top ear
Kolom asap erupsi Merapi, Minggu (21/6/2020). (Twitter @BPPTKG)
  • SOLOPOS.COM
    Kolom asap erupsi Merapi, Minggu (21/6/2020). (Twitter @BPPTKG)

Skenario Pengungsian Warga Klaten Jika Merapi Erupsi Saat Pandemi

Ketika level siaga tak serta merta seluruh pengungsi mengevakuasi mandiri ke selter pengungsian atau desa paseduluran.
Diterbitkan Jumat, 24/07/2020 - 09:00 WIB
oleh Solopos.com/Taufiq Sidik Prakoso
3 menit baca

Solopos.com, KLATEN – Pemetaan tempat pengungsian ketika terjadi gelombang pengungsi akibat erupsi Gunung Merapi di tengah pandemi Covid-19 terus dilakukan. Selter serta desa paseduluran menjadi ring I menempatkan pengungsi Klaten.

Hanya saja, kapasitas selter pengungsian yang disiapkan untuk menghadapi erupsi Gunung Merapi yang sudah terbatas kian terbatas ketika menyesuaikan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Sekretaris BPBD Klaten, Nur Tjahjono Suharto, mengatakan tiga selter pengungsian yakni di Desa Kebondalem Lor, Kecamatan Prambanan, Desa Menden, Kecamatan Kebonarum, serta Desa Demakijo, Kecamatan Karangnongko tetap menjadi lokasi pengungsian utama.

Nur mengatakan pada kondisi normal kapasitas setiap selter pengungsian bisa menampung hingga 200 orang. Namun, kapasitas selter pengungsian berkurang dan hanya mampu menampung sekitar 77 orang hingga 80 orang setiap selter menyesuaikan protokol kesehatan yakni menjaga jarak tempat tidur yang direncanakan diberi sekat.

Punya Nama Unik, Seniman asal Klaten Temanku Lima Benua Sudah Pameran di Pelosok Tanah Air

Terkait desa paseduluran, Nur mengatakan juga disiapkan sebagai ring I ketika menerima gelombang pengungsian. Di desa paseduluran tersebut, kembali dipetakan rumah serta tempat-tempat yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat pengungsian.

Pada konsep desa paseduluran di Klaten, ada 13 desa asal yang seluruhnya dari Kecamatan Kemalang dan 26 desa penerima. “Protokol kesehatan tetap diperhatikan,” urai Nur saat ditemui Solopos.com di BPBD Klaten, Rabu (22/7/2020).

Jika di desa paseduluran masih tak mampu menampung pengungsi Gunung Merapi, Nur mengatakan dicarikan alternatif lain.

“Alternatif itu tempat-tempat umum yang sudah disiapkan pemkab. Di tempat alternatif itu tetap dibuat klaster, artinya dikelompok-kelompokkan misalkan GOR untuk warga RT dan RW mana. Ini tujuannya memudahkan koordinasi,” kata Nur.

Menyiapkan Lahan Alternatif

Selain tempat pengungsian warga, Nur mengatakan pemetaan kembali tempat pengungsian ternak dilakukan. Sebelumnya ada kendala lokasi tempat pengungsian ternak di sekitar selter lantaran minimnya lahan seperti di Selter Demakijo.

Terkait kondisi itu, Nur menjelaskan Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten sudah menyiapkan lahan alternatif untuk pengungsian.

“Ada lahan di Jatinom dan Tulung yang bisa digunakan untuk tempat pengungsian,” tutur dia.

Disinggung kapan warga lereng Merapi terutama yang tinggal di kawasan rawan bencana (KRB) III harus mengungsi, Nur mengatakan rencana kontijensi (Renkon) erupsi Merapi diaktifkan ketika status gunung Merapi sudah berada pada level siaga.

Operasi Patuh Candi 2020 Digelar di Tengah Pandemi, Polisi Klaten Tak Segan Tilang Pelanggar

Saat ini, level aktivitas Gunung Merapi masih berada pada status waspada sejak 21 Mei 2018. “Renkon erupsi diaktifkan ketika posisi [Merapi] level siaga. Pada level itu boleh mengungsi,” ungkap dia.

Namun, Nur menjelaskan ketika level siaga tak serta merta seluruh pengungsi mengevakuasi mandiri ke selter pengungsian atau desa paseduluran.

Evakuasi warga itu tergantung rekomendasi bahaya erupsi Merapi yang ditetapkan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta.

“Ketika di tempat evakuasi sementara di desa masih aman dari erupsi, warga berkumpul di sana,” jelas dia.

Pendataan Dilakukan Sukarelawan

Lebih lanjut, Nur mengatakan pendataan warga di wilayah berpotensi terdampak erupsi Merapi diperbarui secara berkala melalui sukarelawan yang ada di masing-masing desa.

Hasil Swab Covid-19 Belum Keluar, 25 Warga Daleman Klaten Isolasi Mandiri & Logistik Dikirimi

Kepala Desa (Kades) Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Gothot Winarso, mengatakan persiapan pengungsian terus dilakukan di tingkat desa. Dia menjelaskan seluruh persiapan mulai dari jalur evakuasi, transportasi, hingga tempat evakuasi sementara sudah dilakukan.

Pendataan warga di lereng Merapi juga terus diperbarui. Terkait skenario evakuasi mandiri, Gothot menjelaskan dilakukan secara fleksibel tergantung kondisi erupsi yang terjadi.

“Kami tergantung dari informasi jarak lontaran. Seandainya hanya 6 km, kami geser ke gedung serba guna di desa. Kalau tidak kami turun lagi ke Dompol dan sebagainya. Jadi, kami tidak langsung menjauh ke titik utama,” jelas dia.

 


Editor : Profile Rohmah Ermawati
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com


berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini