Staf Ahli Menkeu: Ekonomi RI Diperkirakan Tumbuh Sampai 5,8% di 2022

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut dapat tercapai apabila aktivitas produksi mulai normal, konsumsi masyarakat pulih dan mencapai kisaran 5 persen
SHARE
Staf Ahli Menkeu: Ekonomi RI Diperkirakan Tumbuh Sampai 5,8% di 2022
SOLOPOS.COM - Ilustrasi: Pekerja membersihkan kaca gedung bertingkat di Jakarta, Selasa (11/1/2022). (Antara)

Solopos.com, JAKARTA — Perekonomian Indonesia bisa tumbuh 5,2% sampai 5,8% di 2022, apabila pandemi Covid-19 dapat dikendalikan dan herd immunity tercapai. Demikian perkiraan Staf Ahli Menteri Keuangan Halim Alamsyah.

“Pertumbuhan [ekonomi Indonesia] tersebut juga dapat tercapai apabila aktivitas produksi mulai normal, konsumsi masyarakat pulih dan mencapai kisaran 5 persen,” kata Halim dalam siaran pers yang diterima, Jumat.

PromosiTop! Bos Tokopedia Masuk List Most Extraordinary Women Business Leader

Menurutnya, pemerintah juga perlu mengimplementasikan reformasi struktural guna mendorong arus investasi yang diarahkan pada sektor-sektor berorientasi ekspor. Investasi ini juga perlu diprioritaskan untuk sektor-sektor yang menciptakan banyak lapangan kerja berkualitas.

Baca juga: Disebut Raup Miliaran Lewat Bisnis NFT, Ghozali Dicolek Ditjen Pajak

Halim menyebut terdapat tiga tantangan yang dihadapi semua negara pada tahun 2022. Antara lain fenomena inflasi dunia yang mengalami kenaikan karena pasokan dan permintaan yang terdisrupsi serta krisis energi.

Di samping itu ketidakpastian pasar dalam menyikapi kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (Fed) dan perubahan kebijakan The Fed.

“Menghadapi situasi ketidakpastian ekonomi global, ketahanan ekonomi sebuah negara benar-benar diuji. Apakah dapat tahan jika ekonomi global terguncang, tentu akan terlihat, dan Indonesia adalah negara dengan fundamental ekonomi yang baik. Meski harus diakui negara kita bukan berbasis manufaktur tapi komoditas,” terang Halim.

Baca juga: Sambut Imlek, Toko Solopos Kenalkan Arum Manis

Karena itu, menurutnya, Indonesia diuntungkan oleh permintaan komoditas yang tinggi, sementara sejumlah negara menghadapi krisis energi.

“Hal ini terlihat dari kinerja neraca perdagangan yang surplus. Berikut juga Current Account Deficit (CAD) tidak terjadi, tapi justru surplus,” ucapnya dikutip dari Antara.

 



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago