[ X ] CLOSE

Syncrom Bikinan Mahasiswa UGM Bisa Deteksi Kerumunan Massa Nyaris Realtime

Ke depan, mereka juga akan menambahkan fitur berupa text alert di Syncrom untuk mempermudah petugas dalam pemantauan.
Syncrom Bikinan Mahasiswa UGM Bisa Deteksi Kerumunan Massa Nyaris Realtime
SOLOPOS.COM - Syncrom bikinan mahasiswa UGM. (indonesia.go.id)

Solopos.com, SOLO — Sejumlah mahasiswa Universitas Gadjah Mada atau UGM Yogyakarta mengembangkan sistem deteksi kerumunan bernama Syncrom.

Syncrom bisa dioptimalkan untuk mencegah penularan Covid-19. Selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat dan dilanjutkan PPKM Leveling sampai Agustus, mobilitas masyarakat menurun tajam pada Juli 2021.

Para mahasiswa UGM yang menciptakan Syncrom prihatin meski sudah diterapkan PPKM masih saja ada pelanggaran protokol kesehatan seperti menjaga jarak dan menghindari kerumunan.

Baca Juga: 3 Hal Wajib di Smartphone untuk Bikin Konten Instagram Reels yang Megang Banget

“Sistem yang kami kembangkan ini dapat mendeteksi adanya kerumunan sekaligus menampilkan informasi kapan dan di mana kerumunan terjadi,” terang Ketua tim peneliti, Zulfa Andriansyah, sebagaimana dikutip dari laman indonesia.go.id, Jumat (27/8/2021).

Menurut mahasiswa Fakultas Geografi UGM ini, sistem yang diberi nama Syncrom atau kepanjangan dari System of Detection and Crowd Mapping ini dibuat berbasis berbasis deep learning dan WebGIS.

Dengan begitu, melalui sistem ini dapat mendeteksi adanya kerumunan dengan menyajikan informasi jumlah massa dan menampilkan visualisasi kondisi di lapangan baik waktu dan tempat terjadinya kerumunan secara near realtime (mendekati waktu nyata).

“Dengan platform ini sistem pemantauan bisa dilakukan secara terus-menerus selama 24 jam. Data terus di-update setiap 30 detik,” terang Zulfa.

Baca Juga: Tips Membeli HP Realme, Mulai dari Tahun Rilis sampai Fitur Unggulan

Aplikasi Syncrom ini dikembangkan oleh Zulfa bersama dengan keempat rekannya yaitu M. Ihsanur Adib (Kartografi dan Penginderaan Jauh), Wahyu Afrizal Bahrul Alam (Teknologi Informasi), Malik Al-Aminullah Samansya (Teknik Nuklir), dan Najmuddin Muntashir ‘Abdussalam (Teknik Industri) di bawah bimbingan Dr. Taufik Hery Purwanto, MSi.

Purwarupa ini lahir lewat program kreativitas mahasiswa bidang karsa cipta (PKM-KC) tahun 2021 yang memperoleh dana hibah pengembangan sebesar Rp9 juta dari Kemendikbudristek.

Syncrom ini juga dilengkapi dengan fitur peringatan dini adanya kerumunan. Peringatan adanya kerumunan di lokasi terdeteksi akan disampaikan melalui pengeras suara atau voice alert secara otomatis.

Sistem Syncrom tersebut bisa mendeteksi kerumunan melalui input data visual yang diperoleh melalui CCTV lewat web cam yang terhubung dengan komputer lokal yang sebelumnya telah diprogram dengan deep learning untuk mendeteksi keberadaan manusia dan memprediksi kerumunan di suatu lokasi diteruskan ke sistem untuk dianalisis.

Baca Juga: Gurun Mesir Simpan Fosil Paus Berkaki Empat

Setelah itu, hasil data dikirimkan ke WebGIS dalam bentuk informasi terkait lokasi, waktu, dan jumlah kejadian kerumunan yang berada di satu lokasi terpantau CCTV.

Ke depan, mereka juga akan menambahkan fitur berupa text alert di Syncrom untuk mempermudah petugas dalam pemantauan. Misalnya, ketika petugas sedang tidak berada di ruang kontrol tetap dapat menerima informasi melalui SMS atau telegram apabila terjadi kerumunan.

Penemuan mahasiswa UGM diklaim merupakan yang pertama. Pasalnya, belum ada produk yang mengintegrasikan deteksi kerumunan dengan pemetaan yang juga disertai dengan adanya peringatan dini.

Biasanya deteksi kerumunan dengan memakai sensor proximity menggunakan perangkat pengguna seperti smartphone.

Baca Juga: KRI Golok 688 Kapal Trimaran Baru Andalan TNI AL

Dalam pengembangan purwarupa alat deteksi kerumunan ini, tim mahasiswa UGM tersebut masih menggunakan webcam, belum memakai CCTV karena adanya keterbatasan dana. Namun begitu, hasilnya dapat memantau kerumunan secara optimal dan akurat.

Syncrom mulai dikembangkan sejak Juni 2021 telah diujicobakan di lapangan. Hasilnya, memiliki akurasi lebih dari 75% dalam mendeteksi kerumunan di suatu ruangan. Jika dikembangkan menggunakan CCTV beresolusi tinggi hasilnya bisa jauh lebih akurat.

Inovasi anak bangsa ini diharapkan bisa membantu petugas keamanan atau ketertiban di daerah dalam penegakan protokol kesehatan masyarakat terutama saat terjadi pelanggaran kerumunan.



Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago