Sungai Warna-Warni Gegara Limbah Industri, DLH Solo: Solusinya IPAL

DLH Solo mengatakan tengah berupaya mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat untuk membangun IPAL bagi UMKM tekstil agar limbah industrinya tidak mencemari sungai.
Sungai Warna-Warni Gegara Limbah Industri, DLH Solo: Solusinya IPAL
SOLOPOS.COM - Air Kali Jenes, Pasar Kliwon, Solo, berwarna kemerahan diduga tercemar limbah kimia dari industri batik printing di sepanjang aliran sungai, Kamis (2/12/2021). (Istimewa)

Solopos.com, SOLO — Tampilan air sungai perkotaan di Solo yang kerap warna-warni merupakan akibat dari limbah industri tekstil yang dibuang tanpa diolah. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Solo mendapati limbah itu berasal dari industri mikro, kecil, dan menengah yang jumlahnya tak sedikit.

Solusi mengatasi hal tersebut adalah pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Tanggung jawab pengelolaan limbah IMKM berada di tangan pemerintah.

Kepala DLH Kota Solo, Gatot Sutanto, mengatakan beberapa waktu lalu DLH menggelar susur sungai di sungai perkotaan seperti, Kali Jenes, Kali Premulung, dan sebagainya. Begitu juga Sungai Bengawan Solo. Ia menemukan kandungan zat pewarna tekstil yang langsung dibuang di sungai tanpa melalui proses pengolahan sehingga membuat air sungai berwarna dan berbau.

Baca Juga: Bantu Korban Erupsi Semeru, Bos Kuliner Solo Kirim 5.000 Paket Makanan

“Solusi mengatasi limbah tersebut dengan pembuatan IPAL komunal. Beberapa IMKM dilayani satu IPAL. Biaya pembuatannya mencapai ratusan juta rupiah, sehingga kami akan berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup [KLHK] maupun rekan-rekan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang [DPUPR],” katanya, Selasa (7/12/2021).

Puluhan UMKM Belum Punya IPAL

Berdasarkan pendataan DLH, jumlah UMKM yang belum memiliki IPAL mencapai puluhan dan bisa bertambah. Pembuatan IPAL komunal bakal menjadi prioritas ke depan, mengingat dampak pencemaran limbah industri itu terhadap sungai dan lingkungan di Solo.

Dampak itu di antaranya kerusakan ekosistem sungai dan yang terparah adalah rusaknya kualitas air sungai maupun air tanah di bawahnya. “Zat-zat pencemaran dalam skala besar bisa merusak ekosistem sungai, terlebih zat pewarna kimia memang sulit diurai,” ucap Gatot.

Baca Juga: Melihat dari Dekat Proyek Jembatan Jonasan Solo yang Tak Kunjung Kelar

Pencemaran limbah industri di sungai Kota Solo juga berdampak pada kualitas air baku sungai yang nantinya diolah PDAM untuk didistribusikan kepada pelanggan. Direktur Utama PDAM Kota Solo, Agustan, menyampaikan kadar pencemaran yang tinggi dapat berdampak pada operasional Instalasi Pengolahan Air (IPA).

“Ya memang akan bermasalah jika persoalan limbah IMKM itu tak bisa diatasi dengan baik mengingat air Sungai Bengawan Solo dipakai untuk air baku melalui IPA Semanggi dan IPA Jurug. Biaya menetralisir zat kimia, zat pewarnanya butuh lebih banyak karena semakin sulit diurai,” jelasnya.


Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago