Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Sejarah Stadion Kanjuruhan Malang, Saksi Bisu Tragedi yang Tewaskan 130 Orang

Ini perjalanan Stadion Kanjuruhan yang menemani Arema Malang dalam berlaga hingga terjadinya tragedi Kanjuruhan.
SHARE
Sejarah Stadion Kanjuruhan Malang, Saksi Bisu Tragedi yang Tewaskan 130 Orang
SOLOPOS.COM - Stadion Kanjuruhan Malang. (Istimewa/kanjuruhan.weebly.com/)

Solopos.com, MALANG — Sejarah pilu di dunia persepak bolaan Indonesia terjadi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa timur. Bahkan, disebut-sebut tragedi yang terjadi pada Sabtu (1/10/2022) malam menjadi kerusuhan di stadion sepak bola terbesar kedua di dunia.

Dalam tragedi tersebut, hingga Minggu (2/10/2022) sore, ada 130 orang yang dinyatakan meninggal dunia. Sedangkan sebanyak 180 orang mengalami luka-luka dan kini masih menjalani perawatan di rumah sakit.

PromosiAngkringan Omah Semar Solo: Spot Nongkrong Unik Punya Menu Wedang Jokowi

Tragedi dengan korban jiwa yang mencapai 130 orang itu terjadi di Stadion Kanjuruhan. Stadion ini terletak di Jalan Trunojoyo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang.

Stadion Kanjuruhan ini dibangun sejak tahun 1997 dan menelan biaya mencapai Rp35 miliar. Stadion berkapasitas 45.000 orang ini diresmikan pada 9 Juni 2004 oleh Presiden Megawati Soekarnoputri.

Baca Juga: Bertambah! Total Korban Meninggal Tragedi Kanjuruhan Malang Jadi 130 Orang

Dikutip dari kanjuruhan.weebly.com, Minggu, setelah diresmikan stadion ini langsung menggelar pertandingan kompetisi Divisi I Liga Pertamina tahun 2004 antara Arema Malang melawan PSS Sleman. Saat itu, laga tersebut dimenangkan Arema Malang dengan skor 1-0.

Laga tersebut menjadi pertanda Arema dan Aremania pindah dari kandang lama Stadion Gajayana, Kota Malang ke Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang. Sejak kepindahannya itu, klub sepak bola kesayangan warga Malang itu mengalami berbagai cerita keberuntungan dan kemalangan.

Stadion ini juga menjadi saksi bisu bahwa Arema pernah menggapai mahkota Copa Indonesia 2005 dan 2006. Sebelum babak final di dua edisi Piala Indonesia itu, Areama meraih kemenangan-kemenangan penting di Stadion Kanjuruhan sehingga mengantarkannya kepada pertempuran di partai puncak hingga mengangkat trofi juara dua kali berturut-turut.

Baca Juga: Lima Warga Blitar Meninggal dalam Tragedi Kanjuruhan Malang, Ini Identitasnya

Di stadion ini, Aremania juga pernah meraih predikat The Best Suporter di ajang Copa Indonesia 2006.

Bukan hanya itu, prestasi Arema di Stadion Kanjuruhan ini juga moncer pada kompetisi kasta tertinggi Indonesia Super League (ISL) 2009-2010 dengan meraih kampiun. Saat itu, upacara penobatan juara digelar lewat laga Perang Bintang antara Arema melawan Tim All-Star, yakni gabungan 22 pemain yang bermain di ISL pada 6 Juni 2010. Pada laga itu, Arema selaku juara ISL harus takluk dengan skor tipis 4-5.

Saat itu, kiper Arema, Kurnia Meiga Hermansyah diganjar sebagai Pemain Terbaik ISL 2009-2010 di Stadion Kanjuruhan. Selain itu, pada 2010, Panpel Arema juga mendapatkan gelar Panpel Terbaik dalam ISL 2009-2010.

Stadion Kanjuruhan ini juga sempat menjadi stadion yang “angker” ditinggal para “penghuninya” di ISL musim 2011-2012 karena ada dualisme klub Arema.

Baca Juga: Pemprov Jatim Tanggung Seluruh Biaya Perawatan Korban Tragedi Kanjuruhan

Pada 2014, stadion ini menambah satu tribun yakni tribun berdiri. Tribun ini berada di sekeliling sentelban dengan pagar yang memisahkan tribuan dengan lapangan. Penambahan tribun ini praktis menambah kapasitas stadion menjadi benar-benar mencapai 45.000 penonton.




Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode