Tahu Bikinan Warga Manyaran Wonogiri Ini Dipasarkan hingga Jakarta dan Lampung

Suparti, warga Desa Bero, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri memproduksi tahu sejak puluhan tahun lalu.
SHARE
Tahu Bikinan Warga Manyaran Wonogiri Ini Dipasarkan hingga Jakarta dan Lampung
SOLOPOS.COM - Salah satu pekerja di usaha produksi tahu milik Suparti dari Desa Bero, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, sedang memotong adonan tahu yang disiapkan dalam wadah ecek, Minggu (25/9/2022). (Solopos.com/Luthfi Shobri M).

Solopos.com, WONOGIRI — Kisah sukses ini datang dari Suparti, warga Desa Bero, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri. Sejak puluhan tahun lalu, ia memulai bisnis sederhana, yakni memproduksi tahu.

Kepada Solopos.com, Selasa (27/9/2022), ia mengatakan usaha tahu miliknya merupakan warisan bisnis dari orang tuanya. Tahu merupakan makanan berbahan dasar kedelai.

PromosiAngkringan Omah Semar Solo: Spot Nongkrong Unik Punya Menu Wedang Jokowi

Mulanya, proses produksi tahu dilakukan manual. Seiring perkembangan zaman, ia mulai menggunakan mesin penggiling bertenaga diesel meski masih ada sebagian tahapan yang dilakukan secara manual.

Setiap hari, mesin gilingan dan wajan penggorengan yang berlokasi di bagian belakang rumah Suparti tak berhenti memproduksi tahu. Proses produksi tahu dimulai pukul 07.00 WIB hingga 23.00 WIB. Saat ini, Suparti memiliki enam karyawan yang tak lain merupakan keluarganya sendiri.

“Tiga laki-laki melakukan proses penggilingan. Mereka bekerja mulai pagi hingga siang. Setelah itu dilanjut dengan proses penggorengan yang dilakukan tiga perempuan. Mereka memulai proses penggorengan itu sejak siang hingga malam hari,” kata Suparti.

Baca Juga: 1.000 Cup Kopi Dibagikan Gratis di Festival Kopi dan Batik Wonogiri

Dalam sekali produksi, kedelai (bahan utama) yang ia butuhkan sebanyak tiga kuintal. Proses pembuatannya dimulai dari pencucian kedelai yang akan dibuat tahu. Setelah dicuci, kedelai direndam dalam air hangat lalu digiling agar kedelainya hancur sampai halus atau berbentuk bubur.

Pascahancur, kedelai dimasak dalam wadah tertutup dan ditunggu sampai uap panasnya keluar lalu menghilang. Kedelai yang sudah masak itu lalu diendapkan.

“Endapan itu dipres sampai airnya habis dan ditaruh dalam ecek untuk dicetak menjadi adonan tahu. Setelah itu adonannya dikeringkan dan siap digoreng,” imbuhnya.

Dari bahan baku tiga kuintal kedelai, Suparti mengaku dapat menghasilkan sekitar 100 ecek. Setiap ecek memiliki jenis tahu yang beragam, seperti tahu pong, tahu goreng tawar, dan tahu krispi.

Baca Juga: 4 Makanan Unik di Wonogiri

Beragam jenis tahu dalam cetakan ecek lalu dipotong-potong lalu digoreng di wajan berisi minyak goreng panas selama dua menit. Setelah diangkat dari wajan, tahu tersebut didiamkan hingga dingin kemudian siap dikemas.

Dalam pengemasan itu, Suparti tak menggunakan plastik bermerek melainkan hanya diwadahi ember berpenutup. Tahu goreng hasil produksi seharian itu kemudian dijual di pasar pagi harinya. Hal itu mulai dari Pasar Manyaran, maupun di luar Kecamatan Manyaran.

“Ada juga di luar Wonogiri, seperti Jakarta, Lampung, dan lain-lain. Biasanya mereka membawa kendaraan transportasi sendiri. Saya tinggal terima beres karena transaksinya di depan rumah,” imbuhnya.

Dalam sekali jual, keuntungan bersih yang ia dapat biasanya sekitar Rp200.000. Uang itu digunakannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain sebagai perajin tahu, dia juga memiliki usaha ternak sapi dan kambing.

Baca Juga: Kisah Petani Wonogiri Cari Cuan dengan Membatik di Musim Kemarau

“Saya punya sembilan sapi dan lebih dari 20 kambing. Kalau ada yang mau pesan biasanya datang ke rumah. Bukan saya yang mendatangi mereka. Tapi justru dari bisnis ternak ini yang cukup menghasilkan. Soalnya makanan ternak yang saya gunakan adalah limbah tahu. Tinggal menambah asupan gizi lainnya,” kata dia.

Salah satu karyawan Suparti, yakni Desi, 45. Perempuan paruh baya itu bekerja sebagai penggoreng tahu sejak 2018. Saat masuk kerja, Desi memperoleh imbalan senilai Rp80.000. Biasanya, Desi menggoreng aneka adonan tahu mulai pukul 13.00 WIB.

“Kalau sudah selesai menggoreng tahu sebanyak 100 ecek, saya biasanya langsung mengemas,” kata Desi.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode