[x] close
top ear
Tundjung W. Sutirto
tunjung_ws@yahoo.co.id
Pemerhati budaya
Dosen Ilmu Sejarah
di Universitas Sebelas Maret
  • SOLOPOS.COM
    Tundjung W. Sutirto tunjung_ws@yahoo.co.id Pemerhati budaya Dosen Ilmu Sejarah di Universitas Sebelas Maret

Sejarah Pilkada Solo Dikuasai Cawali Dari Utara, Ini Penyebabnya Menurut Pemerhati Budaya

Pemerhati budaya dari UNS Solo memberikan pandangannya mengenai tren sejarah Pilkada Solo yang dikuasai kandidat yang berasal dari wilayah utara.
Diterbitkan Minggu, 5/07/2020 - 18:45 WIB
oleh Solopos.com/Kurniawan
3 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Pemerhati budaya dari UNS Solo, Tunjung W Sutirta, menyatakan tidak ada fakta tertulis yang bisa menjelaskan kenapa sejarah Pilkada Solo dikuasai cawali dari wilayah utara.

Namun, dilihat dari sejarah munculnya dikotomi Solo utara dan selatan, bisa dipahami masyarakat di wilayah utara memang lebih dinamis secara politik. Tunjung menjelaskan dikotomi antara wilayah utara dan selatan Solo sebenarnya bukan mengacu kepada Jl Slamet Riyadi.

Dikotomi itu mengacu pada rel kereta api yang membelah Kota Bengawan. Rel itu melintang Jl Slamet Riyadi di Kelurahan Purwosari, Laweyan. Selanjutnya rel yang dibangun pada masa kolonial Belanda itu sejajar dengan Jl Slamet Riyadi ke arah timur.

Sebelum Meninggal Saat Latihan Silat, Remaja Gatak Sukoharjo Minta Dibuatkan Jus Daun Pepaya

Keberadaan rel itu seolah memisahkan antara wilayah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dengan Mangkunegaran. Sebelumnya diberitakan, fakta sejarah Pilkada Solo dikuasai cawali dari utara Jl Slamet Riyadi menjadi alasan pengurus Ranting PDIP Kelurahan Pajang, Laweyan, beralih mendukung Gibran Rakabuming Raka.

Gibran yang merupakan putra Presiden Joko Widodo itu tinggal di wilayah utara yakni Kelurahan Sumber, Banjarsari, Solo. Alasan lainnya yakni pernyataan Achmad Purnomo, cawali yang diusulkan DPC PDIP Solo, mundur dari pencalonan pada April lalu.

Tradisi Agung Keraton

Tunjung W Sutirta mengatakan dikotomi Solo utara dan selatan yang berkembang yakni wilayah Keraton Kasunanan atau kidulan mewakili tradisi agung keraton. Sedangkan wilayah utara mewakili kelompok yang secara kultur muncul untuk meng-counter tradisi agung yang lahir dari wilayah keraton.

Pasien Positif Covid-19 Indonesia Tambah 1.607 Jadi 63.749 Kasus, Sembuh Capai 29.105 Orang

“Masyarakat di utara rel itu menjadi satu masyarakat yang secara kultur muncul untuk meng-counter tradisi agung itu. Representasi dalam politik kontemporer, banyak orang dari wilayah utara dinamis secara politik,” ujar dia kepada Solopos.com, Minggu (5/7/2020).

Hal ini menjelaskan kenapa masyarakat di wilayah utara rel KA tengah kota itu menurut sejarah dinamis secara politik dan menguasai Pilkada Solo. Menurut Tunjung, dalam suatu kebudayaan biasanya ada tradisi yang bersifat counter atas kebudayaan yang dilahirkan.

Dia mencontohkan dalam penamaan makanan di mana komunitas kerajaan selalu memakai nama yang indah. Sedangkan komunitas masyarakat yang jauh dari wilayah kerajaan biasanya memakai nama yang kasar.

Besarkan Sapi Hingga 1,2 Ton, Petani Mojosongo Boyolali Ini Habiskan Rp60.000/Hari Untuk Pakan 

Dalam konteks politik kontemporer, kondisi itu menginspirasi dan mendinamisasi warga utara rel untuk bisa tampil lebih dominan. “Dikotomi itu sejak zaman kolonial dengan adanya rel yang membelah tengah kota. Sebagai simbol memecah secara kultur, tidak hanya ekonomi dan transportasi. Ini budaya yang hidup, diwariskan, menjadi semacam mitos,” imbuh dia.

Banyak Pengusaha dan Politikus di Utara

Penuturan senada disampaikan aktivis muda Solo, Aldegar Abialdo Khrisma Murti. Dia menilai dominasi warga utara Jl Slamet Riyadi dalam sejarah Pilkada Solo serta pada jabatan pemimpin tidak ada kaitannya dengan hal gaib.

Dominannya figur-figur dari utara terhadap warga di selatan dikarenakan kondisi banyaknya figur pengusaha dan politikus di wilayah utara. “Jangan dikaitkan gaib. Itu terjadi karena tokoh politik lebih banyak di utara,” kata dia.

Kasus Positif Covid-19 Colomadu dari Klaster Pemudik Tambah 1

Dalam catatan Solopos.com, Wali Kota Solo sejak 1995 dijabat figur yang berasal dari utara Jl Slamet Riyadi. Dimulai dari Wali Kota Solo periode 1995-2000 yang dijabat Imam Sutopo, dilanjutkan Slamet Suryanto periode 2000-2005.

Tradisi orang utara memimpin berlanjut di masa pilkada langsung di mana Joko Widodo (Jokowi) dan FX Hadi Rudyatmo juga berasal dari utara Jl Slamet Riyadi. Akankah Wali Kota Solo 2021 juga dari utara?


Editor : Profile Suharsih
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini