Skenario Sekolah Tatap Muka

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin 21 Juni 2021. Esai ini karya Anicetus Windarto, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Realino Sanata Dharma Yogyakarta.
Skenario Sekolah Tatap Muka

Solopos.com, SOLO — Menarik ketika Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka menyatakan bahwa pada Juli 2021 sekolah tatap muka akan diselenggarakan di Kota Solo. Tentu dengan pengecualian di zona merah sekolah tatap muka tetap tidak akan diselenggaran alias ditunda terlebih dahulu. Kondisi termutakhir menunjukkan sekolah tatap muka tak bisa diselenggarakan pada awal Juli 2021 ini.

Pertanyaannya, mendesakkah sekolah tatap muka diberlakukan di tengah pandemi saat ini? Bukankah belum ada kebijakan yang dapat dijadikan dasar pemberlakuan sekolah tatap muka? Apa jaminan yang diberikan ketika sekolah tatap muka diselenggarakan di tengah pandemi tidak akan berdampak apa pun?

Belajar dari kebijakan pelarangan mudik pada Lebaran yang baru lalu, tampak tidak ada kejelasan yang dijadikan dasar untuk hal itu. Masalahnya, pelarangan itu hanya bersifat setengah hati belaka. Buktinya, wisata selama libur Idulfitri tetap diizinkan.

Kunjungan ke sanak keluarga di lain kota atau kabupaten, meski dalam batas anglomerasi tertentu, tetap diperbolehkan. Maka tak mengherankan ketika ditemukan ada beragam pelanggaran yang terjadi dan tidak sedikit yang dibiarkan begitu saja tanpa penindakan apa pun.

Penting untuk dicatat bahwa sekolah tatap muka di tengah pandemi Covid-19 masih sangat berisiko tinggi. Di beberapa daerah yang telah menyelenggarakan uji coba sekolah tatap muka justru menimbulkan klaster baru selama pandemic ini. Di luar negeri juga ditemukan hal serupa sehingga negara tersebut mengambil kebijakan lockdown kembali.

Fakta seperti ini sebaiknya dijadikan data untuk merumuskan mitigasi risiko sekolah tatap muka di tengah pandemi. Itu artinya dengan fakta yang telah diolah menjadi data itu setiap kebijakan yang diambil dapat dipegang sebagai pedoman untuk melakukan evaluasi dan refleksi.

Harus diakui bahwa hal itu belum menjadi kebiasaan yang dapat membangun kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi beragam ketidakpastian yang melanda seperti pada masa pandemi saat ini. Itulah sebenarnya makna dan pengertian dari mitigasi. Jadi, mitigasi itu bukan sekadar perkara alat atau perangkat teknologi yang serba canggih dan dapat mendeteksi, bahkan menangani dengan segera berbagai persoalan.

Mitigasi dalam konteks rencana penyelenggaraan sekolah tatap muka adalah masalah cara pandang untuk mengamati dan mewaspadai dengan jeli segala peristiwa, khususnya yang tak terduga dan tak terbayangkan sebelumnya. Dari cara pandang itu skenario dapat dihasilkan untuk mengantisipasi dan menangani segenap masalah yang mungkin muncul.

Skenario itulah yang akan menjadi penanda dan untuk menandai beragam hal dan masalah yang penting dan perlu segera diatasi. Dalam konteks ini cara pandang semiotika yang diperkenalkan oleh Roland Barthes dapat dijadikan referensi atau rujukan ilmiah. Dalam salah satu kajian yang berjudul Sade, Fourier, Loyola (1974), ditunjukkan bahwa skenario itu lebih penting dan diperlukan ketimbang hanya sebuah scene (pandangan sekilas).

Pendekatan Sinematografi

Dengan menggunakan pendekatan sinematografi, Barthes memperlihatkan bahwa sebuah skenario dapat menggugah daya dan kuasa imajinatif para penonton film. Sedangkan scene hanyalah tanda atau simbol yang menjadi pengingat belaka untuk memanfaatkan daya dan kuasa imajinatif agar dapat mengubah kehidupan sehari-sehari.

Oleh karena itulah, skenario amat dibutuhkan supaya para penonton film tidak mudah terpana, bahkan tersesat, pada salah satu bagian atau sosok tertentu dalam suatu cerita, melainkan dapat secara holistis menemukan pelajaran dari yang dipertontonkan. Itulah mengapa skenario dapat mengutuhkan seluruh pandangan (scene) yang ditampilkan sehingga cara pandang dapat terbentuk secara faktual dan aktual.

Di sini kajian Benedict Anderson dalam buku Imagined Communities: Komunitas-komunitas Terbayang (2001) menunjukkan bahwa skenario dapat menjadi homogenous empty time (waktu serempak yang hampa). Dalam istilah Walter Benjamin disebut ”waktu mesianis”, ”waktu yang homogen dan hampa”, ketika ”masa silam serempak mengada dengan masa depan dalam masa kini yang bersifat instan.”

Seperti itulah yang sesungguhnya terjadi dan diperlukan dalam pembentukan sebuah bangsa. Bangsa yang tidak hanya berhasrat untuk mengambil nyawa sesamanya demi pembayangan yang serba terbatas, tetapi justru merelakan dirinya terlebih dahulu untuk dikorbankan. Demikianlah semangat nasionalisme yang telah dipertunjukkan oleh para pendahulu pada masa lalu demi Indonesia merdeka.

Kini, semangat itu pun dituntut, khususnya pada kebijakan penyelenggaraan sekolah tatap muka agar dapat menghasilkan tuntunan yang tepat dan bermanfaat di tengah pandemi Covid-19 ini. Dengan kata lain, sekolah tatap muka bukan semata-mata dihadirkan sebagai kebijakan yang bertendensi mengorbankan nyawa orang lain, namun  lebih dari itu adalah suatu skenario untuk membangun bangsa yang berperikemanusiaan dan berkeadilan sosial.

Maka, sekali lagi, perlu dikaji dengan lebih jeli dan waspada bahwa penyelenggaraan sekolah tatap muka bukan sekadar kebijakan uji coba, tetapi adalah skenario yang dapat membawa bangsa menuju pada kemajuan atau justru kehancuran yang tak tertanggungkan.

 

Promo & Events
Berita Terkait
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago