top ear
Sejumlah warga Sedulur Sikep dari Blora yang menganut ajaran Samin saat menemui Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (kanan) di Semarang, Jateng. (JIBI/Solopos/Antara/Harviyan Perdana Putra)
  • SOLOPOS.COM
    Sejumlah warga Sedulur Sikep dari Blora yang menganut ajaran Samin saat menemui Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (kanan) di Semarang, Jateng. (JIBI/Solopos/Antara/Harviyan Perdana Putra)

Suku Samin, Masyarakat Pedalaman Adat Blora Pemegang Teguh Tradisi

Kabupaten Blora memiliki suku pedalaman yang dikenal sebagai Suku Samin.
Diterbitkan Kamis, 8/04/2021 - 09:15 WIB
oleh Solopos.com/Newswire
3 menit baca

olopos.com, BLORA --  Kabupaten Blora punya suku yang tetap bertahan dengan keaslian tradisi yakni Suku Samin. Suku ini masih memegang teguh tradisi dan adat, memiliki ajaran sendiri. Mereka konsisten dalam berperilaku menjunjung tinggi kejujuran, tidak iri, tidak dengki, dan tidak berprasangka jelek pada orang lain.

Mengutip detik.com, Kamis (8/4/2021), Suku Samin juga bersikap apa adanya tanpa mengada-ada. Ajaran Samin yang disebut Saminisme, adalah keturunan para pengikut Samin Surosentiko dan mengajarkan Sedulur Sikep. Dulu, ajaran ini membuat orang suku Samin dianggap kurang pintar dan sinting.

Kata Sedulur memiliki arti "saudara", dan Sikep adalah "senjata". Sedulur Sikep bermakna ajaran Samin yang mengutamakan perlawanan tanpa senjata dan tanpa kekerasan. Semua berawal dari masa penjajahan Belanda dan Jepang pada zaman dahulu. Sedulur Sikep artinya mereka mengobarkan semangat perlawanan kepada Belanda, dengan cara menolak membayar pajak dan semua peraturan dari pemerintah kolonial.

Baca Juga : Bandara Ngloram Blora Batal Layani Pemudik Saat Lebaran 2021

Masyarakat suku Samin sering kali memusingkan pemerintah Belanda dan Jepang dengan sikap ini, yang mana sampai sekarang masih suka dianggap menjengkelkan oleh kelompok luar. Namun, suku Samin justru senang jika disebut Wong Sikep. Pasalnya, menurut mereka, istilah atau sebutan ini berkonotasi positif yaitu berarti orang yang baik dan jujur.

Masyarakat Samin memang dikenal jujur dan terbuka pada siapa pun, termasuk pada orang yang belum dikenal. Mereka akan berbicara sesuai realitas tanpa rekayasa, meski kadang dinilai sebagai sikap lugu yang cenderung bodoh. Cara inilah yang digunakan saat dulu melawan Belanda, meski sudah mengerti namun pura-pura tidak mengerti.

Mereka juga menganggap semua orang sebagai saudara dengan mengedepankan kebersamaan. Contohnya berlaku dalam hal simpan-pinjam. Di salah satu daerah yang masih kuat memegang ajaran Samin, ada arisan setiap 35 hari sekali. Iuran akan dikumpulkan menjadi tabungan, lalu bisa dipinjamkan kepada siapa saja tanpa ada bunga.

Gerak Lidah

Selain itu, ada juga sikap gotong royong yang tinggi. Misalnya, saat ada yang membangun rumah atau mengerjakan sawah, tanpa diminta semua warga akan datang untuk membantu. Gotong royong ini dikenal oleh suku Samin sebagai Sambatan atau Rukunan.

Keunikan lainnya, mereka memegang teguh solahing ilat atau gerak lidah. Artinya, lidah harus dijaga agar tetap mengucapkan kata-kata yang jujur dan tidak menyakiti orang lain. Jangan menyakiti orang lain, kalau tidak mau disakiti. Jangan membohongi orang lain kalau tidak ingin dibohongi, jangan mencelakai orang lain kalau tidak mau celaka, dan masih banyak lagi.

Samin berasal dari nama seorang penduduk, Ki Samin Surosentiko, yang lahir pada 1859 di Desa Poso, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Dulu Samin dianggap sebagai residivis oleh pemerintah Belanda, atau penjahat yang keluar-masuk penjara.

Baca Juga : BPSMP Sangiran Persolek Rumah Artefak Blora Dengan Replika Homo Erectus

Namun, bagi masyarakat di pedesaan Bojonegoro, ia memiliki predikat sebagai pencuri berhati mulia, mirip dengan kisah Robin Hood di hutan Sherwood, Inggris. Bahkan, seorang guru besar di Surabaya menyebut sosok Samik sebagai intelektual desa.


Editor : Profile Alvari Kunto Prabowo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terpopuler

Iklan Baris

berita terkini


Cek Berita Lainnya