Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Sejarah Nusantara yang Jadi Nama Ibu Kota Baru Indonesia

Inilah asal usul sejarah Nusantara, nama yang dipakai untuk Ibu Kota Baru Indonesia di Kalimantan.
SHARE
Sejarah Nusantara yang Jadi Nama Ibu Kota Baru Indonesia
SOLOPOS.COM - Konsep kota dengan emisi karbon rendah yang akan diwujudkan di IKN Nusantara di Provinsi Kalimantan Timur. (ikn.go.id)

Solopos.com, SOLO – Nusantara menjadi nama yang dipilih untuk Ibu Kota baru Indonesia di Kalimantan. Asal usul nama Nusantara memiliki sejarah yang panjang.

Dihimpun dari berbagai sumber, Minggu (6/3/2022), istilah tersebut kali pertama ditemukan dalam kitab Negarakertagama karya Empu Prapanca. Istilah ini berasal dari bahasa Jawa kuno, Nusa yang berarti pulau dan Antara yang bermakna terluar.

PromosiRekomendasi Merek Jeans Terbaik Pria & Wanita, Murah Banget!

Penggunaan Nusantara merujuk pada konsep kenegaraan Majapahit yang mencakup sejumlah kepulauan di wilayah Asia Tenggara. Dikutip dari artikel jurnal bertajuk Hubungan Internasional Kuno Indonesia, asal usul Nusantara kali pertama tercatat dalam literatur Jawa Pertengahan, sekitar abad ke-12 hingga abad ke-16 Masehi.

Baca juga: Impian Berbeda tentang Ibu Kota Nusantara

Sumpah Palapa

Kala itu Nusantara dipakai untuk menggambarkan konsep kenegaraan di Kerajaan Majapahit. Hal ini termuat dalam naskah Sumpah Palapa yang diucapkan Mahapatih Gadjah Mada.  Adapun isi Sumpah Palapa yang diucapkan pada 1336 itu sebagai berikut:

“Lamun huwus kalah Nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa.”

Artinya, “Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikian saya (baru akan) melepaskan puasa.”

Baca juga: Sejarah Maritim Sungai Bengawan Solo, Jalur Transportasi Vital pada Kejayaan Majapahit

Secara politis, kawasan Nusantara pada zaman kejayaan Majapahit meliputi gugusan pulau di antara benua Asia dan Australia, termasuk Semenanjung Malaya. Saat itu sebagian wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur kala itu justru tidak termasuk dalam istilah Nusantara.

Hal itu terjadi karena dulu ada tujuh kerajaan di Pulau Jawa yang telah berada di bawah pemerintahan Majapahit. Ketujuh kerajaan itu yakni Singasari, Daha, Kahuripan, Lasem, Matahun, Wengker, dan Pajang. Oleh seba  itulah kata Nusantara ini dimaksudkan untuk menyebut daerah di luar kekuasaan Majapahit yang hendak ditaklukkan.

Baca jugaa: Pati Masih Simpan Peninggalan Era Kejayaan Majapahit

Setelah Kerajaan Majapahit hancur, istilah Nusantara terlupakan. Istilah ini kembali digaungkan pada abad ke-20 oleh Pendiri Taman Siswa, Ki Hajar Dewantara.

Nusantara digunakan sebagai alternatif dari Nederlandsch Oost-Indie atau Hindia Belanda. Ketika “Indonesia” akhirnya ditetapkan sebagai nama politis bangsa yang baru pada Kongres Pemuda II (1928), istilah Nusantara tidak serta-merta ditinggalkan. Hingga kini, istilah Nusantara masih kerap digunakan sebagai padanan Indonesia.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode