Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Sejarah Wonorejo Sukoharjo, Desa Pelosok Kediaman Guru Ngaji PB IV

Desa Wonorejo, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, konon kabarnya telah ada sejak masa pemerintahan Raja Ketiga Keraton Kasunanan Surakarta, Sri Susuhunan Paku Buwana (PB) IV atau yang kerap disapa Sunan Bagus.
SHARE
Sejarah Wonorejo Sukoharjo, Desa Pelosok Kediaman Guru Ngaji PB IV
SOLOPOS.COM - Warga melintas di Gapura Masuk Desa Wonorejo, Polokarto, Sukoharjo, foto diambil Sabtu (13/8/2022). (Solopos.com/Magdalena Naviriana Putri).

Solopos.com, SUKOHARJO – Desa Wonorejo, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, konon kabarnya telah ada sejak masa pemerintahan Raja Ketiga Keraton Kasunanan Surakarta, Sri Susuhunan Paku Buwana (PB) IV atau yang kerap disapa Sunan Bagus.

Kepala Desa Wonorejo, Yusuf Aziz Rahma mengatakan pengakuan asal usul berdasarkan trah tersebut telah mendapatkan pengesahan dari Keraton Surakarta dan juga Keraton Yogyakarta.

PromosiDaihatsu Rocky, Mobil Harga Rp200 Jutaan Jadi Cuma Rp99.000

“Pengesahan pada tanggal 1 Muharam 1400 H atau tanggal 31 November 1979, sesuai dengan dokumen Trah Kyai Imam Syuhodo tersebut,” jelas Yusuf.

“[Asale] Dukuh Wonorejo berawal sejak Pemerintahan Keraton Surakarta pada masa Sri Susuhunan PB IV bertakhta, diperkirakan pada tahun 1785 M,” jelasnya saat dihubungi dalam kegiatan studi bandingnya di Malang, Sabtu (13/8/2022).

Pengesahan Wonorejo tersebut menurutnya dilakukan oleh Trah Sri Susuhunan PB IV Surakarta yang diwakili oleh Raden Mas (RM) Rio Yosodipuro. Sementara itu, KRT Danidiningrat, mewakili Keraton Yogyakarta sebagai Tepas Darah Dalem Keraton Yogyakarta.

Baca juga: ASAL ASUL : Asale: Mata Air yang Ditutup dengan Kepala Kambing

Sebagai tambahan informasi Tepas Darah Dalem Keraton Yogyakarta memiliki tugas mengurus silsilah asal-usul keluarga atau Serat Kekancingan (sertifikat) yang dikeluarkan dari Keraton Yogyakarta.

Sinuhun PB IV memberi nama Wonorejo, yang berasal dari kata Wono berarti hutan dan Rejo berarti ramai. Sinuhun PB IV memberikan nama itu bukan tanpa sebab. Mengingat dulunya wilayah tersebut adalah hutan dan akhirnya menjadi ramai.

Kyai Imam Syuhodo Apil Quran sebagai abdi dalem dan menjabat sebagai Wedono Perdikan dianugerahi nama Raden Ngabehi Imam Syuhodo I, selanjutnya menjadi sesepuh dan pimpinan Dukuh Wonorejo.

Konon kabarnya pendiri Dukuh Wonorejo ialah Kyai Imam Syuhodo Apil Quran. Menurut Kepala Desa yang di sapa Aziz itu, Kyai Imam Syuhodo diangkat menjadi Wedono Perdikan dari Sinuhun PB IV dan dianugerahi Tanah Honggobayan yang masih berwujud hutan.

Tanah itu dikabarkan berbatasan dengan Tanah Sukowati dan Tanah Keduang. Kyai Imam Syuhodo diperintahkan untuk membuka hutan atau babat alas guna tempat tinggal.

Baca juga: Obsesi Desa Wonorejo Ingin Cetak Puluhan Wirausahawan Muda

Menurut cerita, dia juga diminta mendirikan pondok pesantren beserta dengan masjidnya. “Kyai Imam Syuhodo diangkat menjadi Ulama Keraton dan sebagai Guru Ngaji Sinuhun PB IV,” ujarnya.

Berdasarkan cerita, tempat dan pondok pesantren yang didirikan di Tanah Honggobayan kian hari kian bertambah banyak jumlah santrinya. Santri yang hadir berasal dari daerah Keraton Surakarta maupun dari luar keraton.

Melihat antusias tersebut, atas perkenaan Sinuhun PB IV masjid yang pada awalnya hanya kecil, dirubah menjadi besar dan dianugerahi perkakas masjid.

“Masjid Agung Wonorejo dibangun berloteng pada waktu Sinuhun PB IV belajar Al Quran kepada Kyai Imam Syuhodo. Sinuhun biasanya belajar di loteng Masjid,” jelasnya.

“Penyusunan wulangreh atau Serat Wulangreh yang ditulis PB IV juga di Masjid Wonorejo,” jelas Aziz lagi.

Baca juga: Kisah Nama Desa Sama di Karanganyar: Sama-Sama Wonorejo, tapi Jaraknya 53 Km

Aziz menambahkan riwayat itu bersumber dari dokumentasi para sesepuh warga Desa Wonorejo yang tergabung dalam Trah Kyai Imam Syuhodo Wonorejo. Aziz berharap ke depan Wonorejo menjadi desa yang religius dan berbudaya.

“Dengan sejarah Islam dan budaya yang kuat di Desa Wonorejo. Maka saat ini saya berharap Wonorejo menjadi desa yang religius dan berbudaya,” harapnya.

Sementara itu berdasarkan sumber lain, Pengajar Pondok Pesantren Imam Syuhodo Blimbing Sukoharjo, Ninin Karlina mengatakan hampir 98% warga di Desa Wonorejo beragama Islam.

“Sini [Wonorejo] 100% muslim dan 98% Muhammadiyah. Ada Kristen satu atau dua orang itu pun baru-baru ini dan pendatang dari Bali kayaknya,” jelasnya, Sabtu.

Dia menambahkan asal usul Desa Wonorejo diawali oleh seorang Kyai Imam Syuhodo yang di kenal dengan julukan Kyai Apil Quran. Istilah nama tersebut diberikan oleh PB IV karena Kyai Imam Syuhodo dianggap sebagai kyai yang hafal Al-Qur’an.

Baca juga: Polokarto Sukoharjo Gelar Expo UMKM, Ini Rangkaian Acaranya

Kyai Imam Syuhodo juga dikatakan telah mendirikan masjid dan pesantren sekitar abad ke 17. Menurutnya, keberadaan masjid dan pesantren tersebut membuat keturunan dan masyarakat Wonorejo mengenal agama Islam sejak lahir.

Sementara sejarah berdirinya Muhammadiyah di Desa Wonorejo terinspirasi peristiwa dibubarkannya madrasah yang dimotori oleh tokoh-tokoh muda Desa Wonorejo di masjid Agung Wonorejo oleh pemerintah kolonial Belanda.

Pada waktu itu, sekitar tahun 1925 tokoh-tokoh muda Islam Desa Wonorejo mendirikan kegiatan madrasah yang bertempat di Masjid Agung Wonorejo.

Namun pengajian tersebut tidak bertahan lama karena baru berjalan selama tiga bulan telah diketahui oleh pemerintah kolonial Belanda dan kemudian dibubarkan.

Baca juga: Begini Kegiatan Pemuda Dusun Kauman, Jatisobo, Polokarto Sukoharjo



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode