Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

STANDAR NASIONAL INDONESIA : Baru Satu Perusahaan Mainan Anak di DIY Ber-SNI

SHARE
STANDAR NASIONAL INDONESIA : Baru Satu Perusahaan Mainan Anak di DIY Ber-SNI
SOLOPOS.COM - Ilustrasi mainan anak (JIBI/Solopos/Antara/Dok.)

Standar nasional Indonesia untuk mainan anak baru dipenuhi satu produsen.

Harianjogja.com, JOGJA—Pada 2015, baru satu perusahaan mainan anak di DIY yang berlabel Standar Nasional Indonesia (SNI).

PromosiGelaran B20 di Jawa Timur Fokus pada Rantai Pasok UMKM

Kepala Seksi Sertifikasi Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Lies Susilaning Sri Hastuti mengatakan, satu perusahaan tersebut berasal dari Bantul dan memakai biaya sendiri. Menurutnya, pada 2015, tercatat ada 13 perusahaan mainan anak yang terdaftar sudah berlabel SNI dan hanya satu yang berasal dari DIY.

“SNI itu wajib dimiliki perusahaan mainan anak. Sebetulnya banyak produsen mainan anak. Yang menjadi kendala adalah biaya,” ujar dia kepada Harianjogja.com di BBKP beberapa waktu lalu.

Menurutnya, baik bagi importir dan produsen dalam negeri, sama-sama harus memiliki sertifikasi SNI. Untuk importir mainan anak, sertifikasi berlaku untuk satu kali pengapalan berapa pun jumlahnya. Sementara, untuk produsen mainan anak, sertifikasi berlaku untuk satu batch (satu proses produksi). Produk tersebut, diasumsikan setelah masuk gudang akan habis dalam waktu enam bulan.

Ada pun biaya pendaftaran, lanjut dia, untuk produsen dalam negeri sekitar Rp5 hingga Rp7 juta, sedangkan importir sekitar Rp11 juta. Untuk biaya uji produk bisa mencapai Rp25 juta tergantung dari kelengkapan strandarisasi seperti mekanika dan fisika, phthalate, azo formaldehid, dan elektrik. Semakin banyak variabel yang diuji, maka akan semakin mahal. Mahalnya biaya uji disebabkan mahalnya bahan kimia yang digunakan untuk menguji yang harus diimpor.

Untuk mainan impor, pihak penguji berangkat ke negara asal mainan untuk mengambil sampel. Atau bisa bekerjasama dengan laboratorium yang ada di negara asal mainan anak. “Itu pun belum termasuk biaya transportasi dan akomodasi petugas yang ditanggung pihak pengaju sertifikasi ,” ujar dia.

Lies mengaku, biaya sertifikasi mahal terutama untuk produsen kecil. Namun, mereka bisa ditampung oleh perusahaan besar. Mainan anak harus aman untuk anak, sehingga para produsen mainan anak diimau untuk tidak hanya fokus pada keuntungan tetapi juga mulai memikirkan keselamatan anak.

“Bagi produsen lokal yang kecil, baguskan dulu produksinya. Pastikan aman,” imbuh dia.

Menurutnya, Pemerintah pasti memiliki program untuk memfasilitasi pencarian SNI. Jika memiliki label SNI, produsen akan memiliki keuntungan karena mendapatkan kepercayaan dari masyarakat dan memiliki kesempatan yang luas untuk menjadi andalan misalnya dalam pameran.

Salah satu perajin boneka di DIY Suyud Ahmad S mengatakan, semula ia berniat untuk mengurus SNI. Namun, setelah mengetahui biaya yang sangat mahal, ia mengurungkan niatnya. “Sebetulnya, saya ingin mendukung program pemerintah, tapi kalau harus bayar mahal untuk SNI saya bisa gulung tikar,” ujar dia.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode