[x] close
top ear
Arif Budisusilo (Istimewa/Dokumen pribadi)
  • SOLOPOS.COM
    Arif Budisusilo (Istimewa/Dokumen pribadi)

Si Covid Sontoloyo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 17 Juli 2020. Esai ini karya Arif Budisusilo, anggota Dewan Redaksi Harian Solopos.
Diterbitkan Senin, 27/07/2020 - 21:08 WIB
oleh Solopos.com/Arif Budisusilo
5 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Teman-teman saya, para pemimpin media, sedang gundah gulana. Bisnis di industri ini sedang tidak mudah. Tantangannya kompleks. Mula-mula dampak disrupsi teknologi mengubah drastis perilaku pembaca dan pengiklan. Ini belum ketemu solusinya. Kini, si sontoloyo: Covid-19.

Pada Rabu (14/7/2020) malam digelar diskusi daring via aplikasi Zoom Meeting selama lebih dari tiga jam. Diskusi berlanjut di grup Whatsapp. Tak ketemu pula solusi yang cespleng yang membuat semua optimistis dan yakin.

Solusi selalu klasik: lebih inovatif, lebih kreatif, efisiensi di segala lini. Tahan agar revenue tidak terjun bebas, sekaligus kendalikan cost: pangkas biaya. Biar bottom line tidak ikutan terpuruk,dan cashflow tetap terjaga.

Kalau sudah tak kuat lagi, karyawan dirumahkan, atau pemutusan hubungan kerja. Itulah yang terjadi hari-hari ini. Di banyak sektor industri. Industri manufaktur, industri ritel, industri hospitality.

Rumah sakit kehilangan banyak pasien gara-gara orang takut pergi ke rumah sakit. Takut tertular virus corona. Industri hotel paling terpukul. Banyak hotel tutup selama pandemi. Industri penerbangan begitu pula. Kenalan saya, seorang pilot di maskapai penerbangan, saat mulai

Baru belakangan, setelah dipastikan prosedur naik pesawat aman dengan protokol kesehatan yang lebih ketat, jumlah penumpang mulai lumayan. Di Garuda, sebagian rute gemuk mendapatkan penumpang rata-rata mendekati 70% kapasitas.

Angkutan massal di darat juga serupa. PT Kereta Api Indonesia (KAI), sebelum pandemi Covid-19, mengantongi pendapatan rata-rata dari penumpang hingga Rp25 miliar per hari. Saat pandemi ini anjlok drastis. Pada April-Mei lalu, pendapatan rata-rata tinggal Rp400 juta per hari.

Saya menduga penumpang masih takut bepergian menggunakan moda angkutan massal. Direksi PT KAI menyiapkan beberapa skenario, terutama memastikan cashflow dan likuiditas aman.

Prinsip cash is the king kian terbukti dalam situasi kepepet seperti saat ini. Tentu banyak langkah efisiensi dan pengurangan biaya pada pos-pos yang memungkinkan.

Kabar baiknya, karyawan PT KAI masih beruntung. Manajemen tak sampai memutus hubungan kerja dan manajemen juga tetap membayar penuh gaji karyawan.

Untungnya, angkutan barang masih positif. Meski turun dari rata-rata Rp1,2 triliun per bulan, angkutan barang melalui kereta masih mampu menyumbang pendapatan ratusan miliar rupiah sebulan saat pandemi ini.

***

Bila melihat dampak di sektor ekonomi, Covid-19 ini benar-benar sontoloyo. Selain contoh-contoh di atas, masih banyak ilustrasi lain sebenarnya. Lihat saja secara agregat. Kisah Singapura menjadi contoh yang sangat nyata.

Ekonomi negeri jiran itu anjlok 41,2% pada kuartal II tahun ini setelah pandemi Covid-19 menghalangi mobilitas manusia, barang, dan jasa seluruh dunia.

Singapura sangat terpukul. "Negeri transit" ini sangat tergantung pada perjalanan wisata dan perdagangan internasional mengingat penduduk domestiknya hanya sekitar enam juta jiwa.

Negeri itu mencatatkan resesi karena sejak kuartal pertama telah tumbuh negatif. Hingga akhir tahun, perekonomian Singapura diproyeksikan terkoreksi hingga -7%. Ini akan tercatat sebagai resesi terburuk sejak negeri itu merdeka pada 1965.

Sedangkan perekonomian Indonesia, meski belum mencatatkan resesi, mengalami tekanan besar hingga kuartal kedua tahun ini. Setelah tumbuh hanya 2,97% pada kuartal pertama, ekonomi Indonesia diperkirakan akan anjlok hingga -4,3% pada kuartal kedua tahun ini.

Untuk mencegah resesi, mau tak mau pemerintah harus all out meramu kebijakan dan strategi yang lebih efektif pada periode Juli-September ini agar bisa kembali tumbuh positif.

Indonesia beruntung punya kapasitas domestik yang besar, dengan konsumen 270 juta jiwa lebih. Konsumsi domestik ini masih dapat diharapkan agar terbebas dari bayang-barang resesi.

Presedennya ada. Tiongkok--dengan penduduk 1,3 miliar jiwa--ternyata mampu tumbuh 3,2% pada kuartal kedua tahun ini setelah cepat lepas dari jeratan pandemi Covid-19. Praktis, negeri itu terbebas dari bayang-bayang resesi.

***

Saya mendapat cerita, Presiden Joko Widodo hanya mengundang enam orang orang menteri pada sidang kabinet terbatas Senin (13/7) lalu. Biasanya dihadiri banyak menteri.

Mungkin biar lebih fokus. Biar dapat menghasilkan kebijakan yang lebih efektif. Situasi yang dihadap Indonesia saat ini memang sedang tidak mudah. Pada aat sejumlah negara di Asia Tenggara sudah relatif tenang dan hampir terbebas dari hantu sontoloyo Covid-19, kondisi Indonesia masih serba tidak pasti.

Kasus positif Covid-19 di Indonesia masih terus bertambah, bahkan di Jakarta kasus meninggal terus bertambah. Indonesia kini menjadi episentrum baru pandemi Covid-19 di Asia Tenggara. Malaysia, Thailand, dan Vietnam sudah bisa kembali beraktivitas nyaris normal.

Hanya Filipina dan Singapura yan masih harap-harap cemas, meski tambahan kasus tidak sebanyak di Indonesia. Dalam situasi ketidakjelasan semacam itu, desain kebijakan yang hendak dilancarkan juga tidak mudah.

Aneka stimulus ekonomi masih berada di kertas. Realisasi dan eksekusi jauh panggang dari api. Birokrasi pemerintah, tampaknya, masih mengidap kendala mentalitas. Kurang pragmatis. Masih "old-normal, alih-alih new normal". Tak berani ambil terobosan.

Saya mendapatkan cerita, kasus Covid-19 di Jawa Timur relatif mencemaskan karena orientasinya masih mengandalkan kebijakan fiskal ketimbang social-movement. Kurang menggerakkan masyarakat: mengedukasi dan menyadarkan.

Ketika fiskal seret, upaya-upaya yang seharusnya dilakukan terhenti. Pandemi Covid-19 ini lebih banyak menyerang "pikiran" sebagian besar orang Indonesia dan dunia. Telanjur menjadi top-of mind. Takut dan cemas.

Artinya, faktor-faktor yang membentuk pola pikir masyarakat itulah yang mesti disentuh ulang agar orang tetap hati-hati dan perlu hati-hati dengan protokol, tetapi tak takut lagi. Yang tidak paham digerakkan agar disiplin terhadap protokol kesehatan sehingga membuat yang lain merasa aman untuk beraktivitas.

Mobilitas yang terhenti akibat pandemi inilah biang kerok utama ekonomi mati suri. Konsumen diam di rumah, tak berani berbelanja, industri ritel nyaris terhenti.

Saya salut kepada Sigit Pramono, mantan bankir yang kini memimpin inisiatif Gerakan Pakai Masker agar masyarakat kembali produktif, sekaligus aman dari ancaman virus corona.

Sepanjang keyakinan bahwa kondisi aman itu tidak terbangun dengan baik, akan selalu menyisakan kecemasan. Kecemasan inilah penghambat utama aktivitas ekonomi. Penting untuk menumbuhkan pragmatisme birokrasi.

Orientasi fiskal dalam penanganan dampak Covid-19 terbukti menjadi pemicu banyak masalah. Bantuan sosial yang disalurkan melalui banyak pintu kementerian, misalnya, menjadi tidak efektif. Tumpang tindih dan kurang tepat sasaran.

Rasanya pemerintah perlu mendesain ulang kebijakan bantuan sosial, jaring pengaman untuk yang kehilangan pekerjaan dan daya beli. Penyaluran satu pintu, seperti program Jaring Pengaman Sosial era krisis moneter 1998 lalu, mungkin akan lebih efektif.

Intinya penting untuk memastikan bahwa kebijakan jaring pengaman ini efektif dalam mendorong kembali daya beli kelompok masyarakat yang kehilangan penghasilan.

Saya ingat istilah yang sering dipakai Chatib Basri saat krisis 2008 lalu: keep buying strategy. Strategi menjaga daya beli mereka yang kehilangan penghasilan perlu terfokus dan terintegrasi. Tidak terpecah belah di banyak lembaga dan kementerian agar efektif memulihkan kembali ekonomi.

Intinya, kita butuh bantalan ganda sekaligus untuk mengatasi dampak ekonomi dari sontoloyo Covid-19 ini. Upaya memompa daya beli disertai upaya masif dan terstruktur untuk membangkitkan keberanian "belanja kembali" ke luar rumah dengan rasa aman dan nyaman. Bantalan ganda itu akan memperbesar harapan bagi percepatan pemulihan ekonomi agar terbebas dari bayang-bayang resesi.


Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini