cenderung tak berminat meneruskan jejak orangtuanya yang bekerja sebagai petani. Diharapkan taruna tani bisa menjawab problem regenerasi petani di sektor pertanian.

 

 



Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler
Berita Terkini
Indeks
Berita Video
View All

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago