top ear
Sholahuddin (Istimewa/Dokumen pribadi)
  • SOLOPOS.COM
    Sholahuddin (Istimewa/Dokumen pribadi)

Semua adalah Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 25 Agustus 2020. Esai ini karya Sholahuddin, pegiat di Solopos Institute. Alamat e-mail penulis adalah sholahuddin@solopos.co.id.
Diterbitkan Sabtu, 5/09/2020 - 20:54 WIB
oleh Solopos.com/Sholahuddin
4 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Sesungguhnya saya khawatir saat menulis judul esai ini. Khawatir ”kita” pada judul di atas diasosiasikan dengan KITA, Kerapatan Indonesia Tanah Air, kelompok yang baru-baru ini dideklarasikan para  pendukung Joko Widodo-Ma’ruf Amin pada pemilihan presiden 2019 lalu.

Sungguh tidak ada hubungan sama sekali. Seandainya ada kata ”kami” dalam tulisan ini, itu juga tidak ada kaitan sama sekali dengan KAMI, Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia, kelompok yang dibentuk oleh orang-orang yang mengklaim diri ingin menyelamatkan Indonesia.

Saya tidak tertarik membahas organisasi, kelompok, komunitas, koalisi  atau apa pun namanya yang dalam pandangan subjektif saya mengusung kepentingan jangka pendek. Apalagi kalau melihat orang-orang yang berada di balik kedua kelompok tersebut. Jadi, jelas kan?

Biarlah fenomena KITA dan KAMI dibahas mereka yang menganggap penting kelompok-kelompok itu. Saya lebih tertarik membahas tentang kelompok yang mengusung nilai-nilai universal keindonesiaan. Membangun ketulusan di tengah masyarakat yang tidak tulus.

Beginilah kerepotan ketika sebuah kata atau istilah yang sesungguhnya netral, milik semua, kemudian digunakan untuk menamai kelompok. Kata atau istilah itu menjadi tidak bebas karena penggunaannya bisa diasosiasikan pada kelompok-kelompok tersebut.

Membikin saya repot karena terpaksa mengklarifikasi dulu saat menggunakan kata ”kita” dalam judul esai ini. Saya merasa tidak merdeka dalam berbahasa. Sadar tidak sih orang-orang itu? Dalam bahasa tulis kata-kata tersebut bisa dibedakan dari penggunaan huruf besar dan huruf kecil, tetapi saya tetap tidak ikhlas, apalagi dalam pengucapan lisan tidak bisa dibedakan sama sekali.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ”kita” adalah pronomina persona pertama jamak, yang berbicara bersama dengan orang lain termasuk yang diajak bicara. Saya pakai kata ”kita” karena ini yang paling mendekati realitas sosiologis masyarakat lndonesia.

Menggambarkan pengakuan akan keberagaman, kebinekaan, pluralitas elemen bangsa ini. Sebuah anugerah Tuhan yang luar biasa. Sebenarnya pemakaian judul esai ini berangkat dari kegalauan saya pada momentum hari ulang tahun ke-75 kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 2020, beberapa hari lalu.

Peristiwa sejarah yang bisa menjadi momentum merajut dan menjunjung tinggi ikatan keindonesiaan, tapi di lini masa media sosial diwarnai perdebatan beraroma segregasi beragama dan ras. Isu berawal dari sebagian orang yang mempertanyakan simbol peringatan ulan tahun kemerdekaan Indonesia yang dipersepsikan mirip simbol agama tertentu.

Ada video yang memperlihatkan sekelompok  orang yang mengecat dengan tinta merah simbol ulang tahun ke-75 kemerdekaan Indonedis pada sebuah spanduk. Pengecatan untuk menghilangkan kesan simbol agama tertentu. Saya tidak ingin berdebat apakah simbol itu mirip atau tidak dengan simbol sebuah agama.

Saya tidak tahu apakah simbol itu dibuat sengaja ”dimirip-miripkan” atau tidak.  Entahlah.  Faktanya kasus ini menjadi perdebatan panjang di media sosial. Terlebih lagi di media sosial muncul simbol ”tandingan” ulang tahun kemerdekaan  Indonesia  yang secara nyata menampilkan simbol agama lain.

Perasaan Kelompok

Peringatan kemerdekaan Indonesia yang semestinya menjadi perekat perasaan keindonesiaan malah menjadi arena makin menguatnya perasaan in-group (perasaan kelompok). Bahkan, menjadi arena pertarungan simbol berbau agama di ruang publik.  Sungguh situasi yang menyesakkan dada di tengah situasi berat akibat pandemi Covid-19 ini.

Pesan moralnya adalah semua perlu berhati-hati membikin simbol, apalagi simbol yang ingin menyampaikan pesan kebangsaan dan keindonesiaan. Suka tidak suka, banyak orang yang punya daya imajinasi “tidak biasa” saat menafsirkan sebuah simbol.

Ini realitas sosiologis yang perlu dibaca. Stok orang-orang seperti ini masih melimpah di masyarakat Indonesia. Mereka akan selalu muncul saat menemukan momentum. Belum reda soal kontroversi simbol ulang tahun kemerdekaan Indonesia, di media media sosial ramai lagi soal gambar pada uang pecahan Rp75.000 yang baru saja diluncurkan.

Gambar itu dipersepsikan mirip baju adat Tionghoa. Lagi-lagi bikin heboh di media sosial. Meski sudah dibantah bahwa baju dalam pecahan uang itu  adalah baju adat Tidung, Kalimantan Utara, tapi masih saja ada orang yang tidak peduli dengan fakta tersebut.

Uang baru yang sengaja diluncurkan untuk memperingati hari ulang tahun ke-75 kemerdekaan Indonesia yang menggambarkan keberagaman justru dipersepsikan sebaliknya karena sentimen terhadap ras tertentu. Berat memang untuk mewujudkan ikatan keindonesiaan pada momentum ulang tahun Republik Indonesia.

Rasa keindonesiaan belum menjadi bagian dari hidup. Dalam perspektif sosiologi pengetahuan Peter L. Berger, sesungguhnya keberagaman, pengakuan akan semua, merupakan hasil eksternalisasi atau curahan subjektif melalui berbagai dialektika para pendiri bangsa.

Dialog antara pemikiran dengan kenyataan Indonesia. Lalu berlanjut pada proses objektivikasi melalui kesepakatan bersama. Pancasila merupakan puncak objektivikasi para pendiri bangsa sebagai nilai-nilai keindonesiaan.

Siapa pun kita semestinya menginternalisasi Pancasila dalam kesadaran subjektif saat berinteraksi dalam masyarakat. Bahwa tafsir atas keindonesiaan bersifat dinamis adalah keniscayaan, tapi tak bisa dibenarkan pula orang menggugat nilai-nilai keindonesia melalui berbagai wacana dan perilaku.

Ini seperti mengulang dari awal proses eksternalisasi ideologis untuk menggantikan kenyataan objektif keindonesiaan. Sayangnya kaum elite juga tidak menunjukkan keteladanan dalam mempraktikkan nilai-nilai keindonesiaan.

Tidak secara sungguh-sungguh memikirkan kepentingan Indonesia, kecuali hanya dalam wacana. Mereka (kadang-kadang) berbicara universalitas, tapi justru bertindak partikular. Dalam masyarakat yang tengah ”sakit”, menengok kembali nilai-nilai kesadaran untuk semua menjadi hal strategis.

Kesadaran bahwa sesungguhnya Indonesia ini untuk kita, bukan untuk saya, bukan untuk kamu, dan bukan untuk mereka. Indonesia juga bukan (hanya) untuk anak dan menantu. Itu saja.


Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com


berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini