top ear
Ilustrasi bergosip (Freepik)
  • SOLOPOS.COM
    Ilustrasi bergosip (Freepik)

Sudah Ada Sejak Zaman Purba, Bergosip Disebut Bisa Picu Pikiran Positif

Dalam hal ini gosip positif dan negatif memiliki manfaat yang sama. Orang yang menjadi target gosip cenderung bisa mengintrospeksi dirinya.
Diterbitkan Minggu, 7/02/2021 - 07:00 WIB
oleh Solopos.com/Danang Nur Ihsan/Vanya Karunia Mulia Putri
4 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Selama ini banyak yang menganggap bergosip selalu negatif karena disamakan dengan penyebaran rumor atau isu. Namun, para peneliti memiliki pendapat yang berbeda yaitu bergosip bisa memberi dampak positif.

Para peneliti mendefinisikan menggosip sebagai membicarakan orang lain yang sedang tidak ada di lokasi. Robin Dunbar seorang psikolog, memperkirakan jika kebiasaan bergosip sudah ada sejak zaman purba.

Serupa dengan Dunbar, Margaret King dari The Center for Culturan Studies and Analysis, juga beranggapan demikian. Menurutnya, bergosip adalah bentuk komunikasi antarmanusia yang paling kuno.

Bukan itu saja, ternyata dalam satu hari, tiap orang bisa menghabiskan banyak waktu untuk bergosip. Jurnal Social Psychological and Personality Science mencatat jika dalam satu hari, tiap orang sanggup menghabiskan 52 menit waktunya untuk bergosip.

Sebanyak tiga per empat atau 350 dari 467 topik pembicaraan, adalah gosip netral. Contohnya ketika membicarakan orang yang sudah menonton film terbaru.

Baca Juga: Setelah Happy Asmara, Lagu Ciptaan Wahyu Glece Kini Dinyanyikan Pedangdut Vita Alvia

Ini bukanlah gosip yang merugikan orang lain. Alasannya, hal ini tidak menjelekkan nama orang lain. Selain itu, sembilan persen topik pembicaraan adalah gosip positif. Sedangkan, 15 persen adalah gosip negatif.

Hal ini membuktikan jika orang tidak selalu bergunjing. Namun, juga membahas prestasi orang lain. Kebiasaan menggosip kerap dianggap negatif. Alasannya, banyak orang menganggap menggosip sama dengan bergunjing.

Para peneliti menyebut bergosip tidak selalu bersifat negatif. Bedakan antara gosip bersifat negatif dan positif. Gosip negatif memang cenderung menjatuhkan reputasi orang lain.

Maka tidak mengherankan, jika hal ini dikaitkan dengan bullying. Sebaliknya, gosip positif cenderung membahas prestasi dan keberhasilan orang lain.

Cara Menyikapi Gosip

Sebuah hasil studi pada 1993 mengungkap jika, pria menghabiskan 55 persen waktunya atau sekitar 792 menit, untuk bergosip. Sedangkan perempuan, menghabiskan 67 persen waktunya atau sekitar 965 menit untuk menggosip. Selain itu, pria dan perempuan memiliki cara berbeda dalam menyikapi gosip.

Baca Juga: Penelitian Terapi Sel Punca untuk Pengobatan Covid-19 Dikembangkan di 11 RS , Mana Saja?

Ketika perempuan menerima gosip negatif, cenderung terjadi peningkatan perlindungan diri. Alasannya, perempuan kerap memikirkan jika dirinya yang menjadi topik gosip. Sedangkan, pria lebih takut menerima gosip positif. Alasannya, ada pesaing serta perbandingan sosial.

Ilustrasi bergosip
Ilustrasi bergosip (Freepik)

Elena Martinescu, seorang peneliti dari University of Groningen, Belanda, meneliti tentang kebiasaan bergosip. Penelitian dilakukan terhadap 183 mahasiswa. Mereka diminta memberikan evaluasi, baik positif atau negatif, pada kelompok lain.

Dikutip dari Today.com, berikut adalah hasil penelitiannya:

Hal ini membuktikan, jika bergosip bisa berdampak positif untuk orang lain. Walau demikian, tanpa memandang gosip positif dan negatif. Keduanya sama-sama memiliki manfaat. Salah satunya adalah bentuk adaptasi akan perubahan sosial.

Baca Juga: Cara Mengelola Pendapatan Agar Terus Bertambah

Gosip yang bersifat positif, terbukti bisa meningkatkan produktivitas. Alasannya, ketika ada perbandingan prestasi, orang cenderung berusaha menyamainya.

Sedangkan, gosip negatif bisa meningkatkan perlindungan diri. Alasannya, orang bisa mengubah kebiasaan buruknya agar tidak jadi target gosip.

Evaluasi Diri

Namun, dalam hal ini gosip positif dan negatif memiliki manfaat yang sama. Orang yang menjadi target gosip cenderung bisa mengevaluasi dan mengintrospeksi dirinya.

Selain itu, menggosip juga bisa membuat orang paham tentang perilaku yang bisa diterima dan ditolak. Contohnya, ketika tepergok sedang berbuat curang. Orang cenderung bergosip, bahkan mengumbar perilaku buruknya.

Hal ini adalah konsekuensinya, lantaran hal ini tidak bisa diterima dalam lingkungan sosial. Ketika sadar jadi bahan gosip, orang cenderung mengevaluasi dan introspeksi diri. Hal ini juga memacu untuk bersikap lebih baik lagi.

Selain jadi bahan evaluasi diri. Bergosip juga berpengaruh pada kesehatan seseorang. Bergosip bisa membuat detak jantung seseorang melambat.

Baca Juga: 5 Zodiak Ini Mungkin Tidak Ingin Menikah

Robb Willer, psikolog Universitas California, Berkeley, menjelaskan jika bergosip bisa jadi terapi. Alasannya, detak jantung cenderung meningkat ketika melihat orang lain berkelakukan buruk. Namun, detak jantung melambat ketika menceritakannya kepada orang lain.

Namun, gosip negatif bisa memunculkan rasa takut dan gelisah, lantaran takut reputasi mereka hancur karena menjadi pembicaraan dalam topik gosip.

Walau dianggap memiliki manfaat, namun ada baiknya untuk tidak terlalu sering bergosip. Berikut cara menghentikan kebiasaan menggosip:

Jadi seberapa sering Anda bergosip?


Editor : Profile Danang Nur Ihsan
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terpopuler

Iklan Baris

berita terkini


Cek Berita Lainnya