Taliban Larang Pria Afghanistan Cukur Jenggot hingga Selfie

Taliban kembali mengeluarkan aturan baru yang wajib dipatuhi warga negara Afghanistan. Aturan itu melarang para pria di Afghanistan bercukur jenggot.

Newswire
Selasa, 28 September 2021 - 10:35 WIB

SOLOPOS.COM - Ilustrasi foto selfie lelaki bercincin akik (indiaopinies.com)

Solopos.com, KABUL — Taliban kembali mengeluarkan aturan baru yang wajib dipatuhi warga negara Afghanistan. Aturan itu melarang para pria di Afghanistan bercukur jenggot.

Tak hanya cukur jenggot, mereka juga dilarang memainkan musik di tempat mereka. Semua aturan itu diklaim atas dasar hukum syariat Islam.

Seperti dilansir detik dari CNN, Senin (27/9/2021), larangan itu disampaikan dalam pernyataan yang dirilis Departemen Penyebaran Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan yang dipimpin Taliban, yang kini berkuasa di Afghanistan. Para tukang cukur di Provinsi Helmand pun terdampak akibat larangan tersebut.

Baca Juga: Penemu Vaksin Sebut Virus Corona akan Berakhir Seperti Flu Biasa

Aturan baru ini menandai serentetan pembatasan yang diberlakukan terhadap warga Afghanistan yang didasarkan pada interpretasi Taliban terhadap hukum syariat Islam.

“Anda segera diberitahu bahwa mulai hari ini, mencukur jenggot dan memainkan musik di tempat pangkas rambut dan tempat pemandian umum dilarang keras,” demikian bunyi pernyataan otoritas setempat pada Minggu (26/9/2021) waktu setempat.

“Jika ada tempat pangkas rambut atau pemandian umum yang kedapatan mencukur jenggot siapa pun atau memainkan musik, mereka akan ditindak sesuai prinsip-prinsip syariah dan mereka tidak akan memiliki hak untuk mengeluh,” imbuh pernyataan tersebut.

Baca Juga: Hancur Akibat Pertempuran, Rekonstruksi Rumah di Gaza Dimulai Oktober

Taliban juga melarang para anggotanya untuk swafoto atau selfie, mengunggahnya di media sosial dan jalan-jalan di tempat wisata. Mereka menilai hal tersebut tak sesuai dengan nilai-nilai Islam dan merusak citra Taliban.

Instruksi itu disampaikan oleh Menteri Pertahanan interim Afghanistan era Taliban, Mohammad Yaqoob.

Yaqoob mengkritik beberapa anggotanya yang pergi ke kantor pemerintah, padahal tak punya urusan mendesak, tapi hanya mengambil foto selfie.

“Ini sangat tidak pantas karena semua orang mengambil ponsel dan mengambil foto di Kementerian penting dan sensitif tanpa alasan apa pun,” kata Yaqoob dikutip Reuters.

Baca Juga:  PBB Serukan Penghapusan Senjata Nuklir, Turki Malah Pengin Beli Rudal

Aturan Potong Tangan

Kelompok Taliban sebelumnya menyatakan bakal menerapkan aturan yang lebih lunak kepada warganya dibandingkan kepemimpinan mereka pada dua dekade yang lalu di Afghanistan.

Namun pernyataan itu tidak sejalan dengan fakta yang ada di lapangan. Ada banyak laporan soal perlakuan kasar dan kejam oleh Taliban sejak kelompok ini berkuasa pada pertengahan Agustus lalu, mulai dari penahanan dan penyerangan terhadap wartawan, kemudian penggunaan cambuk terhadap wanita yang ikut unjuk rasa, hingga hukuman gantung di depan umum bagi pelaku kejahatan.

Tak hanya itu, perempuan di Afghanistan juga terdampak sejumlah aturan baru yang diterapkan Taliban. Taliban tidak mengizinkan perempuan untuk melanjutkan pendidikan padahal sebelumnya mereka berjanji akan memperbolehkan perempuan bersekolah. Sejauh ini, hanya laki-laki Afghanistan yang diserukan untuk kembali bersekolah oleh Taliban.

Aturan larangan pendidikan ini sebetulnya pernah diberlakukan juga saat Taliban berkuasa antara tahun 1996 hingga 2001 silam. Saat itu, Taliban melarang perempuan untuk menempuh pendidikan dan bekerja, dan sangat membatasi hak-hak mereka.

Baca Juga: Sejarah Hari Ini : 28 September 1928, Obat Ajaib Penisilin Ditemukan

Sekarang, perempuan Afghanistan juga mendapatkan perlakuan serupa. Para perempuan bahkan tidak disertakan dalam pemerintahan baru Taliban, dan bahkan dalam beberapa kasus diperintahkan meninggalkan tempat kerja mereka.

Beberapa hari yang lalu, Taliban juga mengeluarkan pernyataan terkait penerapan hukuman kontroversial di Afghanistan yang sempat disampaikan oleh Mullah Nooruddin Turabi, yang merupakan salah satu pendiri Taliban dan pernah menjabat kepala penegakan hukum Islam saat Taliban berkuasa di Afghanistan dua dekade lalu.

Pria yang kini berusia 60 tahun itu memperingatkan dunia untuk tidak mencampuri Taliban yang menjadi penguasa baru Afghanistan. “Tidak ada yang memberitahu kami seperti apa hukum kami seharusnya. Kami akan mengikuti Islam dan membuat hukum kami berdasarkan Quran,” tegasnya.

Baca Juga: Bandara Dibuka, Afghanistan Siap Bekerja Sama dengan Semua Maskapai

Turabi mengungkapkan alasan penerapan kembali hukuman berat sesuai interpretasi Taliban terhadap hukum Islam itu. “Memotong tangan sangat diperlukan untuk keamanan,” cetus Turabi.

Turabi menegaskan bahwa para hakim, termasuk hakim wanita, akan mengadili kasus-kasusnya. Pondasi hukum Afghanistan, sebut Turabi, tetap Quran. Dia menegaskan hukuman yang sama akan diterapkan kembali.

Kendati demikian, Turabi menyatakan bahwa kabinet pemerintahan Taliban masih mempelajari apakah hukuman semacam itu akan dilakukan di depan umum seperti di masa lalu. Turabi juga menyatakan pemerintahan Taliban akan ‘mengembangkan sebuah kebijakan’ terkait itu.

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif