Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Sip, Terentaskan dari Kemiskinan, 64 Keluarga di Sragen Diwisuda Bupati

Nilai dana CSR untuk UEP bagi 64 keluarga di 2022 ini mencapai 149 juta. Sedangkan bantuan yang diberikan Rp1,5 juta-Rp3,5 juta per orang.
SHARE
Sip, Terentaskan dari Kemiskinan, 64 Keluarga di Sragen Diwisuda Bupati
SOLOPOS.COM - Lima orang perwakilan dari 64 keluarga di 11 kecamatan menerima piagam penghargaan secara simbolis dari Pemkab Sragen lantaran mereka berhasil terentaskan dari kemiskinan, Kamis (8/12/2022). (Solopos.com/Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN—Sebanyak 64 keluarga penerima manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) di Kabupaten Sragen menyatakan keluar dari program bantuan sosial pemerintah tersebut.

Mereka diwisuda sebagai keluarga yang terentaskan dari kemiskinan dan mampu mandiri sebagai keluarga sejahtera, Kamis (8/12/2022).

PromosiMesin Baru di Mitsubishi L300 Euro 4: Lebih Bertenaga, Hemat Bahan Bakar

Dalam terminologi bantuan sosial (bansos) pemerintah, 64 keluarga itu mengalami graduasi mandiri sejahtera karena menyatakan berhenti menerima bantuan pemerintah. Puluhan keluarga itu berasal dari 11 kecamatan.

Kuis Solopos - Seru-seruan Asah Otak

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Sragen, Finuril Hidayati, kepada Solopos.com, Jumat (9/12/2022), menyampaikan 64 keluarga itu sudah memiliki usaha sendiri dan mampu mandiri.

Setelah diwisuda mereka mendapatkan piagam penghargaan dari Bupati Sragen sebagai keluarga mantan penerima PKH Sragen sehingga mereka terentaskan dari kemiskinan.

Baca Juga: Jos! Merasa Mampu, Belasan Keluarga di Gunungkidul Mengundurkan Diri dari PKH

Dalam pengembangan usahanya para keluarga sejahtera baru itu, Dinsos menggandeng BPR Syariah Sukowati atau Bank Syariah Sragen untuk memberikan dana corporated social responsibility (CSR) untuk bantuan usaha ekonomi produktif (UEP) bagi para KPM graduasi mandiri sejahtera itu.

Selain itu, Dinsos juga menggandeng Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Sragen.

Direktur Bank Syariah Sukowati, Fakhruddin Nur, saat ditemui Solopos.com, menjelaskan nilai dana CSR untuk UEP bagi 64 keluarga di 2022 ini mencapai 149 juta. Nilai bantuan yang diberikan, ujar dia, bervariasi Rp1,5 juta-Rp3,5 juta per orang. Nilai bantuan itu, kata dia, disesuaikan dengan hasil assement dan jenis usahanya.

“Bantuan itu seberapa efektif bisa menaikan omset usahanya. Dengan bantuan UEP itu rata-rata dalam setahun, mereka sudah percaya diri karena omset naik sehingga siap keluar dari daftar keluarga miskin,” jelas Fakhruddin.

Dia mengatakan nilai dana CSR tahun ini meningkat bila dibandingkan pada 2021 yang hanya Rp100 juta untuk 32 KPM. Dia menyebut bantuan UEP ini merupakan tahun keempat dalam program pengentasan kemiskinan.

Baca Juga: Graduasi PKH di Solo Diperkirakan Ribuan KPM

Dia menjelaskan program UEP dimulai sejak 2019 menghasilkan keluarga yang berani keluar dari kemiskinan dan diwisuda pada 2020 sebanyak satu orang.

“Program ini sempat berhenti karena pandemi dan berlanjut kembali di 2021. Bantuan UEP ini ternyata memberi keberkahan bagi bisnis Bank Syariah Sragen karena sampai November 2022 ada pertumbuhan aset bank mencapai 25,4% sehingga menjadi Rp326 miliar,” jelasnya.

Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati meminta pada wisuda graduasi pada 2023 mendatang ada testimoni dari mantan penerima PKH yang sukses, seperti kesuksesan warga Masaran dengan omset Rp4 juta per hari lewat usaha jualan mi ayam. “Jadi saya pun selepas jadi Bupati barang kali pengen jualan mi ayam dan bakso juga serta soto Rp3.000,” katanya.

Baca Juga: 11,10% Wong Sragen Masih Buta Huruf dan Pengaruhnya Terhadap Kemiskinan

Yuni, sapaan Bupati, mengapresiasi 64 keluarga yang berani keluar dari kemiskinan. Dia menilai selama ini pola pikir masyarakat ketika disurvei petugas Badan Pusat Statistik (BPS) masih menginginkan bantuan pemerintah. “Misalnya, sebenarnya warga itu makan tiga kali. Karena ada survei, warga itu mengaku makan hanya sekali kala-kala. Inilah yang saya maksud pola berpikir malas dan inginnya dapat bantuan pemerintah,” jelasnya.

Yuni menginginkan graduasi mandiri sejahtera ini menjadi semacam virus yang menyebar di masyarakat dan tidak perlu diobati karena dengan virus ini akan banyak warga miskin yang terentaskan.



Info Digital Tekno
Indeks
Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Info Perbankan
Indeks
Interaktif Solopos
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Kuis Solopos - Seru-seruan Asah Otak
      Emagz Solopos
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Interaktif Solopos
      Kuis Solopos - Seru-seruan Asah Otak
      Solopos Stories
      Part of Solopos.com
      ISSN BRIN
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode