Sejarah Sengon Sukoharjo, Kampung Penggembala Gajah Keraton Solo

Secara administratif, wilayah Kampung Sengon berbatasan langsung dengan Kelurahan Gayam dan Kelurahan Joho di Kecamatan Sukoharjo.
SHARE
Sejarah Sengon Sukoharjo, Kampung Penggembala Gajah Keraton Solo
SOLOPOS.COM - Kendaraan bermotor melewati gapura Kampung Sengon, Kelurahan Begajah, Kecamatan Sukoharjo, Sabtu (14/5/2022). (Solopos-Bony Eko Wicaksono)

Solopos.com, SUKOHARJO — Sejarah atau asal usul berdirinya Kampung Sengon di Kelurahan Begajah, Kecamatan Sukoharjo, Sukoharjo, erat hubungannya dengan Keraton Solo. Secara administratif, wilayah Kampung Sengon berbatasan langsung dengan Kelurahan Gayam dan Kelurahan Joho di Kecamatan Sukoharjo.

Lokasi Kampung Sengon kini tak jauh dari pusat kota Sukoharjo tepatnya di sisi selatan Terminal Sukoharjo. Di balik perkembangan pesat wilayah itu, Kampung Sengon mempunyai catatan sejarah yang cukup menarik.

PromosiTop! Bos Tokopedia Masuk List Most Extraordinary Women Business Leader

Seorang sesepuh di Kelurahan Begajah, Sutikno, mengatakan nama Kampung Sengon berasal dari Bahasa Jawa yakni sing angon yang bermakna orang yang menggembala hewan. Di Kelurahan Begajah sendiri terdapat kuburan gajah yang menjadi hewan peliharaan kerabat Keraton Solo.

Dahulu kala saat hendak menempuh perjalanan jarak jauh, uungkap dia, kerabat Keraton Solo menunggang gajah menuju lokasi tujuan. Beberapa ekor gajah dipelihara di lahan terbuka yang dikelilingi rimbunnya pepohonan.

Para kerabat Keraton Solo memberi makan dan minum gajah di kandangnya. “Gajah-gajah itu dirawat setiap hari. Diberi makan dan minum pada pagi hari dan sore hari. Konon, kerabat Keraton Solo menugaskan khusus beberapa pekerja untuk merawat gajah,” kata Sutikno berbincang dengan Solopos.com, Sabtu (14/5/2022).

Baca juga: 2 Pengendara Terpental, Ini Kronologi Laka Maut di Nguter Sukoharjo

Para pekerja yang bertugas khusus merawat dan memelihara gajah menetap tak jauh dari kandang gajah. Mereka membangun beberapa rumah yang digunakan untuk beristirahat setelah bekerja seharian di kandang gajah. Biasanya, mereka membersihkan kandang gajah sebelum pulang ke rumah.

“Gajah merupakan hewan yang kuat dan bertubuh besar. Bisa mengangkut barang bawaan dalam jumlah banyak menuju lokasi tujuan. Walaupun tidak secepat kuda atau binatang lainnya,” papar dia.

Saat gajah hendak ditunggangi kerabat Keraton Solo, mereka harus memastikan gajah dalam kondisi prima. Hal ini dilakukan lantaran gajah berjalan belasan kilometer hingga puluhan kilometer menuju lokasi tujuan.

Baca juga: Geger! Pria Diduga Pencuri Ditemukan Meninggal di Swalayan Sukoharjo

Lambat laun, banyak masyarakat yang juga menetap di Kampung Sengon di Kelurahan Begajah. Selain lokasinya strategis, wilayah itu tak jauh dari Sungai Bengawan Solo yang menjadi sumber air utama masyarakat. Masyarakat yang bercocok tanam mengambil air dari sungai untuk mengairi lahan pertanian.

Gajah-gajah yang dipelihara kemudian mati satu persatu. Namun, belum ada yang memastikan penyebab matinya gajah-gajah tersebut. “Gajah-gajah itu dikuburkan di sekitar lokasi kandang. Makamnya masih ada di tengah permukiman penduduk. Namun, saya tidak tahu secara persis siapa yang membuat makam gajah,” papar dia.

Disinggung nasib para pekerja yang bertugas memelihara gajah, cerita rakyat yang beredar di Kampung Sengon, mereka berpindah ke lokasi lain. Rumah para pekerja itu menjadi cikal bakal penanda bagi Kampung Sengon di Kelurahan Begajah.

Baca juga: Menang Lelang, PT Ini Punya Waktu 7 Bulan Bangun GOR di Gayam Sukoharjo

 



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago