Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Sosok Moetiah Korban G30S/PKI Kebal Ditembak di Kuburan Massal Plumbon Semarang

Cerita korban G30S/PKI, Moetiah, yang kebal saat ditembak dan dimasukkan hidup-hidup ke dalam kuburan massal di Plumbon, Semarang, Jawa Tengah.
SHARE
Sosok Moetiah Korban G30S/PKI Kebal Ditembak di Kuburan Massal Plumbon Semarang
SOLOPOS.COM - Makam massal tragedi 1965 Plumbon. Warga sekitar sesekali datang membersihkan. (Solopos.com/Ponco Wiyono)

Solopos.com, SEMARANG — Cerita saksi mata tentang apa yang terjadi di Kampung Plumbon, Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah pada suatu malam di tahun 1965 seakan tidak ada habisnya.

Selalu ada hal tertentu dari kesaksian warga yang bermukim di kawasan hutan jati bagian barat Kota Semarang ini.

PromosiAngkringan Omah Semar Solo: Spot Nongkrong Unik Punya Menu Wedang Jokowi

Ketua RT 007/RW 003, Gunawan menceritakan sekelumit peristiwa berdasarkan apa yang dia dengar dari sepupunya, Sukar. Sukar merupakan salah satu saksi mata pada malam berdarah tersebut.

Belasan orang, tetapi sejumlah pihak menyebut puluhan orang, dieksekusi di tempat itu karena dituduh sebagai simpatisan maupun bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI).

“Lima orang, termasuk Sukar diminta menggali tanah. Waktu itu malam hari dan lokasi di dekat lubang itu ditutupi,” jelas Gunawan kepada Solopos.com, Kamis (29/9/2022).

Baca Juga : Mitos di Kuburan Massal Semarang, Penampakan Makhluk Halus hingga Tersesat

Kemudian, Sukar dan penggali lubang yang lain diminta menyingkir. Penasaran, ia memberanikan diri mengintip dari sela-sela pagar penutup di dekat kuburan massal Plumbon Semarang.

“Katanya ia melihat kira-kira 24 orang diturunkan dari truk dan diminta berdiri di dekat lubang. Lalu ada aba-aba kepada orang-orang itu untuk berdoa,” lanjut Gunawan.

Kisah Moetiah

Menurut Gunawan, Sukar kerap bercerita tentang situasi di malam eksekusi tersebut. Sukar sudah meninggal setahun lalu. Hanya tinggal Muh Karmain, kini berusia 90 tahun, sebagai satu-satunya saksi yang masih hidup.

kuburan massal plumbon semarang
Ketua RT 7 RW 3 Kampung Plumbon, Gunawan, mengatakan kerabat Moetiah sudah tak diam-diam lagi untuk berziarah ke makam. (Solopos.com/Ponco Wiyono)

“Tak lama setelah berdoa, tembakan demi tembakan diarahkan ke para korban dari kendaraan. Satu orang yang tidak kunjung meninggal adalah Moetiah. Sukar menceritakan dia [Moetiah] terus tertawa dan berkata ‘iki lo, aku ora apa-apa’,” ungkap Gunawan sambil melihat ke atas.

Baca Juga : Kuburan Massal di Semarang, Lokasi Pembantaian 1965 yang Dianggap Keramat

Lantaran tak kunjung meninggal, Moetiah dipaksa masuk ke lubang dalam keadaan masih bernyawa. Ia dipendam hidup-hidup bersama puluhan korban lain. Sejauh ini baru delapan orang yang telah diketahui identitasnya.

“Sukar menceritakan Bu Moetiah masih sempat tertawa saat sudah di dalam lubang. Kalau jumlah pasti berapa yang dieksekusi itu ada beberapa versi. Ada yang bilang 14, ada yang bilang 21 sampai 24 orang,” beber Gunawan, lelaki yang sudah sembilan tahun menjabat Ketua RT.

Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan keluarga Moetiah sesekali datang untuk membersihkan makam tersebut. “Saya pernah lihat sekali tapi tidak saya tanya. Hanya saya tahu dia kerabat dari Bu Moetiah yang orang Kendal,” jelasnya.

Situs Pelanggaran HAM Berat

Gunawan mengaku tidak tahu pasti siapa Moetiah. Ia hanya mengatakan pernah mendapat kabar Moetiah merupakan anak pejabat di Kendal. Dia dieksekusi karena dampak fitnah. Dia disebut simpatisan PKI lantaran aktif di Gerwani.

Baca Juga : Kuburan Massal Tragedi 1965 yang Terserak

“Dulu kerabatnya itu berpindah-pindah karena statusnya sebagai keturunan PKI membuatnya dipandang berbeda oleh orang-orang. Kalau berziarah pun diam-diam. Sekarang, mereka sudah menetap di Kaliwungu dan sudah biasa saja saat berziarah ke sini,” jelasnya.

Pada 2015, sejumlah aktivis kemanusiaan memasang nisan di kuburan massal Plumbon Semarang. Kuburan yang berisi puluhan orang yang disebut-sebut bagian dari PKI.

Kemudian, pada 2020, kuburan massal di Plumbon Semarang ini ditetapkan sebagai situs terkait pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat, yakni Centro Internacional para la Promoción de los Derechos Humanos (CIPDH) atau International Center for the Promotion of Human Rights UNESCO.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode