top ear
Sholahuddin (Istimewa/Dokumen pribadi)
  • SOLOPOS.COM
    Sholahuddin (Istimewa/Dokumen pribadi)

Silat Bukan Siasat

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 28 September 2020. Esai ini karta Sholahuddin, bergiat di Solopos Institute.
Diterbitkan Kamis, 8/10/2020 - 21:24 WIB
oleh Solopos.com/Sholahuddin
4 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Tiba-tiba ingatan saya kembali ke beberapa tahun silam, saat masih aktif di sebuah perguruan silat kala masih berstatus mahasiswa. Saya memang tidak lama bergabung di perguruan silat. Sekitar dua tahun.

Dalam strata di perguruan silat yang saya ikuti, saya masih dalam level dasar. Masih sangat jauh untuk bisa masuk kategori sebagai pendekar, level paripurna di dunia persilatan. Ada kebangggan tersendiri saat ikut perguruan silat karena ini adalah bela diri warisan budaya bangsa.

Pencak silat adalah warisan leluhur bangsa ini, warisan nenek moyang kita. Ada perasaan menjadi Indonesia. Nama-nama jurus atau gerakan silat juga mudah dihafal karena menggunakan bahasa Indonesia. Nama gerakan sesuai dengan gerakannya.

Tendangan atas, tendangan bawah. Tangkisan atas, tangkisan bawah, dan sebagainya. Ini yang mempermudah saya mempejari gerakan-gerakan silat.  Sekalipun singkat, saya mencoba menyelami dan menghayati nilai-nilai yang diajarkan para pelatih.

Kesan saya, berlatih pencak silat itu keras.  Ini bisa dimaklumi karena ada keterampilan dan nilai-nilai yang ingin ditanamkan kepada para peserta didik (murid). Disiplin, ketangguhan, ketahanan fisik, keterampilan, ketangguhan mental dan emosional.

Keras tapi tidak ada unsur kekerasan. Tidak pernah sekalipun pelatih mengajarkan kekerasan atau melakukan kekerasan kepada peserta didik. Kalau ada pesilat melakukan kesalahan atau tidak disiplin, paling banter disuruh push up, itu pun dilakukan secara wajar.

Para pelatih juga sangat toleran. Jika ada murid yang kelelahan, pelatih mempersilakan beristirahat. Keluar dari barisan, menenangkan diri untuk mengembalikan energi. Kalau tidak bisa melanjutkan latihan, tidak apa-apa. Tinggal menunggu penutupan untuk pulang bersama-sama.

Sikap ini menunjukkan ada pemahaman tentang perbedaan kondisi fisik setiap murid saat berlatih. Perlu toleransi dan kearifan sang pelatih. Yang saya sukai, para pelatih tidak pernah menebarkan sikap permusuhan kepada perguruan silat lain.

Sesama perguruan silat, termasuk beladiri lainnya, harus tetap saling menghormati. Tidak perlu ada perasaan kelompok yang berlebihan sehingga menjadi pemicu konflik dengan kelompok lain. Saat berlatih dan bertemu kelompok perguruan lain di jalan, semua happy-happy saja. Saling sapa. Indah sekali.

Saat berlatih dalam skema bersabung atau bertarung juga begitu. Meski keterampilan bersilat diadu, layaknya berkelahi, saya tidak pernah memendam rasa permusuhan. Saat saya melepaskan tendangan dan pukulan, itu tidak saya maksudkan untuk menyakiti “lawan” saya.

Begitu juga sebaliknya, saat “lawan” saya melepaskan jurus-jurus yang menyebabkan baju seragam saya robek, badan sakit karena kena tendangan dan pukulan. Semua saya pahami sebagai proses untuk meningkatkan keterampilan dan mengasah kedewasaan. Para pelatih selalu menekankan begitu. Seusai bertarung ya selalu bersalaman dan berangkulan. Selesai. Fair sekali.

Sebagai warisan khas Indonesia, dalam berbagai literatur, pencak silat sesungguhnya punya aspek-aspek penting bagi kehidupan. Silat mengandung aspek mental spiritual untuk membangun kepribadian dan karakter mulia.

Para pendekar silat masa lalu sering melakukan olah batin untuk mencapai tahap spiritual guna meraih derajat keilmuan tertinggi. Silat mengandung aspek seni dan budaya yang menggambarkan nilai-nilai luhur. Gerakan-gerakan silat mengundung unsur seni yang indah yang bisa dinikmati banyak orang.

Pencak silat juga mengandung aspek bela diri yang digunakan saat berada pada situasi tertentu untuk menyelamatkan diri dari situasi berbahaya. Silat juga mengandung unsur olahraga untuk meningkatkan ketangguhan fisik.

Bila dilihat dari berbagai aspek tersebut, sesungguhnya tidak ada bagian dari ajaran pencak silat yang mendorong pada kekerasan, permusuhan, rasa identitas kelompok yang tinggi, serta memandang perguruan lain sebagai musuh.

Antikekerasan

Pencak silat, dan apa pun aliran bela diri lainnya, selalu mengajarkan kasih sayang, nilai-nilai kemanusiaan, pembelaan terhadap yang lemah, sportivitas, serta toleransi. Saya juga pernah berkesempatan mencicipi berlatih sebuah genre bela diri dari Jepang.

Bela diri ini memang benar-benar sebagai bela diri karena praktis tidak ada jurus menyerang. Semua gerakan hanya untuk mempertahankan diri. Melumpuhkan orang yang menyerang tanpa menyakiti sama sekali.  Menundukkan lawan dengan memanfaatkan energi lawan.

Kesimpulan saya, ada nilai-nilai kesamaan yang saya dapatkan dari dua aliran bela diri ini. Sama-sama antikekerasan, apa pun bentuknya. Ajaran silat sesungguhnya merupakan ajaran tentang wajah keindonesiaan, menghargai sesama, keberpihakan kepada kaum yang lemah, penghargaan pada pluralitas dan keberagaman, menebar kasih sayang, mencintai sesama.

Sesunggunya kita, para penguasa, dan politikus perlu banyak belajar kepada ajaran-ajaran pesilat ini, mengadopsi nilai-nilai kependekaran. Pendekar adalah orang-orang yang mencapai tingkat tinggi dalam keilmuan silat.

Mereka mahir dalam seni bela diri, tapi umumnya orang-orang yang tawaduk, rendah hati. Seperti ilmu padi, semakin tinggi dan berbobot penguasaan ilmu, mereka semakin merunduk. Setiap pesilat wajib memahami nila-nilai kependekaran ini.

Saking mulianya pendekar, istilah ini tidak hanya digunakan dalam dunia silat. Istilah ini bisa digunakan untuk menyebut orang yang mencapai ilmu tinggi dalam segala hal. Pendekar hukum adalah orang yang ahli dalam ilmu hukum dan pendekar-pendekar lainnya.

Sesungguhnya bila ada “oknum” pesilat yang bertindak arogan, menebar permusuhan, tidak toleran karena memandang perguruan lain sebagai lawan, arogan karena merasa dirinya paling jago, memancing ketakutan di tengah masyarakat, bisa dipastikan mereka bukan pesilat sejati.

Mereka hanya pantas disebut orang yang jago berkelahi. Demikian pula para penguasa, orang-orang yang tanda tangan mereka bernilai otoritas, para politikus yang menebar arogansi di depan rakyat, sesungguhnya mereka bukan politikus sejati. Mereka hanya orang-orang yang jago bersiasat.  Itu saja.


Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com


berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini